Mengulik Kisah Bengkel Elektronik Jadul di Bantul, Kerap Jadi Jujukan Kolektor Mancanegara
February 06, 2026 01:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ratusan barang elektronik jadul terlihat berada di depan teras rumah seorang warga di Gang Merpati, Padukuhan Sawit, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Kamis (5/2/2026) pagi. 

Suasana hening berpadu dengan aroma timah terbakar cukup tercium dan siap menyambut para pelanggan yang mencari dokter bedah walkman.

Dokter bedah walkman 

Ketika Tribunjogja.com berada di lokasi tersebut, terlihat seorang laki-laki mengenakan kaus dan celana pendek berwarna hitam. Laki-laki itu tak lain Asriyadi, sosok dokter bedah walkman yang kerap dicari pecinta musik analog dari berbagai belahan negara.

Adi, sapaan akrabnya, juga terlihat cekatan. Tangan kirinya mampu memegang solder, tangan kanannya memegang pinset, dan ditujukan pada salah satu komponen dari walkman. 

Rupanya, ia sedang mencari salah satu komponen walkman yang rusak untuk segera dibenahi dan diserahkan kembali kepada pemilik walkman tersebut. Sebab, baru-baru ini, ada seorang pelanggan yang mengunjunginya dan meminta membenahi walkman yang rusak. Padahal, usia walkman itu sudah cukup tua dan suku cadangnya sudah cukup lama berhenti diproduksi.

Bagi sang pemilik, walkman itu bukan sekadar pemutar musik portabel yang sudah ketinggalan zaman, sehingga Adi terus berupaya membenahi kerusakan pada walkman itu.

"Solder dan pinset ini sudah menjadi teman saya sehari-hari. Ini saya gunakan untuk membongkar maupun memasang komponen yang rusak dari barang-barang elektronik yang rusak dan segera dilakukan perbaikan," katanya, sambil menatap komponen pada walkman tersebut.

Selain itu, ia juga menceritakan bahwa ada peralatan lainnya termasuk multitester untuk mengecek tegangan input dan output suara serta mengukur tegangan voltase. Tidak hanya itu saja, terdapat beberapa alat lainnya yang juga menjadi teman kerja selama beberapa tahun. Pasalnya, usaha tersebut telah ia tekuni mandiri, tanpa tenaga tambahan.

Awal mula buka usaha

Melalui label Dcell Jogja Store, Adi juga menceritakan bahwa usaha tersebut lahir dari rasa kecintaannya terhadap musik sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Akan tetapi, dikarenakan dulu masih memiliki keterbatasan ekonomi, sehingga tidak bisa memiliki walkman dan compact cassette atau kaset. Padahal, memiliki barang tersebut pada zaman dulu tergolong mewah, dikarenakan harga jual yang mahal.

"Lulus SMA, saya mulai cari-cari kerja dan mulai ngumpulin alat-alat sekitar tahun 2015-2016. Saya dulu kerja di toko handphone dan ada basic untuk servis handphone, jadi mulai otak-atik di sana. Tapi, saya mulai jenuh otak-atik handphone dan ketika ada waktu luang selesai kerja mulai otak-atik walkman sendiri," terangnya.

Sekitar tahun 2017-2018, Adi mulai terjun membuka toko konter handphone mandiri di Kota Yogyakarta. Namun, saat pulang ke rumah, Adi tetap menyempatkan waktu untuk mengotak-atik barang walkman miliknya. Ternyata, kegiatan Adi diketahui oleh teman-temannya. Apalagi, Adi kerap mencari walkman dan perangkat digital jadul lainnya.

"Tiba-tiba ada teman yang coba perbaiki walkman dan lainnya di tempat saya. Permintaan teman untuk perbaiki walkman, piringan hitam, dan sebagainya itu ternyata semakin banyak. Akhirnya, saya pindah ke sini (Gang Merpati, Padukuhan Sawit) untuk fokus dan pelan-pelan perbaiki komponen, tapi ternyata sekarang booming," ucap dia.

