TRIBUNNEWSMAKER.COM - Deretan rumah di lereng Merapi–Merbabu mendadak berubah wajah ketika tradisi Sadranan digelar.
Sejak pagi hari, suasana desa tak pernah benar-benar lengang.
Pintu-pintu rumah dibiarkan terbuka, seolah mengundang siapa saja untuk singgah.
Panci dan dandang besar tersusun rapi di teras, menandai kesiapan tuan rumah menyambut tamu.
Arus kunjungan berlangsung tanpa henti dari pagi hingga menjelang sore.
Bagi warga setempat, inilah Sadranan, sebuah tradisi warisan leluhur yang sarat makna kebersamaan.
Ritual ini bukan sekadar penanda datangnya Ramadan, tetapi ruang untuk merawat ikatan keluarga.
Dalam Sadranan, menjamu tamu adalah kehormatan yang dijaga dengan sungguh-sungguh.
Bahkan ada rasa sungkan bila tamu pulang tanpa mencicipi hidangan yang telah disiapkan.
Perayaan ini berlangsung pada Rabu (4/2/2026).
Sejak pagi, warga lereng Merapi–Merbabu berduyun-duyun menuju Makam Puroloyo di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Di area makam, ratusan orang duduk beralaskan tikar di bawah pepohonan yang rindang.
Puluhan rantang dan dandang besar berjajar di tengah-tengah mereka.
Anak-anak, orang dewasa, hingga para lansia hadir tanpa sekat usia.
Baca juga: Murah Banget! Naik Kereta Batara Kresna Solo–Wonogiri, Cuma Rp 4.000 Sudah Bisa Healing
Sadranan diawali dengan kenduri sebagai doa bersama bagi para leluhur yang telah tiada.
Tak hanya warga Cepogo, mereka yang memiliki ikatan keluarga dengan Puroloyo pun turut hadir dari berbagai daerah.
Kompleks makam yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang pertemuan penuh cerita dan kenangan.
Setelah doa selesai, silaturahmi berlanjut ke rumah-rumah warga.
Jalan desa menjadi ramai oleh kendaraan yang terparkir di tepi sawah dan gang sempit.
Namun kepadatan itu justru disyukuri sebagai tanda berkah.
Di setiap rumah, tamu disambut hangat dan diajak berbincang ringan.
Hidangan disuguhkan dengan penuh bujukan agar tamu berkenan mencicipi.
Dalam Sadranan, perbedaan usia dan status sosial melebur bersama aroma masakan.
"Ya saya sendiri ga tau ya kapan mulai. Tapi sejak bapak saja ada, sudah ada tradisi ini," ujar Saeri, salah satu warga Cepogo.
Baca juga: Murah Banget! Naik Kereta Batara Kresna Solo–Wonogiri, Cuma Rp 4.000 Sudah Bisa Healing
Ia menyebut Sadranan diwariskan dari generasi ke generasi, dijaga bukan oleh aturan tertulis, melainkan oleh rasa.
"Kita cuma datang, ngobrol bentar atau tanya kabar aja," tambahnya.
Namun, di balik kesederhanaan itu, ada satu aturan tak tertulis yang selalu berlaku: tamu harus makan.
Tuan rumah akan membujuk sekuat tenaga, sementara tamu biasanya hanya mengambil sedikit nasi dan lauk sebagai bentuk hormat. Cukup satu suap, asal niatnya tersampaikan.
Sadranan pun menjadi pengingat bahwa di lereng Merapi–Merbabu, silaturahmi bukan slogan. Tetapi ia hidup, dihidangkan, dan dibagi dari rumah ke rumah.
(Tribunnewsmaker.com/ TribunSolo)