TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso – Presiden Prabowo Subianto menyerukan penerapan program gentengisasi dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tahun 2026, Senin (2/2/2026). Program tersebut merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang mendorong penggunaan atap genteng sebagai pengganti seng.
Seruan itu disambut positif oleh para pengusaha genteng di Bondowoso. Namun, mereka berharap kebijakan tersebut tidak hanya diterapkan pada rumah tinggal masyarakat, melainkan juga pada proyek strategis nasional, termasuk pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Baca juga: 6 Desa di Bondowoso Terkendala Lahan untuk Gerai Koperasi Merah Putih
Harapan itu muncul setelah diketahui salah satu bangunan gerai KDMP yang telah selesai dibangun di Jalan Raya Jember–Bondowoso justru menggunakan atap seng atau spandek yang dicat warna merah hati, bukan genteng.
Seorang pengusaha genteng asal Kecamatan Tamanan berinisial DS menilai, proyek pemerintah seharusnya menjadi contoh dalam mendukung penggunaan genteng lokal, terlebih di tengah lesunya penjualan saat ini.
“Sekarang penjualan genteng lesu,” ujar DS saat dikonfirmasi, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, sebelum kondisi lesu, ia mampu menjual hingga 12 ribu genteng per bulan. Namun belakangan, angka penjualan turun drastis menjadi sekitar 6.000 genteng, bahkan kerap di bawah jumlah tersebut.
Baca juga: Pemkab Banyuwangi Fasilitasi Aset Daerah untuk Percepatan Pembangunan Koperasi Merah Putih
DS mengaku sempat menawarkan produknya untuk digunakan dalam pembangunan gerai KDMP. Namun, tawaran itu ditolak karena proyek tersebut disebut telah memiliki standar penggunaan atap seng.
“Banyak yang sudah mengusulkan ke kontraktornya, ke mandornya, ke tukangnya. Tapi tetap pakai spandek,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, proses pembuatan genteng tidak mudah dan memerlukan biaya produksi yang cukup besar. Meski begitu, harga jual genteng saat ini relatif murah, yakni sekitar Rp800 ribu per 1.000 genteng, di luar ongkos kirim apabila pembeli tidak mengambil sendiri.
Sementara itu, harga bahan baku justru cenderung mahal. Tanah sebagai bahan dasar dibeli seharga Rp120 ribu per pikap, yang hanya menghasilkan sekitar 800 genteng. Untuk proses pembakaran, dibutuhkan kayu seharga Rp600 ribu per pikap untuk membakar 6.000 genteng, serta sekam senilai Rp450 ribu per sekali bakar.
“Sekali bakar, dibutuhkan biaya sekitar Rp3 juta lebih. Mulai dari biaya tanah, kayu, dan sekam. Jadi hasilnya sangat mepet,” terangnya.
Baca juga: DPMD Bondowoso Inventarisasi Tanah Kas Desa, Percepatan Gerai Koperasi Merah Putih
Kondisi semakin berat saat musim hujan. Proses pengeringan genteng menjadi lebih lama karena minim panas matahari. Jika musim kemarau, genteng bisa kering dalam dua hari. Namun saat hujan, pengeringan bisa memakan waktu hingga satu minggu, bahkan lebih.
“Genteng harus dijemur dulu sebelum dibakar. Tapi untuk dibakar harus menunggu jumlahnya sampai 6.000. Kalau belum cukup, ya harus nunggu beberapa hari lagi,” pungkas DS.