Pelanggan mancanegara

Laki-laki usia 41 tahun ini pun masih tidak menyangka, bahwa hobi tersebut membuahkan hasil yang luar biasa. Bahkan, warga dari Belanda, Jerman, Rusia, Australia, Cina, Malaysia, dan lain sebagainya juga mencari Adi untuk memperbaiki barang-barang walkman, radio, dan sejenisnya. Demikian pula dengan warga di beberapa kota Indonesia juga sempat mencari dia.

Ia mengaku sempat terkejut ketika ada warga negara asing yang mencari dia hanya untuk memperbaiki walkman di tempat usahanya. Namun, tidak hanya memperbaiki komponen yang rusak pada walkman tersebut, ada beberapa pelanggan negara asing yang juga membeli kaset jadul di tempatnya. Apalagi, Adi sudah cukup lama mengoleksi kaset jadul tahun 1960-an dengan berbagai genre. 

"Bule itu ternyata juga mengoleksi kaset dari Indonesia. Jadi, ada yang beli kaset. Dan kalau yang bule dari Belanda ini ternyata memang dua tujuannya yakni sengaja datang ke Indonesia untuk perbaiki walkman dan liburan. Karena ternyata dia sudah cukup lama mengikuti Instagram saya. Jadi, begitu sampai ke Indonesia dia bawa walkman yang rusak untuk diperbaiki dan sekalian beli beberapa kaset di tempat saya," urainya.

Sampai saat ini, sudah ada sekitar 1.000-an kaset di tempatnya untuk koleksi dan diperjualbelikan kepada pelanggan. Selain itu, Adi juga masih aktif mengoleksi boombox, tapedeck, dan radio tape. Beberapa barang elektronik tersebut juga ada yang diperjualbelikan kepada pelanggan.

Setiap Hari Menerima Pelanggan

Dalam kesempatan itu, Adi menyampaikan bahwa sampai saat ini dalam sehari bisa tiga sampai lima pelanggan yang ingin memperbaiki walkman, boombox, tapedeck, radio tape, dan lain sebagainya yang rusak. Namun, satu pelanggan itu bisa membawa sekitar satu sampai tiga alat elektronik jadul yang rusak.

"Jadi, mau servis satu unit radio tape, ternyata sampai ini bisa ada yang tukar tambah barang, beli kaset, bawa alat jadul yang rusak lainnya untuk dibenahi. Terus ada juga yang satu orang bisa bawa beberapa tape karena mungkin di luar negeri kaset pita sudah mulai produksi lagi," jelas dia.

Adapun durasi lama membenahi alat-alat tersebut tidak bisa dipukul rata. Kata Adi, lama pembenahan alat yang rusak disesuaikan dengan kerusakan dan komponen yang ada. Sebagai contoh, apabila ada kerusakan yang mudah ditemui dan diperbaiki, namun komponen dari suku cadangnya langka maka perlu waktu untuk mencari suku cadang tersebut.

"Kalau yang gampang bisa 15 menit selesai. Kalau yang berat-berat kerusakannya bisa berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Karena komponennya susah. Dan untuk harga servisnya ini mulai saya patok dari Rp50 ribu sampai seterusnya tergantung tingkat kerusakan tadi. Tapi, yang jelas, saya siap menerima pelanggan yang ingin memperbaiki barang elektronik tersebut, jual beli, sampai tuker tambah," ujar dia.

Kini, ia bersyukur bahwa hobi tersebut bisa memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari hingga menyekolahkan dua anaknya yang kini masih duduk di bangku SMA dan sekolah dasar (SD). 

Sementara itu, Rangga Baskara (26), pelanggan asal Kapenewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, mengaku sering datang ke tempat usaha Adi untuk sharing saling membeli produk atau sebagai rekan bisnis. Bahkan, saat ini, ia sedang mencari kaset dikarenakan ada pesanan dari konsumen.

"Lagi mau cari kaset karena lagi ada pesanan dari konsumen. Saya sudah cukup lama menekuni dunia yang sama dengan Mas Adi. Terus, saya tahu Mas Adi karena kenalan di tempat hunting. Dulu sering sharing-sharing sampai sekarang," tandas dia.(nei)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.