BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Radikalisme kini tidak lagi menyebar melalui doktrin keras atau ajaran agama secara terbuka, melainkan menyusup lewat celah psikologis anak-anak yang dibungkus dalam konten digital. Hal ini diungkapkan Kepala Satgas Wilayah Kepulauan Bangka Belitung Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Maslikan, saat kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan di Kabupaten Bangka.
Menurut AKBP Maslikan, anak-anak rentan terpapar paham radikal ketika mengalami rasa marah, kecewa, terpinggirkan, atau tidak dianggap. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pihak tertentu melalui media sosial dengan kemasan narasi yang seolah membela kebenaran.
Ia menegaskan, pencegahan radikalisme harus dilakukan sejak dini, terutama melalui peran keluarga dan lingkungan sekolah yang menjadi ruang tumbuh utama anak-anak.
“Mencegah jauh lebih penting daripada menindak. Anak-anak perlu dibatasi waktu penggunaan gawainya serta didampingi dalam aktivitas digital agar tidak terpapar konten negatif maupun paham ekstrem,” ujar AKBP Maslikan, Rabu (04/01/2026).
Ia menjelaskan radikalisasi tidak selalu muncul dalam bentuk ajaran agama secara eksplisit. Dalam banyak kasus, proses tersebut berawal dari persoalan psikologis seperti luka batin, rasa marah, perasaan terpinggirkan, hingga kegamangan dalam mencari jati diri.
Kondisi ini kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu melalui ruang digital.
“Radikalisme hari ini sering menyusup lewat media sosial dengan kemasan yang halus. Bisa lewat potongan video, meme, narasi kebencian, atau ajakan yang tampak membela keadilan. Anak-anak sering tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke arah ekstrem,” jelasnya.
Dalam upaya pencegahan tersebut, Satgaswil Densus 88 Antiteror Polri Kepulauan Bangka Belitung berkolaborasi dengan Kementerian Agama Kabupaten Bangka, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Bangka, serta Pondok Pesantren Bahrul Ulum Islamic Center Sungailiat menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kabupaten Bangka.
Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Pendidikan Melalui Kurikulum Berbasis Cinta” ini diikuti oleh 268 guru PAI dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
AKBP Maslikan menekankan, guru memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dini gejala ekstremisme di lingkungan sekolah.
Perubahan perilaku siswa, munculnya sikap intoleran, hingga praktik perundungan (bullying) disebutnya dapat menjadi pintu masuk radikalisasi jika tidak ditangani dengan tepat.
“Penguatan literasi digital dan pendampingan psikologis menjadi langkah strategis untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan berkarakter kebangsaan,” tambahnya.
Ia menegaskan, pencegahan radikalisme tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
“Pendekatannya harus komprehensif, mulai dari penguatan pendidikan kewarganegaraan, penanaman nilai toleransi, kontra-narasi positif di ruang digital, hingga peran keluarga dalam memberikan pemahaman agama yang damai,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka, Syarifudin, S.Ag., M.Pd.I, menyampaikan bahwa institusi pendidikan merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap infiltrasi paham radikalisme.
“Peserta didik adalah sasaran empuk karena masih berada dalam fase pencarian jati diri dan relatif mudah dipengaruhi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, radikalisme kerap memanfaatkan kepentingan sosial dan politik dengan cara kekerasan, sedangkan ekstremisme sering masuk melalui pemahaman keagamaan yang sempit dan eksklusif.
“Guru harus semakin waspada, memahami ciri-ciri radikalisme, serta membentengi diri dan peserta didik dengan iman, akhlak mulia, dan nilai-nilai kebangsaan,” kata Syarifudin. (Bangkapos.com/Erlangga)