Misteri Pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi, Putra Muammar Gaddafi
February 04, 2026 07:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Saif al-Islam Gaddafi, putra paling terkemuka dari mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, tewas dalam pembunuhan di rumahnya di wilayah Zintan, sekitar 200 km barat daya Tripoli, ibu kota Libya.

Pengacara Saif al-Islam Gaddafi, Khaled al-Zaidi, dan penasihat politiknya, Abdulla Othman, mengumumkan kematian pria berusia 53 tahun itu dalam unggahan terpisah di Facebook pada hari Selasa (3/2/2026), tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Pernyataan itu hanya menyebutkan bahwa Saif al-Islam Gaddafi tewas dalam bentrokan dengan empat orang bersenjata, yang sempat mematikan CCTV di rumah tersebut.

Saif al-Islam Gaddafi tidak pernah memegang jabatan resmi di Libya, tetapi dianggap sebagai orang nomor dua ayahnya dari tahun 2000 hingga 2011, ketika Muammar Gaddafi yang saat itu berusia 69 tahun dibunuh oleh pasukan oposisi Libya, mengakhiri kekuasaannya selama 42 tahun.

Pada tahun 2011, Saif al-Islam Gaddafi ditangkap dan dipenjara, menyusul pembunuhan ayahnya di negara yang terletak di Afrika Utara itu.

Dia dibebaskan pada tahun 2017 sebagai bagian dari pengampunan umum dan tinggal di Zintan sejak itu, dikutip dari BBC.

Kematiannya yang diumumkan pada hari Selasa masih menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Di mana, kapan, dan bagaimana Saif al-Islam Gaddafi terbunuh?

Menurut data dan pernyataan yang beredar, Saif al-Islam Gaddafi dilaporkan tewas pada siang hari hari Selasa di kediamannya di Kota Zintan, sekitar 200 kilometer barat daya Tripoli. 

Saat itu, ia diketahui tinggal di kota tersebut dan tengah menjadi salah satu kandidat Presiden Libya.

Baca juga: 10 Pemimpin Dunia yang Digulingkan AS Sepanjang Sejarah: Saddam Hussein hingga Muammar Gaddafi

Versi yang disampaikan tim politiknya menyebutkan bahwa empat pria bertopeng bersenjata menyerbu rumahnya, mematikan kamera pengawas, lalu terjadi konfrontasi langsung. 

Kantor Jaksa Agung Libya kemudian menyatakan hasil pemeriksaan forensik menyimpulkan Saif al-Islam Gaddafi meninggal akibat tembakan, meskipun detail kronologi masih terus diselidiki, dikutip dari Al Jazeera.

Di manakah para pengawalnya saat dia dibunuh?

Informasi mengenai keberadaan pengawal Saif al-Islam Gaddafi masih saling bertentangan. 

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa para penyerang berhasil masuk ke rumah dan menembaknya sebelum pengawal sempat mencegah serangan tersebut.

Setelah penyerangan, para pelaku disebut keluar dari rumah dan terlibat bentrokan dengan pasukan pengawal, yang berasal dari Brigade Abu Bakr al-Siddiq. 

Beberapa anggota brigade tersebut dilaporkan mengalami luka. 

Brigade ini juga diketahui pernah menangkap Saif al-Islam Gaddafi pada 2012 sebelum ia dibebaskan pada 2016 berdasarkan undang-undang amnesti.

Apa kata pihak berwenang?

Pihak berwenang Libya menyatakan bahwa penyelidikan resmi telah dibuka. 

Kejaksaan mengirim tim ke lokasi kejadian untuk melakukan pemeriksaan, mengumpulkan barang bukti, menunjuk ahli forensik, serta meminta keterangan saksi guna mengungkap fakta sebenarnya.

Sementara itu, Brigade 444 dari Kementerian Pertahanan Pemerintah Persatuan Nasional Libya membantah keras keterlibatan mereka. 

