Ironi Bocah NTT Akhiri Hidup Karena Tak Bisa Beli Buku, Rocky Gerung: Ada yang Gak Beres di Republik
February 04, 2026 04:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Akademisi Rocky Gerung menyoroti kasus pilu seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur ( NTT) meninggal dunia dengan tragis.

Rocky tampak miris saat mengetahui latar belakang sang bocah berinisial YBS (10) tersebut mengakhiri hidupnya.

Diwartakan sebelumnya, YBS ditemukan tewas di dekat pohon cengkeh diduga karena mengakhiri hidup, Kamis (29/1/2026).

Sebelum meninggal dunia, YBS kabarnya sempat meminta uang sebesar Rp10 ribu ke sang ibu untuk membeli buku dan pena.

Tapi karena tak punya uang, sang ibu pun tak bisa memenuhi permintaan YBS.

Hingga akhirnya YBS merasa putus asa lalu mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1/2026).

Jasad YBS pertama kali ditemukan sang nenek yang baru pulang mandi dari kali sekira pukul 12.30 Wita.

Tanggapan Rocky Gerung

Kasus yang terjadi di NTT itu rupanya menyita perhatian Rocky Gerung.

Dalam acara seminar yang diadakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu, Rocky menanggapi kasus tersebut.

Rocky menangkap sinyal kepiluan dari korban yang ingin mengakhiri hidup karena nasibnya yang miris.

Rocky juga menyoroti surat yang ditulis korban sebelum meninggal dunia.

"Di NTT anak umur 10 tahun memilih bunuh diri untuk menyelamatkan hidup ibunya. Dia minta dibelikan buku, ibunya bilang tidak ada uang. Lalu dia memilih bunuh diri, satu tindakan republikanisme. (Korban) menulis surat pada ibunya 'ibu, saya pergi dulu. Ibu tidak perlu bersedih'," ungkap Rocky Gerung.

Lebih lanjut, Rocky mengaitkan kasus tewasnya bocah di NTT itu dengan kebijakan Presiden Prabowo.

"Harga buku itu berapa? Rp10 ribu. Rp10 ribu itu berapa per mil dari Rp17 triliun yang disumbangkan oleh Prabowo kepada Donald Trump?" tanya Rocky.

"Apakah Prabowo punya etos republikanisme? atau anak 10 tahun yang memilih secara rasional untuk bunuh diri? itu tindakan rasional yang sangat dewasa walaupun dengan konsekuensi dari segi psikologis," sambungnya.

Kata Rocky, kasus siswa SD mengakhiri hidup karena miskin itu adalah tanda bahwa ada kesalahan di negara ini.

"Tanpa ragu dia (korban) putuskan hidup saya harus saya hentikan supaya hidup ibu saya berlanjut, supaya hidup lima adiknya berlanjut, supaya hidup kecamatan itu berlanjut, supaya publik mengerti bahwa ada yang enggak beres dengan urusan (di) republik," pungkas Rocky.

Sosok korban

Nasibnya pilu hingga disorot Rocky Gerung, YBS nyatanya telah lama menjalani kehidupan penuh liku.

Bocah yang dikenal dengan nama Yohanes itu adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Yohanes tak tinggal bersama sang ibu dan saudaranya yang lain.

Sejak umur 1 tahun 7 bulan, YBS diasuh oleh neneknya.

YBS dan neneknya yang berusia 80 tahun tinggal di pondok sederhana tengah hutan yang berdindingkan bambu.

Untuk menghidupi ia dan sang nenek, YBS berjualan sayuran, ubi, dan kayu bakar.

Hal itu dilakukan YBS tiap pulang sekolah.

Demi bisa makan, YBS mengandalkan hasil kebun yakni pisang hingga ubi untuk disantap.

Sementara ia mencari uang dengan berjualan, nasib ibunda YBS tak kalah pilu.

Ibunda YBS, Maria Goreti Te'a harus menghidupi empat anaknya dengan menjadi petani.

Sejak 11 tahun lalu, Maria ditinggal sang suami, ayah kelima anaknya.

Baca juga: Pengakuan Ibu Kandung Siswa SD yang Tewas di Ngada NTT, Dikira Sekolah Malah Dapat Kabar Duka

Awalnya ayah YBS izin untuk merantau ke Kalimantan.

Namun hingga kini ayah YBS tak pernah kembali.

Berdasarkan keterangan warga, keluarga YBS selama ini tak pernah dapat bantuan dari pemerintah.

Karenanya usai kasus kematian YBS viral, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo langsung mendatangi rumah korban.

Gerardus Reo segera mengurus administrasi keluarga YBS guna mendapatkan bantuan.

“Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo, meski sudah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo. Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai," ungkap Gerardus Reo.

Catatan redaksi:

Kendati demikian, depresi bukanlah persoalan sepele.

Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh.

Jika semakin parah, disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

LSM Jangan Bunuh Diri adalah Lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.

Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bahwa bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa.

Jika kalian mempunyai tendesi untuk bunuh diri atau butuh teman curhat, kalian dapat menghubungi kontak di bawah ini:

LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293)

Atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.