WARTAKOTALIVE.COM - Setelah sempat memanas dan mendapatkan jawaban tantangan dari Iran, kini Kapal Perang Amerika Serikat (AS) dikabarkan mundur menjauhi Iran.
Kapal Induk Abraham Lincoln milik Angkatan Laut AS disebut mundur 1.400 dari titik semula yang sempat menimbulkan ketegangan antara AS dan Iran.
Kapal tersebut mundur sejauh 1.400 km pada Selasa (3/2/2026) setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei muncul ke publik dan menjawab tantangan perang AS.
Khamenei mengaku bahwa Iran tidak akan memulai perang, namun tidak akan mundur apabila perang tersebut terpaksa harus terjadi.
Bahkan Khamenei berjanji akan menciptakan perang regional apabila AS berani masuk ke teritorial Iran.
Diketahui sejumlah pangkalan militer AS berada di timur tengah seperti di Qatar.
Pernyataan Khamenei ini muncul setelah AS mengirim kapal induk Abraham Lincoln ke lepas pantai Yaman selatan di tengah negosiasi nuklir Iran.
Iran melakukan negosiasi dengan AS untuk melanjutkan program nuklir damai. Iran berjanji nuklir tersebut digunakan untuk tenaga energi bersih bukan senjata.
Namun demikian Presiden AS Donald Trump kukuh bahwa Iran tidak boleh melanjutkan program nuklirnya.
Diplomasi yang buntu tersebut membuat AS mengerahkan kapal perangnya ke dekat perairan Iran.
Baca juga: Laksamana Muda Pastikan Iran Tak Segan Serang Israel Apabila AS Macam-macam
Menurut sumber tersebut, kelompok kapal induk AS yang didampingi oleh beberapa kapal perusak dan sebuah kapal selam pendukung saat ini ditempatkan di dekat Teluk Aden, sebelah timur Pulau Socotra di Yaman.
Penempatan ini menempatkan kelompok tersebut pada jarak sekitar 1.400 kilometer dari pelabuhan Chabahar di tenggara Iran.
Keputusan ini menunjukkan peningkatan jarak dari perairan pesisir Iran dibandingkan dengan posisi sebelumnya.
Pada saat yang sama, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran secara terbuka mengumumkan perubahan doktrin militer negara itu, dengan menyatakan bahwa mereka telah memasuki fase yang lebih ofensif.
Secara keseluruhan, perkembangan ini telah meningkatkan pengawasan internasional terhadap pergerakan militer dan sinyal strategis oleh aktor-aktor kunci di kawasan tersebut, seiring para analis menilai implikasinya terhadap stabilitas regional.