Proyek Kereta Gantung Suramadu Gagal Total, Warga Tambak Wedi Terlanjur Digusur
February 04, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Realisasi pengembangan potensi wisata pesisir di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim) kembali mendapat sorotan tajam dari legislatif. Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Buchori Imron, secara terbuka menagih janji Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terkait proyek destinasi wisata yang mangkrak, khususnya kereta gantung di kawasan Jembatan Suramadu.

Impian warga Kota Pahlawan untuk menikmati pemandangan Selat Madura dari ketinggian kini harus dikubur dalam-dalam. Rencana besar yang sempat digadang-gadang akan menjadi ikon baru pariwisata Surabaya itu dinyatakan gagal total, padahal persiapan fisik di lapangan sudah dilakukan.

Mimpi Kereta Gantung Kandas

Buchori mengungkapkan kekecewaannya karena harapan masyarakat sempat melambung tinggi ketika salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PP Properti, menyanggupi untuk merealisasikan proyek tersebut. Namun, pandemi Covid-19 menjadi pukulan telak yang menghentikan segalanya.

"Semua sudah senang saat salah satu BUMN menyanggupi merealisasikan kereta gantung di Suramadu. Bisa merasakan sensasi serunya menikmati pantau Surabaya dari ketinggian. Tapi gagal," kata Buchori kepada SURYA.co.id, Rabu (3/2/2026).

Politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini membeberkan fakta bahwa persiapan proyek sebenarnya sudah mencapai tahap yang cukup serius. Infrastruktur dasar bahkan sudah mulai terlihat wujudnya di lokasi.

"Padahal tiang pancang sudah disiapkan. Hingga unit kereta gantung juga sudah dipesan dari China. Namun semua gagal. Kereta gantung ini dikerjakan oleh PP Properti (BUMN)," jelasnya.

Warga Digusur Sia-sia

Dampak dari kegagalan proyek ini tidak hanya sekadar hilangnya potensi wisata, tetapi juga menyisakan luka sosial bagi warga setempat. Buchori menyoroti nasib warga di sekitar lokasi proyek yang telah berkorban demi pembangunan yang ternyata tidak pernah terwujud.

Dia menyayangkan karena ada rencana proyek kereta gantung itu, sejumlah warga di lokasi Tambak Wedi juga sudah kena gusur. Ternyata gagal. Tidak ada kelanjutannya. Hal ini menjadi catatan hitam dalam perencanaan pembangunan yang tidak tuntas.

Kini, impian warga untuk menikmati Suramadu dari ketinggian hingga Pantai Kenjeran dan Jembatan Suroboyo harus dipendam. Namun, Buchori menilai impian kedua itu dimungkinkan masih ada, asalkan Pemkot Surabaya memiliki komitmen politik yang kuat.

Desakan Optimalisasi Lahan Tidur

Buchori mengingatkan Pemkot agar konsisten dalam pengembangan wisata. Wilayah pesisir Surabaya, mulai dari Surabaya Utara hingga Surabaya Timur yang membentang laut, sebenarnya sudah diploting untuk destinasi wisata perairan. Namun, realisasinya dinilai sangat lamban.

"Jangan salahkan jika warga pesisir sampai saat ini masih belum bisa maju. Sebab wilayah pesisir juga belum digarap optimal. Daerah pesisir juga sulit maju karena supporting infrastruktur dan pengembangan belum maksimal," tegas Buchori.

Menurutnya, banyak potensi yang bisa dikembangkan di pesisir Surabaya. Keberadaan Pantai Kenjeran, Jembatan Suroboyo, dan Sentra Ikan Bulak dinilai belum memberi manfaat nyata bagi warga sekitar karena ekonomi juga belum optimal bergerak sesuai harapan.

Ia mendesak agar Pemkot totalitas dan serius menggarap wilayah pesisir menjadi destinasi wisata perairan. Buchori bahkan memberikan usulan konkret untuk pengembangan rute wisata jika proyek ini dihidupkan kembali.

"Diperluas rute kereta gantungnya hingga wisata mangrove Surabaya," usul Buchori.

Lebih lanjut, ia menyoroti aset lahan milik Pemkot yang terbengkalai. Pemkot sendiri dikatakan mempunyai lahan di tepian pantai dengan luasan mencapai hektaran. Salah satunya di Tambakwedi yang berhadapan langsung dengan laut, begitu juga di Bulak Banteng.

"Semua bisa dioptimalkan untuk wisata agar tidak jadi lahan tidur. Kita mendorong pengembangan kawasan pesisir untuk wisata berkelas tidak hanya di tataran konsep," kata Buchori.

Ia menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa Surabaya memiliki potensi besar jika dikelola dengan benar. "Saya meyakini bisa Surabaya jadi jujugan wisata. Bukan hanya tempat singgah lalu menikmati wisata di Banyuwangi atau Malang," pungkasnya.

Latar Belakang Proyek

Berdasarkan catatan redaksi, rencana pembangunan kereta gantung (cable car) di kawasan Suramadu ini sejatinya telah digagas sejak sekitar tahun 2018. Proyek ini awalnya dirancang dengan panjang lintasan sekitar 725 meter dan ketinggian 25 meter.

Pada masa perencanaan awal, PT PP Properti Tbk selaku pengembang berencana menginvestasikan dana besar untuk menjadikan kawasan kaki Jembatan Suramadu sebagai destinasi wisata terpadu. Selain kereta gantung, kawasan seluas kurang lebih 6,5 hektare tersebut rencananya akan dilengkapi dengan apartemen dan pusat perbelanjaan. Namun, kondisi pandemi dan dinamika investasi membuat proyek ini mangkrak hingga menyisakan tiang pancang saja.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.