Bulan Bahasa Bali VIII Digelar, Pelajar dan Ibu PKK Ikuti Lomba Nulis Aksara 
February 05, 2026 11:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku pengelola KEK Kura Kura Bali selenggarakan Bulan Bahasa Bali VIII di Desa Serangan Denpasar Selatan Bali, Kamis 5 Februari 2026.

Acara ini sekaligus mendukung program Pemerintah Provinsi Bali sesuai Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 yang mengatur pelindungan dan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra Bali serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali secara rutin setiap bulan Februari.

BTID bersama warga Pulau Serangan dan aparatur desa dalam berbagai perlombaan yang melibatkan warga desa mulai dari pelajar sekolah dasar hingga ibu-ibu PKK yang berasal dari enam banjar di Pulau Serangan.

Baca juga: Pertanyakan Izin Alih Fungsi Mangrove 82,14 Ha, Pansus TRAP DPRD Bali Sidak ke BTID KEK Serangan 

Adapun lomba-lomba yang digelar yakni lomba Nyurat Aksara atau Nulis Bali yang pesertanya dari pelajar Sekolah Dasar (SD) yang ada di wilayah Kelurahan Serangan.

Kepala Komunikasi BTID Zefri Alfaruqy mengatakan dukungan BTID terhadap berbagai perlombaan Bulan Bahasa Bali di Kelurahan Serangan merupakan wujud komitmen untuk tumbuh bersama masyarakat Bali. 

"Kehadiran kami di sini sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung program Pemerintah Provinsi Bali, khususnya dalam pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali," katanya.

Baca juga: Mahkamah Agung Tolak Kasasi PT BTID hingga Walikota Denpasar, Perkara Tanah di Desa Serangan Tuntas

Dia menambahkan, melalui kegiatan ini, literasi Bali tetap menjadi identitas yang kuat bagi setiap generasi penerus di Bali khususnya Pulau Serangan. 

"Kami berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya Bali," tegasnya. 

Lurah Desa Serangan Ni Wayan Sukanami menjelaskan, penyelenggaraan perlombaan Bulan Bahasa Bali di Desa Serangan melibatkan warga, pelajar sekolah dasar hingga ibu-ibu PKK yang berasal dari enam banjar di Pulau Serangan.

Adapun lomba-lomba yang digelar yakni lomba Nyurat Aksara atau Nulis Bali yang pesertanya dari pelajar Sekolah Dasar (SD) yang ada di wilayah Kelurahan Serangan.

“Kemudian lomba ngwacen itu pesertanya dari Sekehe Teruna yang mana dengan kategori anak SMA ataupun SMK. Terus peserta untuk lomba mesatua itu pesertanya dari ibu-ibu PKK di Banjar Adat yang ada di wilayah Kelurahan Serangan,” jelas Ni Wayan Sukanami.

Ia menyebut tujuannya melestarikan budaya Bali, terutama dalam bahasa Bali yang merupakan bahasa ibu.

Menurutnya, meskipun bahasa ibu di Pulau Serangan masih terjaga, akan tetapi pihaknya tetap melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat untuk menjaga dan melestarikan bahasa Bali yang mulai tergeser dengan kemajuan teknologi di era digitalisasi.

“Makanya sekarang ada tim-tim penyuluh dari provinsi, kemudian ditugaskan di kota untuk sebagai penyuluh bahasa Bali yang ditempatkan di masing-masing desa kelurahan,” jelasnya.

Ia berharap, bahasa Bali selalu bisa diminati terutama dari kalangan anak-anak muda.

"Kadang-kadang yang kita takutkan mereka justru harusnya bahasa Bali mereka mengerti, kadang-kadang mereka harus kita leskan lagi bahasa Bali itu kan salah ya. Makanya kita harapkan dengan adanya Bulan Bahasa Bali ini dapat menggugah mereka untuk lebih mencintai dan mengenal budaya Bali,” ujarnya.

Peserta lomba dari kategori Masatua (Dongeng) Ni Putu Priliyanti mengungkapkan, meskipun dirinya tidak optimis untuk memenangkan lomba yang diikuti akan tetapi Putu Priliyanti mengaku senang menjadi bagian dari peserta lomba dalam Bulan Bahasa Bali yang digelar setiap bulan Februari itu.

Menurutnya, keikutsertaanya dalam rangkaian Bulan Bahasa itu untuk melestarikan dan menjaga bahasa Ibu tidak punah.

Agar tidak punah ya bahasa Bali, karena kemajuan digital juga membuat bahasa Bali itu semakin tertinggal.

"Jadi dengan adanya lomba ini biar bisa lebih meningkat lagi, anak-anak juga lebih semangat untuk berbahasa Bali,” kata Apriliyanti. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.