Emosi Gubernur NTT soal Siswa SD Akhiri Hidup, Malu & Tegur Anak Buah: Kita Gagal Sebagai Pemerintah
February 05, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena (49), menyoroti kasus tragis bunuh diri seorang murid SD berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada sebagai cerminan kegagalan pemerintah.

YBR diduga mengakhiri hidupnya karena terkendala buku dan alat tulis di sekolah, sementara orangtuanya tidak mampu membiayai kebutuhan pendidikan anak tersebut.

Pernyataan tegas Gubernur Melki disampaikan saat sambutannya pada peluncuran dan peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) di Kupang, Rabu (4/2/2026).

"Tadi malam saya cek terakhir, belum ada perwakilan Pemda Ngada yang turun ke rumah duka. Ini gila namanya. Dalam situasi seperti ini, kita gagal sebagai pemerintah," tegas Gubernur Melki, menunjukkan kekecewaannya terhadap respons pemerintah daerah.

Ia mengaku merasa malu sebagai kepala daerah atas peristiwa yang menimpa YBR.

Baca juga: Detik-detik Siswa SD di NTT Akhiri Hidup, Duduk di Depan Pondok, Ditagih Mama Surat untuk Beasiswa

Menurutnya, negara dan pemerintah daerah telah lalai dalam melindungi warganya, khususnya anak-anak.

"Malu saya sebagai gubernur. Masa ada warga negara yang mati karena hal seperti ini. Kalau ini terjadi, berarti kita gagal mengurus warga kita sendiri," ucapnya dengan nada tegas.

Mantan anggota DPR RI itu menegaskan, kematian korban bukan sekadar persoalan sepele, melainkan akibat kemiskinan yang tidak tertangani dengan baik oleh sistem pemerintahan dan sosial.

"Di saat kita duduk dengan nyaman, ada seorang warga Indonesia asal NTT, khususnya di Kabupaten Ngada, yang mati karena dia miskin," pungkasnya.

Untuk memastikan informasi tersebut, gubernur mengaku telah menghubungi langsung pimpinan daerah setempat.

Namun hingga beberapa waktu, tidak mendapat respons.

"Saya kirim pesan WhatsApp ke pimpinan daerahnya, tapi lama sekali responnya. Karena itu saya perintahkan orangsaya untuk turun langsung mengecek ke lapangan," ungkapnya.

Melki menilai peristiwa ini sebagai kegagalan menyeluruh, tidak hanya pemerintah, tetapi juga pranata sosial dan keagamaan.

"Pranata agama gagal, pranata sosial gagal, pemerintahan juga gagal, sampai orang bisa mati karena miskin seperti ini," tegasnya.

Ia menekankan agar kejadian serupa tidak boleh terulang kembali di wilayah NTT dan meminta seluruh kepala daerah lebih peka serta hadir secara nyata di tengah masyarakat.

"Kejadian seperti di Ngada ini harus menjadi yang pertama dan terakhir," kata Gubernur Melki.

Politikus Partai Golkar itu meminta agar semua perangkat sosial diaktifkan guna meminimalisir kejadian serupa terulang.

Ia menyebut, ada cukup anggaran untuk mengurai masalah seperti ini. 

"Guna apa kita punya perangkat seperti PKH, perangkat sosial segala macam. Uang ngalir triliunan ke NTT urusan orang miskin. Masih ada yang mati, gak boleh. Ini terakhir, gak boleh ada orang mati karena abai begini," ujarnya. 

Secara khusus, Melki meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT agar ikut memperhatikan pendidikan di level SD dan SMP, sekalipun bukan kewenangan Provinsi.

Mestinya, pimpinan di instansi itu ikut merasa malu. 

"Mestinya malu. Saya ini Menteri WA, saya malu mau jawab apa. Sudah ada yang mati, atensi nasional. Cukup sudah. Kita kerja sama. Harus ada pertobatan bersama," katanya. 

Tanggapan Bupati Ngada

Bupati Ngada, Raymundus Bena mengatakan terlalu dini menilai YBR  bunuh diri karena tidak punya buku dan pulpen.

Raymundus mengatakan berdasarkan informasi yang ia dapat, YBR dikenal sebagai anak yang periang, rajin, dan suka membantu. Bocah itu juga salah satu siswa yang sangat aktif. 

Oleh sebab itu, ia menilai penyebab kematian YBR sangat kompleks.

“Kesimpulan bahwa (YBR) meninggal karena tidak punya ballpoint dan tidak punya buku, saya agak lain menilainya. Saya menilai ini sangat kompleks,” ujar Raymundus, Kamis (5/2/2026).

“Pertanyaan kita, referensi sampai dia bunuh diri, apakah referensi karena buku?, karena itu kah?. Karena itu terlalu dini menilai seperti itu,” tambahnya.

Menurut Raymundus, bisa jadi ada faktor lain yang menyebabkan korban melakukan aksi tersebut. Apalagi di tengah era keterbukaan informasi seperti sekarang.

“Ini sekarang tuh sangat terbuka, bisa jadi mungkin karena nonton TV, nonton video atau seperti apa, ya, itu,” katanya.

Baca juga: Dugaan Motif Lain di Balik Siswa SD di NTT Akhiri Hidup, Bupati Ngada Ragu: Masalah Cukup Kompleks

SISWA SD AKHIRI HIDUP - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena miris dengan berita siswa SD akhiri hidup imbas tak mampu beli buku di Ngada. Ia mengaku banyak dihubungi menteri dan pimpinan nasional.
SISWA SD AKHIRI HIDUP - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena miris dengan berita siswa SD akhiri hidup imbas tak mampu beli buku di Ngada. Ia mengaku banyak dihubungi menteri dan pimpinan nasional. (Instagram @melkilakalena.official)

Tewas di Pohon Cengkeh

Sebelumnya, YBR (11) seorang siswa kelas IV SDN Rutowaja, Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026) siang. 

Desa Nenawea berjarak sekitar 19 Km dari Bajawa, pusat pemerintahan Kabupaten Ngada, atau 536 km dari Kota Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur.

Desa Nenawea berada di Pulau Flores sementara Kupang berada di Pulau Timor. Kedua pulau ini dipisahkan Laut Sawu.

Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah.

Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda.  

Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih.

Surat untuk Mama

Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa). 

Kertas Ti'i Mama Reti"
Mama galo Ze'e
Mama Molo, Galo Ja'o Mata, Mama  Ma'e Rita ee Mama

Mamo Galo Ja'o Mata, Ma'e Woe Rita Ne Gae Nga'o ee

MOLO MAMA

Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:

kertas untuk mama Reti

Mama terlalu kikir (pelit)

Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama. 

Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. 

Baik sudah mama atau selamat tinggal mama

Kepolisian menyatakan dugaan awal mengarah pada tindakan bunuh diri, namun proses penyelidikan masih berlangsung.

Aparat telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti berupa pesan tertulis yang diduga dibuat korban sebelum kejadian.

Polisi menegaskan pendalaman dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi keluarga dan lingkungan sosial korban.

(TribunTrends/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.