TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Sejak tahun 2015 Sutrisno, Ketua Koordinator Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Sungai Raya Dalam aktif menjadi bagian dari tim pemadam kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan Barat.
Keterlibatan pria ini berawal dari kepedulian terhadap lingkungan serta keinginan menjaga kesehatan masyarakat dari dampak kebakaran hutan dan lahan.
“Salah satunya kepedulian kita sebagai manusia untuk lingkungan, juga untuk kesehatan kawan-kawan,” kata Sutrisno kepada Tribunpontianak.co.id, pada Jumat 30 Januari 2026.
Tergabung dalam tim MPA terinspirasi ketika mengalami langsung kejadian kebakaran menimpa bangunannya. Petugas pemadam kebakaran dinilai memiliki ketanggapan luar biasa dalam menjalankan tugas.
“Kalau dikatakan sosok, itu dari pemadam dulu. Sosok pemadam itu sangat luar biasa dan sigap,” katanya.
Keputusan Sutrisno menjadi anggota MPA mendapat dukungan penuh dari keluarga, meskipun pekerjaan tersebut memiliki risiko tinggi karena harus berhadapan langsung dengan api, suhu panas, serta waktu istirahat yang terbatas.
Menurutnya, dukungan keluarga sangat penting karena tugas ini juga menyangkut kesiapan mental dan kejiwaan. “Kalau untuk keluarga sangat mendukung, sangat mendukung sekali,” katanya.
Sutrisno juga menceritakan berbagai pengalaman berat selama bertugas, terutama saat musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Saat melakukan pemadaman di lapangan, para anggota MPA kerap mengalami kesulitan, mulai dari sulitnya mencari makanan hingga kesulitan menemukan sumber air.
Baca juga: Kisah Budiono Sudah 20 Tahun Jadi Pemadam Karhutla Kalbar
“Kadang-kadang kita mau mencari makan itu susah, mencari titik air juga susah. Itu momen yang mengingatkan kita bahwa di lapangan sangat-sangat berat,” ujarnya.
Pengorbanan terbesar yang harus ia hadapi adalah meninggalkan keluarga demi menjalankan tugas pemadaman.
Sutrisno menegaskan bahwa proses pemadaman kebakaran membutuhkan tenaga dan mental yang sangat kuat.
“Pengorbanannya tentunya waktu keluarga yang kita tinggalkan, karena pemadaman itu sangat berat,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa rasa takut pernah muncul saat bertugas, terutama ketika kondisi kebakaran sedang padat dengan asap tebal.
Keterbatasan oksigen dan perlindungan yang hanya mengandalkan masker membuat dirinya dan rekan-rekan sempat merasa cemas.
“Kita sempat ketar-ketir karena jauh dari oksigen, hanya menggunakan masker, itu salah satu rasa ketakutan yang kita rasakan,” katanya.
Salah satu peristiwa yang paling diingat Sutrisno adalah kebersamaan dengan rekan-rekan MPA di lapangan, di mana mereka harus bertugas bersama-sama tanpa pulang dan meninggalkan keluarga demi memadamkan api.
Selain itu, momen paling mengerikan terjadi ketika api sudah mendekati permukiman warga.
“Kalau sudah dekat pemukiman masyarakat itu sangat mengkhawatirkan. Itu salah satu momen yang paling kita ingat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kejadian tersebut terjadi belum lama ini, bahkan api sempat mendekati rumah warga dengan ketinggian mencapai dua hingga tiga meter.
Saat melihat hutan terbakar habis, Sutrisno mengaku merasa sangat sedih. Menurutnya, kerusakan alam tersebut menimbulkan polusi udara berupa asap dan debu yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.
“Sedih, karena alam kita terganggu, menjadi polusi, banyak asap dan debu yang menyebabkan anak-anak kita mudah tidak sehat,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti dampak asap kebakaran terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari terganggunya aktivitas sekolah hingga mata pencaharian warga.
Kondisi tersebut menimbulkan rasa iba dan keprihatinan mendalam. “Kita sangat kasihan melihat kondisi seperti ini. Aktivitas masyarakat berkurang, anak-anak juga terganggu,” katanya.
Dalam menjaga kondisi mental para anggota MPA di tengah cuaca ekstrem, Sutrisno sebagai ketua menekankan pentingnya penataan dan pembinaan moral.
Ia terus menanamkan semangat dan tujuan bersama kepada para anggotanya.
“Kita harus memupuk semangat, karena tujuan kita adalah tujuan yang baik,” ujarnya.
Jika suatu hari anaknya mengikuti jejaknya menjadi anggota MPA, Sutrisno mengaku akan merasa senang dan bangga. Namun, ia berpesan agar selalu berhati-hati karena kondisi di lapangan sangat berbahaya.
Sutrisno mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah Kalimantan Barat, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Menurutnya, praktik tersebut berdampak buruk pada kualitas udara dan kehidupan masyarakat secara luas.
“Jangan membuka lahan dengan sistem pembakaran. Mari kita bersama-sama mengendalikannya dengan baik dan menjaga semuanya,” pungkasnya. (*)
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!