Kabupaten Bogor (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bogor mencanangkan penanaman hutan kota seluas 220 hektare di seluruh wilayah sebagai upaya menjaga kawasan hulu Sungai Ciliwung dan memulihkan fungsi lingkungan secara berkelanjutan.

Pencanangan tersebut ditandai dengan kegiatan penanaman pohon yang dipimpin Rudy Susmanto di kawasan hutan kota Puncak Ajip, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Rudy Susmanto mengatakan kawasan hulu Sungai Ciliwung memiliki kepentingan strategis karena menopang kebutuhan air lintas wilayah, mulai dari Kabupaten Bogor hingga daerah hilir seperti Depok, Bekasi, dan DKI Jakarta.

“Hulu Sungai Ciliwung memang berada di Kabupaten Bogor, tetapi tanggung jawab menjaganya adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang mencintai alam, lingkungan, dan sumber daya air,” katanya.

Ia menjelaskan program hutan kota tersebut dirancang dengan skema minimal satu hektare di setiap kecamatan. Dari total 40 kecamatan di Kabupaten Bogor, program ini ditargetkan mencakup sedikitnya 40 hektare ditambah sejumlah lahan milik pemerintah daerah.

“Pada tahap awal, setelah kami inventarisasi, total luasan penanaman yang akan dilakukan mencapai sekitar 220 hektare. Ini adalah warisan lingkungan yang kita titipkan untuk anak cucu ke depan,” ujarnya.

Rudy menyebut hingga saat ini penanaman pohon telah dilaksanakan di 30 kecamatan, sementara 10 kecamatan lainnya masih dalam tahap penyediaan dan pematangan lahan. Pemerintah daerah, kata dia, akan membantu proses komunikasi dan fasilitasi agar seluruh kecamatan dapat memenuhi target minimal tersebut.

Selain kawasan hutan kota, penanaman juga dilakukan di sejumlah ruas jalan dan jalur tengah yang sedang dibangun, termasuk di wilayah Bojonggede–Kemang dengan panjang sekitar delapan kilometer, menyesuaikan karakteristik tanah dan kondisi iklim setempat.

Menurut Rudy, pemilihan jenis bibit dilakukan secara variatif dan disesuaikan dengan kondisi wilayah agar tingkat keberhasilan tumbuh optimal. Pemerintah daerah juga menyiapkan tim khusus untuk melakukan pemeliharaan tanaman selama satu tahun setelah penanaman.

Ia menegaskan program ini tidak hanya berorientasi pada penambahan ruang hijau, tetapi juga untuk memulihkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya gotong royong dalam menjaga lingkungan.

“Banjir dan longsor yang terjadi selama ini bukan semata-mata takdir. Ada kontribusi kelalaian manusia. Karena itu, penanaman pohon ini adalah langkah pencegahan jangka panjang, bukan sekadar kegiatan seremonial,” katanya.

Sementara, Pendiri Bank Pohon Nusantara Sandi Adam yang juga menjadi pengelola hutan kota Puncak Ajip mengatakan pihaknya turut menyuplai bibit tanaman untuk mendukung program penanaman pohon Pemerintah Kabupaten Bogor.

Ia menjelaskan Bank Pohon Nusantara mampu memproduksi sekitar 100 ribu hingga 200 ribu bibit pohon setiap tahun, dengan total 96 jenis tanaman buah dan kayu-kayuan khas Jawa Barat, termasuk 18 jenis pohon yang tergolong langka.

“Kami mendukung program penanaman hutan kota dengan menyuplai bibit, karena Bank Pohon Nusantara mampu memproduksi sekitar 100 ribu hingga 200 ribu bibit per tahun dari 96 jenis pohon buah dan kayu-kayuan khas Jawa Barat, termasuk 18 jenis pohon langka,” kata Sandi Adam.

Selain memproduksi bibit di kawasan Puncak, Sandi menyebut pembibitan juga dilakukan di sejumlah lokasi lain, yakni di Kota Bogor dan Bandung, guna memastikan ketersediaan bibit yang berkelanjutan untuk kegiatan rehabilitasi lingkungan.