Bertahun-tahun Tanpa Jembatan, Warga Numponi Bertaruh Nyawa Sebrangi Kali Setiap Hari
February 03, 2026 03:39 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota

POS-KUPANG.COM, BETUN - Bertahun-tahun lamanya, Kali Numponi di Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi ujian harian yang harus dilalui warga demi melanjutkan aktivitas hidup mereka.

Ketiadaan jembatan permanen hingga kini memaksa masyarakat untuk melintasi langsung aliran sungai, meski ancaman keselamatan terus membayangi setiap langkah.

Pantauan POS-KUPANG.COM di lokasi menunjukkan, warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak sekolah, petani, hingga masyarakat yang hendak mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan sebagainya terpaksa harus menyeberangi aliran sungai berbatu tanpa pengaman. 

Kendaraan roda dua maupun roda empat harus menerobos derasnya air sungai, sementara para siswa tampak berhati-hati agar tidak terpeleset saat bergegas menuju sekolah. Kondisi tersebut semakin berbahaya ketika hujan deras mengguyur wilayah itu. 

Debit air Kali Numponi kerap meningkat drastis dan berubah menjadi banjir, membuat lintasan yang sudah berisiko menjadi jauh lebih mengancam keselamatan. Bahkan, pasca putusnya jembatan itu di tahun 2021, kini telah tercatat adanya warga yang hanyut terseret arus.

Situasi memprihatinkan ini turut mendapat perhatian serius dari Ikatan Mahasiswa Kanokar Liurai Malaka (Itakanrai) Kupang. 

Baca juga: Dinas Pariwisata Malaka Hadirkan Wahana ATV, Pantai Cemara Abudenok Kian Menarik

Ketua Itakanrai Kupang, Jeridemtus Nana, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi yang sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi nyata.

“Sudah bertahun-tahun masyarakat harus melewati kali ini secara langsung. Mau bagaimana lagi, ini satu-satunya akses di wilayah dapil yang dihuni lima kecamatan,” ujar Jeridemtus Nana, Selasa (3/2/2026).

Ia menegaskan, kebiasaan melintasi Kali Numponi bukan karena jalur tersebut aman, melainkan karena tidak adanya alternatif akses terdekat bagi warga Numponi untuk beraktivitas dan bepergian.

“Kalau hujan besar, banjir. Pasca putusnya jembatan sudah ada yang hanyut. Kita tidak menginginkan korban terus bertambah setiap tahun,” katanya.

Menurut Jerry, Kali Numponi merupakan jalur utama yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai kebutuhan vital.

Mulai dari akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga distribusi logistik, semuanya bergantung pada lintasan tersebut.

“Anak sekolah, orang sakit, semua lewat sini. Ini bukan jalan alternatif, ini jalan utama,” tegasnya.

Ketiadaan jembatan permanen di Kali Numponi pun memunculkan tanda tanya besar terkait komitmen pembangunan infrastruktur dasar di wilayah pedesaan. 

Jerry menilai, jika pembangunan benar-benar dimulai dari desa, maka jembatan tersebut seharusnya sudah lama dibangun.

“Kalau memang pembangunan dimulai dari desa, seharusnya jembatan ini sudah ada sejak lama,” tandasnya.

Ia pun mendesak agar pembangunan kembali jembatan Numponi menjadi agenda prioritas pemerintah, baik di tingkat daerah, Provinsi NTT, maupun pemerintah pusat. 

Menurutnya, jembatan tersebut memiliki fungsi vital sebagai jalur utama konektivitas antarwilayah serta penopang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.

“Itakanrai Kupang sebagai keterwakilan mahasiswa dapil tiga akan terus mendorong agar pembangunan jembatan di Koloweuk, Desa Numponi, mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat,” ujarnya menegaskan.

Meski berisiko tinggi, kondisi itu telah lama dianggap sebagai bagian dari keseharian warga karena tidak adanya pilihan lain. Namun, tanpa penanganan nyata, Kali Numponi akan terus menjadi ancaman senyap yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan masyarakat yang menggantungkan hidup pada satu-satunya akses tersebut. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.