- Tragedi pilu menimpa seorang siswa SD kelas IV di Kabupaten Ngada, NTT, berinisial YBS (10) yang nekat mengakhiri hidupnya.
Bocah tersebut diduga putus asa karena kondisi ekonomi keluarganya yang tidak mampu membelikan buku tulis dan pena untuk sekolah.
Peristiwa ini bermula saat YBS meminta uang kurang dari Rp10.000 kepada ibunya, namun sang ibu menjawab sedang tidak memiliki uang sama sekali.
Ibu korban merupakan seorang janda yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan demi menafkahi lima orang anaknya.
Menanggapi hal ini, pengamat politik Rocky Gerung memberikan kritik tajam dan menyebut peristiwa ini sebagai bukti nyata adanya disparitas sosial.
Rocky menilai sangat ironis ketika negara berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi tinggi, namun hak dasar anak seperti buku tulis tidak terjamin.
Ia menegaskan bahwa buku tulis adalah instrumen penting bagi anak untuk menjadi pemimpin masa depan yang seharusnya disediakan oleh negara.
Kasus tragis ini diharapkan menjadi alarm keras bagi pemerintah dalam mengutamakan akses pendidikan layak bagi warga kurang mampu.
Layanan konseling pencegahan bunuh diri: Jangan menyerah, Anda tidak sendiri. Kunjungi website Into the Light Indonesia untuk bantuan profesional.