TRIBUNNEWS.COM - Kepala SDN Rutojawa, Maria Ngene dan Thadeus Sina, tetangga, mengenang sosok YBR (10), siswa SD di Kampung Dona, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, NTT.
YBR ditemukan tewas di pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026). Kepolisian menyatakan dugaan awal mengarah pada tindakan bunuh diri, namun proses penyelidikan masih berlangsung.
Kepala SDN Rutojawa, Maria Ngene, menyebut YBR merupakan murid yang aktif, rajin, dan cerdas di sekolah.
“Anak ini ceria, rajin, dan cerdas. Tidak menunjukkan hal-hal yang menonjol,” ujar Maria.
Maria menegaskan, selama bersekolah, tidak ada perilaku yang mengarah pada masalah serius. Sosok YBR justru dikenal ramah dan mudah bergaul dengan teman-temannya.
Maria mengungkapkan, pihak sekolah tidak mengetahui secara rinci bahwa YBR mengalami keterbatasan perlengkapan sekolah seperti buku tulis dan pulpen.
Menurutnya, kondisi personal siswa biasanya lebih banyak dipantau oleh wali kelas masing-masing.
“Saya belum mendapatkan informasi itu. Soal kebutuhan siswa, yang paling tahu itu wali kelas. Apalagi ini awal semester, mungkin dia butuh buku dan pulpen tetapi belum sempat dibelikan,” jelasnya.
Selama ini, kata Maria, YBR tidak pernah mengeluh atau menunjukkan kendala berarti dalam proses belajar mengajar.
“Tidak ada pantauan khusus karena memang tidak ada keluhan. Kami tidak bisa memantau siswa satu per satu secara pribadi,” katanya.
Baca juga: Beda Reaksi Bupati Ngada dan Gubernur Terkait Kematian Murid SD di NTT, Melki Laka Lena Merasa Malu
Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, YBR tercatat tetap membayar uang sekolah, meskipun sering terlambat.
Pembayaran biasanya dilakukan oleh ibu atau neneknya melalui bendahara komite sekolah.
“Uang sekolah lancar, walaupun agak terlambat. Entah ibunya atau omanya yang membayar, kami tetap terima,” ungkap Maria.
Atas peristiwa memilukan ini, pihak sekolah menyampaikan duka mendalam sekaligus berkomitmen meningkatkan perhatian terhadap kondisi sosial para siswa.
“Ini menjadi pelajaran penting bagi kami. Ke depan akan dilakukan pendekatan yang lebih intens kepada siswa agar kejadian serupa tidak terulang,” tutup Maria.
Baca juga: Murid SD di Ngada NTT Akhiri Hidup Diduga Karena Alat Tulis, Bupati: Bisa Jadi Faktor Lain
Kesaksian serupa juga datang dari para tetangga di Kampung Dona. Mereka mengenang YBR sebagai anak yang penuh energi dan sering bermain bersama teman sebaya.
Thadeus Sina, salah satu tetangga korban, mengatakan YBR kerap menghabiskan waktu bermain bola seperti anak-anak lain pada umumnya.
“Kami melihat dia sama seperti anak-anak lain, hobinya bermain,” kata Thadeus, Kamis (5/2/2026).
Namun di balik keceriaan itu, Thadeus mengungkapkan bahwa keluarga YBR hidup dalam keterbatasan ekonomi.
“Penglihatan saya sebagai tetangga, mereka keluarga sederhana dan kurang mampu secara ekonomi,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak pernah tampak mengurangi semangat dan keceriaan YBR di lingkungan sekitar.
Peristiwa meninggalnya YBR dengan cara tidak wajar membuat warga sekitar terkejut dan sulit menerima kenyataan.
“Kami semua kaget dan terpukul. Tidak menyangka anak sekecil ini bisa berakhir seperti ini,” ujarnya dengan nada heran.
Duka yang menyelimuti Kampung Dona terasa begitu dalam. Banyak pihak datang silih berganti untuk menyampaikan belasungkawa.
Pantauan di rumah duka menunjukkan kerabat, warga, hingga perwakilan sejumlah instansi pemerintah terus berdatangan.
Mereka hadir bukan hanya untuk berbelasungkawa, tetapi juga memberikan santunan kepada keluarga korban.
Informasi yang diterima media, perwakilan dari Kementerian Pendidikan juga dikabarkan sedang dalam perjalanan menuju Kampung Dona untuk menyampaikan perhatian dan dukacita secara langsung kepada keluarga YBR.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pahit bahwa persoalan sosial, ekonomi, dan akses kebutuhan dasar anak-anak di daerah terpencil masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua pihak.