TRIBUNTRENDS.COM - Nama Khoirul Anam belakangan mencuri perhatian publik. Bukan karena jabatan mentereng atau posisi elite, melainkan karena prestasi yang lahir dari balik seragam satuan pengamanan.
Di usianya yang baru 28 tahun, Khoirul Anam telah mengantongi tiga gelar akademik, menerbitkan belasan karya ilmiah, menulis delapan buku ber-ISBN, dan menyabet Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Namun hingga kini, ia masih setia menjalani profesinya sebagai satpam.
Pengakuan itu disampaikan Khoirul dengan jujur. Di balik sorotan dan prestasi nasional yang ia raih, ada satu cita-cita besar yang belum juga terwujud—menjadi seorang pengajar.
Baca juga: Di Balik Seragam Satpam Tersembunyi Otak Cerdas: Khoirul Anam Punya 3 Gelar, 8 Buku, 13 Karya Ilmiah
Khoirul Anam merupakan anggota satuan pengamanan di sebuah bank BUMN, Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pada Jumat (30/1/2026), ia resmi menerima penghargaan dari MURI sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak, setelah berhasil menerbitkan 13 karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional.
Meski prestasinya terbilang luar biasa, Khoirul memilih tetap bekerja sebagai satpam. Profesi itulah yang selama ini menjadi penopang hidupnya, sekaligus ruang sunyi tempat ia menulis dan belajar.
“Awalnya saya menulis dari hal sederhana, dari buku mutasi satpam. Dari situ muncul keinginan untuk mengembangkan karya tulis di waktu-waktu luang,” ujar Khoirul kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026), dikutip TribunJatim.com, Kamis (5/2/2026).
Baca juga: Kisah Khoirul Anam, Satpam Sukses Sabet Rekor MURI: Waktu Tidur untuk Menyelesaikan Penelitian
Perjalanan hidup Khoirul jauh dari kata instan. Pada 2018, ia nekat merantau dari kampung halamannya di Kabupaten Tanggamus, Lampung, ke Jakarta hanya bermodal Rp 1 juta.
“Saya nekat merantau dari Lampung ke Jakarta hanya dengan satu juta rupiah untuk bertahan hidup,” kenangnya.
Ia sempat berpindah-pindah lokasi tugas sebagai satpam, dari pusat perbelanjaan hingga akhirnya ditempatkan di BRI Cabang Tanjung Priok sejak 2022.
Namun cobaan terberat datang di tahun yang sama. Khoirul jatuh sakit hingga kritis dan sempat koma. Kondisinya kala itu membuat keluarga pesimistis terhadap peluang hidupnya.
Pengalaman berada di ambang kematian justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Dari sakit itu saya merasa seperti diberi umur kedua. Saya harus hidup dengan cara yang lebih baik,” ujarnya.
Setelah pulih dan kembali bekerja, Khoirul mulai menata ulang hidupnya. Ia memanfaatkan waktu luang di sela tugas jaga untuk belajar dan menulis.
Ketertarikannya pada dunia pendidikan tumbuh dari diskusi sederhana dengan rekan kerja. Dari situ, ia mulai berpikir tentang masa depan.
“Waktu itu saya berpikir, di umur 28 tahun saya setidaknya harus punya satu gelar. Alhamdulillah, tidak disangka sekarang sudah punya tiga gelar,” ucapnya.
Khoirul menempuh pendidikan S1 Manajemen di Universitas Pamulang melalui kelas karyawan pada 2019 dan lulus pada 2023. Ia kemudian melanjutkan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Tak berhenti di situ, ia juga mengambil S1 kedua jurusan Pendidikan Agama Islam di STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah.
Meski berprestasi secara akademik, Khoirul mengakui dirinya masih “terkunci” di dunia yang sama—satpam. Cita-citanya menjadi guru atau dosen hingga kini belum bisa ia raih.
“Cita-cita saya ingin menjadi pengajar, guru atau dosen. Tapi mungkin memang belum rezeki. Dan jujur, agak susah juga masuk ke dunia itu,” katanya.
Ia pun memilih bertahan sebagai satpam sembari terus berusaha membuka jalan menuju impiannya.
“Saat ini saya bertahan di security, sambil berusaha mencapai titik itu,” ujarnya.
Di balik produktivitasnya menulis, Khoirul menghadapi kendala besar, terutama soal biaya publikasi. Menurutnya, menerbitkan jurnal dan buku membutuhkan dana yang tidak sedikit.
“Kalau kendala terbesar ya pendanaan untuk publikasi. Jurnal dan buku itu perlu biaya,” katanya.
Ia harus cermat memilih media publikasi yang sesuai dengan kemampuan finansialnya. Padahal, keinginannya besar untuk menembus jurnal bereputasi tinggi seperti Sinta dan Scopus.
“Sangat ingin karya saya terakreditasi Sinta atau Scopus. Tapi karena biaya, saya belum bisa,” ujarnya.
Selain biaya, waktu juga menjadi tantangan. Ia kerap mengorbankan jam istirahat demi menyelesaikan penelitian.
“Kadang tidur jam dua pagi karena harus menyelesaikan data. Kalau ditunda, besok bisa kacau,” tuturnya.
Hingga kini, Khoirul telah menerbitkan delapan buku ber-ISBN dan tengah menyelesaikan tiga buku lainnya melalui program kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat Dana Indonesiana.
Baginya, latar belakang pekerjaan bukan penghalang untuk terus belajar.
“Jangan pernah lelah menuntut ilmu. Sekecil apa pun ilmu itu sangat bermanfaat dalam hidup,” pesannya.
Kisah Khoirul Anam menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat yang sederhana—bahkan dari balik pos satpam. Meski jalannya belum sampai tujuan, langkahnya tak pernah berhenti.
Tribun Jatim | Ignatia | TribunTrends.com | Afif Muhammad