Sosok MenPPA Arifatul Choiri, Habis Dikritik DPR Imbas Tewasnya Anak SD di Ngada Tak Mampu Beli Buku
February 04, 2026 04:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menjadi sorotan publik setelah mendapat kritik tajam dari anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ina Ammania.

Kritik itu mencuat menyusul peristiwa tragis meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ina menilai negara, termasuk Kementerian PPPA, belum maksimal melindungi anak-anak rentan.

“Artinya KemenPPPA gagal menjamin perlindungan terhadap anak,” ujar Ina Ammania, Rabu (4/2/2026).

Ia menegaskan, kematian bocah berinisial YBS (10) seharusnya bisa dicegah jika negara hadir menjamin hak dasar anak, termasuk akses pendidikan.

Baca juga: Prabowo Serukan Pakai Genteng, Warga Jambi Sebut Seng Lebih Awet

Baca juga: Istrinya Sendiri Nekat Dibunuh, Pelaku Sempat Bohong dan Sebut Korban Jatuh dari Motor

Anak SD Ditemukan Meninggal

Peristiwa memilukan itu terjadi di Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Kamis (29/1/2026).

Korban yang duduk di bangku kelas IV SD ditemukan meninggal dunia di area kebun tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya.

Kapolres Ngada melalui Kasi Humas Ipda Benediktus R. Pissort membenarkan kejadian tersebut. Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan keterangan saksi.

Dari hasil penyelidikan awal, korban diduga mengakhiri hidupnya. Di lokasi juga ditemukan secarik kertas berisi pesan perpisahan yang diduga ditulis korban untuk ibunya.

Korban diketahui tinggal terpisah dari sang ibu yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan demi menghidupi lima anak. Beberapa waktu terakhir, korban disebut meminta uang untuk membeli perlengkapan sekolah, namun keluarga sedang dalam kondisi kesulitan ekonomi.

DPR: Ini Alarm Keras untuk Negara

Ina Ammania menilai tragedi ini sebagai sinyal darurat bagi negara.

Menurutnya, anggaran pendidikan yang besar seharusnya mampu memastikan tidak ada anak yang kesulitan memperoleh perlengkapan sekolah dasar.

“Apakah buku dan pena itu terlalu mahal sehingga negara tidak bisa hadir? Ini kelalaian negara,” tegas Ina.

Ia juga menyinggung peran Kementerian PPPA yang dinilai belum efektif menjangkau anak-anak dalam situasi rentan di daerah.

Ina mengingatkan, Kabupaten Ngada sebelumnya juga sempat menjadi sorotan nasional terkait kasus kekerasan terhadap anak.

“Seharusnya ada langkah pencegahan yang lebih konkret. Jangan sampai peristiwa serupa terulang,” katanya.
 
Profil Singkat MenPPPA Arifatul Choiri Fauzi

Arifatul Choiri Fauzi dikenal sebagai tokoh perempuan dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Ia lahir di Madura, 28 Juli 1969.

Sebelum menjadi Menteri PPPA di Kabinet Prabowo–Gibran, Arifatul aktif di berbagai organisasi perempuan dan keagamaan, antara lain:

Sekretaris Umum PP Muslimat NU

Aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Pernah menjadi Wakil Ketua TKN Prabowo–Gibran pada Pilpres 2024

Ia menempuh pendidikan di IAIN Yogyakarta dan meraih gelar Magister Komunikasi dari Universitas Indonesia.

Di bidang profesional, Arifatul juga dikenal sebagai produser program religi televisi serta aktif dalam kegiatan seni budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Kini, publik menanti langkah konkret Kementerian PPPA dalam memperkuat sistem perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di daerah terpencil.

 Polisi Masih Dalami Kasus

Pihak kepolisian menyatakan proses penyelidikan masih berjalan. Polisi juga mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi psikologis anak.

“Peran keluarga dan lingkungan sangat penting. Jika ada tanda-tanda anak mengalami tekanan berat, segera cari pendampingan,” ujar Ipda Benediktus.

Tulis Pesan Untuk Ibu

Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda.  

Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih.

Surat untuk Mama

Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa). 

Kertas Ti'i Mama Reti"

Mama galo Ze'e

Mama Molo, Galo Ja'o Mata, Mama  Ma'e Rita ee Mama

Mamo Galo Ja'o Mata, Ma'e Woe Rita Ne Gae Nga'o ee

MOLO MAMA

Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:

kertas untuk mama Reti

Mama terlalu kikir (pelit)

Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama. 

Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. 

Baik sudah mama atau selamat tinggal mama.

Layanan konseling pencegahan bunuh diri

Jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. 

Anda tidak sendiri. 

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. 

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini: 

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.