Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari
TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Seorang atlet rugby asal Garut, Siti Nur Rahayu (23), akhirnya bisa bernapas lebih lega setelah kondisi kesehatannya diketahui banyak orang.
Ia sebelumnya viral usai diketahui mengalami usus pecah, kemudian kesulitan berobat lantaran keterbatasan biaya.
Siti adalah warga Kampung Seni Baru, Desa Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Ia dikenal sebagai atlet aktif bahkan pernah mewakili Jawa Barat di PON Aceh-Sumut 2024.
Orangtua Siti, Yeni Nurhayati, mengatakan kini dukungan moril hingga bantuan terus mengalir, mulai dari warga sekitar hingga berbagai pihak, termasuk pemerintah dan KONI Garut.
"Alhamdulillah banyak yang sayang sama anak saya, banyak yang datang membesuk," ujar Yeni kepada Tribunjabar.id, Kamis (5/2/206).
Ia menuturkan, sebelumnya keluarga tidak memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan sehingga sempat mengalami kesulitan dalam proses pengobatan.
Baca juga: Respons Dedi Mulyadi Soal Kisah Pilu Atlet Rugby asal Garut Derita Penyakit Usus Terkendala Biaya
Namun setelah kondisi Siti viral dan mendapat perhatian banyak pihak, kepesertaan BPJS Kesehatan milik Siti kini telah aktif.
"BPJS (bantuan) pemerintah sudah aktif kemarin," ungkapnya.
Yeni menjelaskan, anaknya itu divonis mengalami usus pecah dua bulan yang lalu setelah merasakan sakit di bagian perut.
Keluarga awalnya mengira Siti mengalami sakit lambung, namun setelah diperiksa lebih lanjut ternyata kondisinya sudah kronis hingga harus menjalani operasi.
"Kondisinya sudah parah tak bisa lagi berlatih, kami kira awalnya hanya sakit maag," ucap Yeni.
Sementara itu Siti menuturkan sudah menjadi atlet rugby dan karate dari tahun 2021.
Namun di PON Aceh-Sumut tahun 2024 ia mewakili Jawa Barat sebagai atlet rugby tunggal.
Baca juga: Umuh Muchtar Benarkan Sergio Castel Segera Bergabung ke Persib: Sudah Mau Diumumkan
"Saya sekarang tidak bisa beraktifitas, jalan sedikit itu langsung udahnya terasa demam panas," ucapnya.
Sebelum kisahnya viral ia menyebut tidak pernah dijenguk oleh siapa pun, baik dari teman sesama atlet maupun perwakilan pemerintah.
Bahkan, pada suatu waktu, sempat ada perwakilan yang datang bukan untuk menjenguk, melainkan meminta dirinya melengkapi persyaratan pertandingan.
"Padahal kondisi saya waktu itu sedang sakit, tapi tetap diminta persyaratan untuk bertanding," ungkapnya.(*)