PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan di Kuba Jika Pasokan Energi Terhenti akibat Blokade Minyak AS
February 05, 2026 05:17 PM

TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan kemungkinan “runtuhnya” kondisi kemanusiaan di Kuba jika kebutuhan energinya tidak terpenuhi, setelah Amerika Serikat memblokir seluruh pengiriman minyak ke negara kepulauan Karibia itu dan mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang membantu.

Dilaporkan Al Jazeera, peringatan pada Rabu (4/2/2026) tersebut muncul di tengah kelangkaan bahan bakar parah di Kuba yang menyebabkan pemadaman listrik selama berjam-jam, termasuk di ibu kota Havana, serta lonjakan harga pangan dan transportasi.

Juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan kepada wartawan di New York bahwa kepala PBB “sangat prihatin dengan situasi kemanusiaan di Kuba”, yang menurutnya akan “memburuk bahkan bisa runtuh jika kebutuhan minyaknya tidak terpenuhi”.

Dujarric juga mengingatkan bahwa selama lebih dari tiga dekade, Majelis Umum PBB secara konsisten menyerukan diakhirinya embargo perdagangan yang diberlakukan AS terhadap Kuba.

“Sekretaris jenderal mendesak semua pihak untuk menempuh dialog dan menghormati hukum internasional,” tambahnya.

Amerika Serikat dan Kuba telah menjadi musuh sejak Revolusi Kuba 1959 ketika Fidel Castro berkuasa dan pemerintah sosialisnya menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik AS. Washington kemudian merespons dengan sanksi ekonomi yang diperketat menjadi embargo penuh pada 1962.

Baca juga: Pesawat Kargo Militer Rusia Mendarat di Kuba, Pola yang Sama Terjadi Sebelum Penangkapan Maduro

Pulau Karibia itu telah lama terjerat krisis ekonomi dan sebelumnya bergantung pada Venezuela untuk pasokan minyak hingga pasukan AS menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam penggerebekan di kediamannya di Caracas bulan lalu.

Presiden AS Donald Trump kemudian mengklaim kendali atas minyak Venezuela dan berjanji akan menghentikan pasokan komoditas tersebut ke Kuba.

Ia menyebut Kuba sebagai “ancaman yang tidak biasa dan luar biasa” bagi AS, serta mengatakan ingin “membuat kesepakatan” dengan pimpinan Kuba tanpa menjelaskan bentuk perjanjian tersebut.

Trump juga mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara lain yang membantu Kuba, sehingga menimbulkan kekhawatiran di Meksiko yang saat ini menjadi pemasok utama minyak bagi pulau tersebut.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan pada Selasa bahwa negaranya menggunakan semua jalur diplomatik untuk memastikan pengiriman minyak mentah ke Kuba. Ia juga memperingatkan potensi krisis kemanusiaan di Kuba, tetapi tidak ingin negaranya “berisiko dalam hal tarif”.

“Kami sedang melihat cakupan” ancaman tarif Trump, “dan kami menggunakan semua jalur diplomatik,” ujarnya kepada wartawan.

Sheinbaum menambahkan bahwa Meksiko akan mengirim bantuan kemanusiaan ke Kuba pekan ini dan sedang mencari kesepakatan dengan Washington agar juga dapat mengirim minyak. “Belum ada kesepakatan mengenai hal ini,” katanya.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengecam ancaman tarif Trump pekan lalu dengan mengatakan pemimpin AS itu berencana “mencekik” perekonomian Kuba dengan dalih yang “palsu dan tidak berdasar”.

Kuba juga menyatakan “keadaan darurat internasional” dan menyebut langkah Trump sebagai “ancaman yang tidak biasa dan luar biasa”.

Menurut The Financial Times, Meksiko memasok sekitar 44 persen impor minyak Kuba, sementara Venezuela memasok 33 persen hingga bulan lalu. Sekitar 10 persen juga berasal dari Rusia dan sebagian kecil dari Aljazair.

Surat kabar Inggris itu juga mengutip perusahaan data Kpler yang melaporkan pada 30 Januari bahwa Kuba hanya memiliki persediaan minyak untuk 15 hingga 20 hari pada tingkat permintaan saat ini.

Kedutaan Besar AS di Kuba, sementara itu, memperingatkan warga Amerika di negara tersebut pada Selasa agar bersiap menghadapi “gangguan signifikan” akibat pemadaman listrik dan kekurangan bahan bakar.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.