Mereka menegaskan tidak memiliki pasukan atau operasi militer di Zintan dan tidak pernah menerima perintah apa pun terkait pengejaran atau konfrontasi dengan Saif al-Islam.

Siapa yang diuntungkan dan menjadi korban utama dari pembunuhannya?

Menurut pengamat politik Libya, kelompok pendukung Saif al-Islam dinilai sebagai pihak yang paling dirugikan.

Ia dianggap sebagai figur pemersatu utama bagi pendukung rezim lama Gaddafi, sehingga ketidakhadirannya berpotensi melemahkan posisi politik mereka secara signifikan.

Sebaliknya, pihak-pihak pesaing, khususnya yang sebelumnya kehilangan dukungan karena beralih ke Saif al-Islam, dinilai berpotensi diuntungkan. 

Hilangnya Saif al-Islam juga mengurangi satu figur kuat dalam persaingan politik nasional, sehingga memberi ruang lebih luas bagi aktor politik lain.

Pendapat Analis Politik

Analis politik Libya, Hazem Al-Rais, menyebut ada dua skenario utama yang berkembang. 

Pertama, kemungkinan adanya dimensi internasional, yang dikaitkan dengan dinamika politik global dan pertemuan-pertemuan diplomatik terbaru yang terjadi sebelum kabar kematian Saif al-Islam Gaddafi muncul.

Skenario kedua berkaitan dengan kepentingan politik dalam negeri, di mana Saif al-Islam Gaddafi dipandang sebagai pesaing kuat dan penghambat proses politik, termasuk pemilu. 

Dalam konteks ini, sebagian analis menilai tokoh dengan kekuatan militer dan pengaruh wilayah luas sebagai pihak yang paling diuntungkan, meski semua dugaan tersebut masih menunggu hasil investigasi resmi.

Saif al-Islam Gaddafi

Saif al-Islam Gaddafi lahir pada 25 Juni 1972 di kompleks Bab al-Aziziya, Tripoli, sebagai putra kedua Muammar Gaddafi.

Ia menempuh pendidikan arsitektur di Tripoli dan kemudian melanjutkan studi ekonomi di Austria serta Inggris.

Ayahnya, Muammar Gaddafi, merupakan pemimpin Libya yang lahir pada 7 Juni 1942 dan meninggal pada 20 Oktober 2011 di Sirte, Libya, setelah ditangkap oleh pasukan oposisi dalam konflik Revolusi Libya.

Muammar Gaddafi berkuasa di Libya selama sekitar 42 tahun, sejak kudeta militer tahun 1969 yang menggulingkan Raja Idris I hingga jatuhnya rezimnya pada 2011. 

Sejak akhir 1990-an, putra kedua Muammar Gaddafi, Saif al-Islam Gaddafi, mulai tampil di panggung nasional dan internasional, memimpin Yayasan Amal Gaddafi untuk Pembangunan serta terlibat dalam berbagai isu penting Libya. 

Ia berperan dalam penyelesaian kasus internasional besar, seperti pembebasan sandera Abu Sayyaf di Filipina, penyelesaian kasus pengeboman Lockerbie, serta penghapusan program nuklir Libya yang membuka jalan normalisasi hubungan dengan Barat. 

Pada pertengahan 2000-an, ia mempromosikan gagasan reformasi lewat slogan “Libya Masa Depan”.

Saat Revolusi Libya 2011 meletus, Saif al-Islam menjadi tokoh kunci kedua setelah ayahnya dan kerap tampil di televisi membela rezim Gaddafi serta mengecam para pemberontak. 

Ia ditangkap pada November 2011 dan dipenjara di Zintan, sementara Libya menolak menyerahkannya ke Mahkamah Pidana Internasional meski ia dituduh melakukan kejahatan perang. 

Pada 2015, pengadilan di Tripoli menjatuhkan hukuman mati secara in absentia, namun ia dibebaskan pada April 2016 berdasarkan undang-undang amnesti. 

Pada November 2021, Saif kembali muncul ke publik dengan mencalonkan diri sebagai presiden Libya. 

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.