TRIBUNJATIM.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, inflasi year on year (y-on-y) di Kabupaten Jember, Jawa Timur sebesar 2,89 persen dengan indeks harga konsumen sebesar 109,74 pada Januari 2026.
Komoditas yang paling menonjol sebagai penyumbang inflasi tersebut, di antaranya tarif listrik, emas perhiasan, beras, sigaret kretek mesin (skm), bakso siap santap. Sebab sempat ada kenaikan harga.
"Kenapa secara tahunan mengalami inflasi? Karena Januari tahun lalu ada program diskon tarif listrik sebesar 51 persen dari pemerintah," ujarnya Ketua Statisi Ahli Muda BPS Jember Meri Vita, Selasa (3/2/2026).
Setelah potongan harga biaya listrik dicabut pemerintah, kata Meri, hal itu membuat tahun ini terbacanya ada kenaikan tarif pembayaran.
"Ada penurunan harga di tahun lalu, membuat terbacanya data ditahun ini ada kenaikan harga," kata Meri.
Namun kondisi tersebut tetolong dengan adanya penurunan harga, seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah dan daging ayam ras.
Meri menilai, komoditas ini membuat Jember deflasi secara bulanan sebesar 0,29 persen.
"Pada Desember 2025 kemarin harganya sempat naik, tetapi pada Januari tahun ini harga komoditas pertanian tersebut sudah mulai turun," ucapnya.
Baca juga: Satgas Pemkab Jember Tertibkan Reklame Nakal, Potensi Kerugian PAD Rp94,5 Juta
Baca juga: Tragedi Banjir Jember: Staf Kecamatan Panti Hanyut Saat Selamatkan Dokumen, SAR Sisir Sungai Badean
Menurutnya, komoditas yang perlu diwaspadai terjadi lonjakan harga ada beras, sebab masa panen padi Jember tidak serempak.
"Sebagian ada yang sudah musim panen, ada yang baru mulai tanam. Sehingga komoditas beras harus dijaga, dengan berkolaborasi dengan Bulog," ungkap Meri.
Kebijakan pemerintah menyerap gabah petani melalui Bulog, kata dia, sangat efektif untuk menjaga stabilitas harga beras di pasaran.
"Menjaga harga dari level petani maupun di konsumen agar tidak jatuh. Ketika masa paceklik, Bulog mengeluarkan pasokan di gudang penyimpanan dapat menekan harga di pasaran," papar Meri.