TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - DPRD DKI Jakarta menilai gagasan gentengisasi sejalan dengan visi besar penataan Jakarta menuju kota global, terlebih menjelang peringatan 500 tahun Jakarta dalam dua tahun ke depan.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mengatakan keterbatasan lahan dan efisiensi anggaran tidak boleh menjadi penghalang bagi pemerintah untuk terus menata Jakarta agar setara dengan kota-kota besar dunia.
“Menata kota, apalagi Jakarta sudah kita canangkan ke depan, dua tahun lagi 500 tahun. Kita ingin menjadi kota yang setara dengan kota-kota di luar negeri, global city. Artinya memang kita harus menata sebesar mungkin, secantik mungkin seluruh yang ada di Jakarta,” kata Yuke, saat ditemui, Rabu (4/2/2026).
Menurut Yuke, upaya penataan kota tidak hanya berfokus pada keindahan semata, melainkan juga harus memperhatikan aspek tata ruang dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Ia mencontohkan pembangunan taman dan ruang terbuka hijau yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga ramah lingkungan dan mudah dalam perawatan.
“Kalau selain memang cantik, tidak hanya cantik saja, tapi juga secara manfaat harus diperhatikan. Misalnya pohon yang ditanam itu tidak hanya menarik, tapi juga perawatannya tidak sulit dan hemat air,” jelasnya.
Yuke juga menyoroti pentingnya inovasi dalam program beautifikasi kota, termasuk pemanfaatan teknologi ramah lingkungan seperti penggunaan lampu tenaga surya atau solar cell di ruang publik.
“Hal-hal seperti itu harus diperhatikan. Jadi bukan cuma cantik, tapi ada kemanfaatan lainnya,” tambahnya.
Pernyataan Yuke sejalan dengan sikap Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menyatakan kesiapan penuh mendukung program gentengisasi sebagai bagian dari penataan lingkungan permukiman.
Program gentengisasi tersebut sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Presiden meminta para kepala daerah menertibkan lingkungan permukiman, termasuk penataan bangunan dan kebersihan kota.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Pramono menegaskan Pemprov DKI Jakarta siap mendukung penuh kebijakan pemerintah pusat.
“Termasuk kemudian untuk seng diubah menjadi genteng, 1.000 persen saya setuju,” kata Pramono di kawasan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (3/2/2026).
Menurut Pramono, penggunaan atap seng di permukiman padat berkontribusi terhadap panas dan ketidakteraturan visual kota, sehingga berpotensi menurunkan kualitas hunian warga.
Ia menegaskan, gentengisasi merupakan bagian dari langkah besar Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan Jakarta lebih rapi, bersih, dan nyaman.
“Arahan Bapak Presiden seribu persen pasti saya jalankan, karena saya memang berkeinginan Jakarta akan menjadi lebih rapi, lebih bersih,” ujarnya.
Selain permukiman, Pramono juga menekankan pentingnya penataan ruang publik secara menyeluruh, mulai dari trotoar hingga flyover yang kerap disalahgunakan.
“Saya benar-benar pengen menertibkan. Enggak ada lagi di Jakarta yang namanya flyover dipakai untuk kepentingan acara atau pemasangan atribut, karena itu mengganggu lalu lintas,” tegas Pramono.
Ia berharap program gentengisasi dan penataan lingkungan lainnya dapat meningkatkan kualitas hidup warga Jakarta, tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga kesehatan dan kelayakan hunian.
“Apa yang menjadi arahan Bapak Presiden untuk Jakarta, kami akan tindaklanjuti,” pungkasnya.