Jakarta (ANTARA) - Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) mengerahkan tenaga pendamping terkait insiden anak sekolah dasar (SD) yang mengakhiri nyawanya di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri HAM Natalius Pigai menjelaskan pendampingan itu untuk membangun kesadaran HAM di tingkat desa hingga kabupaten/kota.
“Kami rekrut akan ada pendampingan pendamping untuk yang ditempatkan di desa-desa, ya, untuk mengontrol supaya mereka ikut membangun kesadaran HAM,” katanya dalam wawancara cegat di Jakarta, Kamis.
Menurut Pigai, tenaga pendamping itu akan melakukan langkah awal mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan membantu permasalahan prasarana, salah satunya sanitasi hingga drainase.
“Nanti mereka ikut identifikasi di lokasi tersebut, baru membantu dan menyampaikan kepada instansi yang terkait melalui Kementerian HAM," ungkapnya.
Ia melanjutkan, "Kalau ada kesulitan nanti kami punya pendamping itu yang akan bantu, misalnya kesulitan air bersih, drainase, prasarana sanitasi atau kemiskinan atau pengangguran. Jadi, kami sudah menyiapkan itu."
Selain itu, kata Pigai, Kementerian HAM telah menginstruksikan kantor wilayah (kanwil) di daerah terjadinya kasus tersebut untuk membantu terkait pendampingan di lapangan.
"Dari Kanwil HAM kemarin sudah turun, hari ini sudah di lapangan," ucapnya.
Sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya berinisial MGT (47).
Sepucuk surat itu berisi permintaan korban kepada ibundanya untuk tidak mencari dirinya, dan mengucapkan selamat tinggal.
Diketahui, korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya merupakan orangtua tunggal dan bekerja sebagai petani atau serabutan.
Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.







