TRIBUN-BALI.COM - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan optimisme terhadap kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 dan setahun penuh 2025.
Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 dapat mencapai 5,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara itu, untuk kinerja sepanjang tahun 2025, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,2 % yoy.
“(Optimis) tumbuh 5,4 % yoy (kuartal IV-2025). Kalau full year target pemerintah kan 5,2 % yoy. Tapi kan kita enggak tahu, tergantung data BPS nanti, jadi saya enggak intervensi BPS,” ujar Purbaya kepada awak media saat ditemui di agenda Indonesia Economic Summit (IES) di Jakarta, Selasa (3/2).
Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah tetap menunggu hasil resmi yang akan diumumkan oleh BPS. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak akan mencampuri proses penghitungan dan rilis data statistik nasional.
Baca juga: Sampai Saat Ini DLHK Badung Catat 3000 Ton Sampah Sudah Ditangani
Baca juga: Bangun Wedding Chapel di Tebing Pecatu dan Belum Lengkapi Izin, Satpol PP Panggil Pemilik Usaha
Data pertumbuhan ekonomi tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global, sekaligus menjadi acuan perumusan kebijakan fiskal pemerintah ke depan.
Sementara itu, Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Leo Putera Rinaldy memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 hanya mencapai 5,1 % , lebih rendah dari target pemerintah dalam APBN 2025 sebesar 5,2 % .
Leo memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 berada di kisaran 5,2 % hingga 5,3 % , yang mana salah satu sumber pertumbuhan berasal dari stimulus dan pengeluaran fiskal. Sebagai gambaran, ia menghitung kontribusi stimulus fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 dapat mencapai 0,2 poin persentase (ppt).
Lebih lanjut, ia menyebut belanja modal pemerintah juga meningkat signifikan hingga 44 % pada kuartal IV, dengan pola belanja yang mirip seperti pada kuartal II 2025. “Faktor-faktor di atas sebagian dapat mengkompensasi efek bencana di Sumatra,” kata Leo, Selasa (3/2).
Untuk tahun ini, ia melihat baik dari sisi pertumbuhan ekonomi serta kualitas pertumbuhan itu sendiri akan lebih solid seiring dengan realisasi pengeluaran fiskal yang lebih cepat dan awal setelah masa transisi dan adaptasi kebijakan di tahun lalu.
Sebagaimana diketahui, pemerintah akan mendorong front-loading atau menarik utang atau mempercepat belanja negara dalam jumlah besar di awal tahun anggaran, pengeluaran fiskal dengan memanfaatkan momentum permintaan Lebaran dan Imlek di kuartal pertama 2026, diikuti dengan transmisi kebijakan moneter yang lebih baik.
“Dari sisi investasi, Danantara akan menjadi salah satu pendorong yang melibatkan partisipasi BUMN serta sektor swasta, termasuk foreign direct investment (FDI),” ungkapnya. (kontan)