Sepanjang Januari 2026, BPBD NTT Catat 7 Orang Meninggal Dunia Akibat Bencana Alam
February 05, 2026 12:19 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sepanjang bulan Januari 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat ada tujuh warga meninggal dunia akibat bencana alamAda 7 orang meninggal dunia, 9 luka-luka akibat bencana alam. 

"7 orang meninggal dunia, 9 luka-luka, dan 1.175 orang menderita atau mengungsi," kata Kepala BPBD NTT, Samuel Halundaka, Rabu (4/2/2025) di Kupang. 

Dia menyebut, selain itu terdapat 34 rumah rusak berat, 20 rumah terendam akibat banjir, 22 unit rumah rusak Sedan dan 83 rumah rusak ringan. Sementara, 6 satuan pendidikan, 1 rumah ibadat, 1 jembatan dan 1 kantor juga ikut terdampak. 

Pada bulan itu, setidaknya ada 36 kejadian bencana yang terdiri dari cuaca ekstrem pada 25 lokasi, tanah longsor di 8 titik, banjir di 2 tempat dan abrasi pada 1 lokasi. Rentetan kejadian itu terjadi di wilayah Flores, Lembata, Alor, Sumba hingga Sabu Raijua dan pulau Timor. 

Baca juga: BPBD NTT Salurkan Logistik untuk Antisipasi Bencana ke Kabupaten-Kota


Samuel menyebut, berdasarkan analisis (BMKG) menunjukkan tingkat kerawanan cuaca berada pada level menengah hingga tinggi dan meluas hampir di seluruh wilayah NTT.

Ancaman bencana, kata dia, tidak hanya terbatas pada banjir dan tanah longsor, tetapi juga mencakup fenomena angin puting beliung yang berpotensi menimbulkan kerusakan serius. 

“Selain banjir dan tanah longsor, kita juga harus mewaspadai potensi angin puting beliung yang cukup kuat pada momentum ini,” ujar Samuel.

Menurutnya, situasi tersebut menuntut perubahan pola penanganan bencana, dari yang bersifat reaktif menjadi lebih preventif. 

Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, guna menekan dampak yang mungkin ditimbulkan.

BPBD NTT telah menjalankan sejumlah langkah strategis, antara lain apel kesiapsiagaan tingkat provinsi, pemetaan sumber daya kebencanaan, serta penyebaran informasi peringatan dini kepada seluruh pemerintah kabupaten dan kota di NTT.

“Kami sudah mendorong pembentukan pos siaga bencana dan mengoperasikan posko 24 jam untuk memastikan respons cepat jika terjadi keadaan darurat,” katanya.

Tak hanya itu, ketersediaan logistik juga menjadi perhatian utama. BPBD NTT telah menyiapkan buffer stock dan mendistribusikannya ke seluruh daerah agar penanganan darurat dapat dilakukan secara cepat dan tepat saat bencana terjadi.

Samuel mengajak masyarakat, khususnya yang bermukim di daerah rawan seperti bantaran sungai, lereng perbukitan, dan kawasan terbuka, untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode curah hujan tinggi. 

“Kita tidak bisa melawan alam, tetapi kita bisa mengurangi risikonya dengan kesiapsiagaan dan kewaspadaan,” katanya. 

BMKG NTT melalui Stasiun Meteorologi Kupang telah mengeluarkan peringatan dini dari 4-6 Februari 2026. BMKG memantau aktifnya gelombang Atmosfer Low dan gelombang Rossby yang memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di wilayah NTT.

"Bibit siklon tropis 98P disekitar wilayah Darwin (Australia bagian Utara) yang mendukung terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin yang meningkatkan potensi hujan di wilayah NTT," kata Kepala Stasiun Meteorologi Kupang, Sti Nenotek. 

Dia mengatakan, bibit siklon tropis 98P diperkirakan bergerak kearah Barat menjauhi wilayah Indonesia dan dalam periode 24 jam kedepan memiliki peluang rendah untuk menjadi siklon tropis.

Namun begitu, BMKG NTT meminta masyarakat tetap mewaspadai dampak hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi. (fan) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.