TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Arief R Pabettingi, mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) memperkuat dan mengembangkan komoditas ekspor selain nikel.
Langkah ini penting untuk mengantisipasi potensi penurunan tajam kinerja ekspor dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sulsel, terutama jika wilayah Luwu Raya meliputi Kabupaten Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, dan Kota Palopo—keluar dari Sulsel.
Menurut Arief, struktur ekspor Sulsel saat ini masih sangat bergantung pada nikel dan rumput laut, yang berkontribusi dominan terhadap ekspor dan PAD.
“Kontribusi nikel terhadap Sulsel hampir 60 persen. Kalau Luwu Timur keluar dari Sulsel, PAD Sulsel bisa langsung anjlok,” ujar Arief, Kamis (5/2/2026) di Makassar.
Arief menekankan Sulsel perlu strategi jangka panjang untuk memperkuat komoditas lain.
Sekaligus menghadirkan komoditas baru yang mampu menopang ekonomi daerah.
Sulsel memiliki potensi besar di sektor pertanian dan perkebunan, termasuk rempah-rempah seperti:
-Cengkeh
-Merica
-Lada
-Kopra dan berbagai komoditas perkebunan lainnya.
“Semua itu ada di Sulsel. Tapi untuk benar-benar menggantikan posisi nikel, pemerintah harus berpikir ekstra keras dan serius,” kata Arief.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk:
-Dinas Pertanian
-Dinas Perdagangan
-Dinas Perkebunan.
Hal itu untuk mendorong pengembangan komoditas unggulan dari hulu hingga hilir.
Selain memperluas jenis komoditas, Arief juga menyoroti pentingnya peningkatan nilai tambah melalui industrialisasi.
Selama ini, ekspor Sulsel masih didominasi bahan mentah atau raw material.
“Kalau diekspor hanya bahan baku, nilainya kecil. Harus diolah menjadi setengah jadi atau produk jadi, supaya nilai jualnya melonjak,” jelasnya.
Sebagai contoh, cengkeh dapat diolah menjadi minyak atsiri atau minyak cengkeh, bahan dasar industri parfum dan kosmetik bernilai tinggi.
Hal serupa berlaku pada merica dan rempah lain, yang selama ini hanya diekspor sebagai bahan dasar pengawet makanan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, kontribusi nikel terhadap total ekspor Desember 2025 mencapai 62,29 persen.
Aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel sebagian besar berlokasi di Luwu Timur, yang secara geografis masuk wilayah Luwu Raya.
Selain nikel, wilayah ini juga mendukung rantai pasok komoditas lain, seperti hasil perikanan, garam, serta bahan tambang nonmigas.
Secara tahunan, ekspor nikel Sulsel sepanjang Januari–Desember 2025 naik 1,63 persen, meski komoditas lain seperti besi dan baja turun 42,83 persen.
Dari sisi pelabuhan, Pelabuhan Malili di Luwu Timur menjadi pintu utama ekspor Sulsel dengan kontribusi 62,29 persen dari total ekspor Desember 2025.
Jumlahnya jauh melampaui Pelabuhan Makassar yang menyumbang 32,02 persen. (*)