Bangun Jembatan Darurat, Kades Golo Lajang - Golo Riwu Minta Pemda–DPRD Manggarai Barat Turun Tangan
February 03, 2026 07:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Inisiatif masyarakat membangun jembatan gantung secara swadaya di Kali Wae Songkang mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, dan Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat.

Namun di balik semangat gotong royong tersebut, para kepala desa berharap Pemerintah Daerah dan DPRD Manggarai Barat memberikan perhatian serius agar jembatan permanen segera dibangun.

Jembatan gantung darurat itu diperuntukkan bagi para pelajar Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, yang setiap hari harus menyeberangi Kali Wae Songkang untuk bersekolah di SDK Wetik dan SMP Negeri 1 Kuwus Barat.

Kepada TribunFlores.com, Senin (2/2/2026), Kepala Desa Golo Lajang, Fonsianus Jemadu, mengapresiasi solidaritas lintas pihak yang muncul setelah persoalan ini mendapat perhatian publik.

 

Baca juga: Demi Pendidikan Anak-anak, Warga Golo Lajang Manggarai Barat Bangun Jembatan Darurat Pakai Kayu 

 

 

Ia bahkan menyebut fenomena tersebut dengan istilah “No Viral, No Solidaritas.”

Menurutnya, persoalan akses penyeberangan Kali Wae Songkang sudah lama dirasakan masyarakat, khususnya terkait keselamatan anak-anak sekolah.

“Sejak awal, ini tidak dianggap sebagai masalah besar karena sudah menjadi kebiasaan warga menyeberang sungai. Tapi berkali-kali kami sampaikan melalui program desa, musyawarah desa hingga musyawarah kecamatan, kendalanya selalu soal keterbatasan anggaran,” jelasnya.

Fonsianus menegaskan bahwa ruas jalan yang menghubungkan Desa Golo Lajang dan Desa Golo Riwu merupakan jalan kabupaten, sehingga menjadi kewenangan pemerintah daerah.

“Mungkin dengan cara ini, pemerintah daerah bisa lebih fokus melihat langsung kondisi dan aktivitas yang terjadi hari ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Golo Riwu, Ignasius Didimus Loyola Mense, menyampaikan terima kasih kepada TNI dan Polri yang telah membantu masyarakat membangun jembatan darurat secara sukarela.

“Kami sangat berterima kasih kepada TNI–Polri dan seluruh warga yang telah meluangkan waktu untuk bergotong royong membangun jembatan ini,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Kades Edo itu menegaskan bahwa jembatan tersebut bukan sekadar akses penghubung, melainkan penentu masa depan anak-anak.

“Jembatan ini bukan hanya soal fisik, tetapi penghubung masa depan anak-anak sebagai generasi emas Indonesia,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa jembatan gantung yang dibangun secara swadaya tersebut bersifat sementara dan rawan rusak.

“Jembatan darurat ini tentu tidak akan bertahan lama. Kami sangat berharap DPRD Manggarai Barat segera menyuarakan dan mendorong agar pembangunan jembatan permanen dibahas dan diusulkan, baik ke Pemda, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Pusat,” ungkapnya.

Menurut Kades Edo, Kali Wae Songkang memiliki peran strategis karena menjadi penghubung dua kecamatan, yakni Kecamatan Kuwus Barat dan Kecamatan Pacar.

Selain itu, jalur tersebut berpotensi menjadi akses alternatif menuju Labuan Bajo melalui rute Simpang Wajur–Compang Kules–Wetik–Wae Songkang–Kesempatan–Tuwa–Lajang–Wunat–Noa.

Pembangunan jembatan gantung di Kali Wae Songkang saat ini menjadi simbol kepedulian masyarakat sekaligus pengingat kuat bagi para pemangku kebijakan akan pentingnya infrastruktur dasar demi keselamatan dan masa depan pendidikan anak-anak di pelosok Manggarai Barat. (moa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.