Silva Yenni Sulap Sampah Plastik Menjadi Produk Bernilai
M Iqbal February 06, 2026 10:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sampah plastik umumnya berakhir di tempat pembuangan akhir dan menjadi persoalan lingkungan.

Namun bagi Silva Yenni, tumpukan plastik justru membuka peluang baru.

Dari rumah sederhananya di Gang Dua Putri, Jalan Eka Tunggal, Pekanbaru, ia mengolah limbah plastik menjadi berbagai produk yang bermanfaat dan bernilai jual.

Bersama sang suami, Silva mengelola Cen Craft, usaha rumahan yang memproduksi aneka kerajinan dari bahan daur ulang.

Plastik kemasan yang kerap dianggap tak berguna disulap menjadi tas, tempat tisu, taplak meja, celemek, hingga gaun daur ulang.

Bahkan, dari usaha inilah Silva berhasil mengumpulkan biaya untuk menunaikan ibadah umrah tahun ini.

Perjalanan itu bermula pada 2019, saat Silva mendapat tugas di bank sampah di bawah pengelolaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru.

Awalnya, aktivitas mengolah sampah hanya bagian dari pekerjaan. Namun seiring waktu, ia dan suami mulai bereksperimen dengan plastik-plastik yang terkumpul.

"Awalnya itu karena tuntutan kerja saja, tapi akhirnya saya dan suami berkreasi dengan sampah plastik yang ada," kata Silva Yenni kepada Tribunpekanbaru.com.

Tanpa latar belakang khusus, seluruh proses kreatif ia pelajari secara otodidak. Pengalaman sebelumnya membuat kerajinan manik dan akrilik membantunya beradaptasi.

Tas belanja dari kemasan minyak goreng, deterjen, dan pewangi pakaian menjadi produk awal yang ia buat.

Sebagai tenaga honor di DLHK, Silva mengaku tidak pernah kekurangan bahan baku. Sampah plastik berasal dari tabungan masyarakat di bank sampah, kiriman teman, hingga plastik yang ia pungut sendiri saat melintas di jalan.

Setelah dipilah dan dibersihkan, plastik-plastik itu siap diolah kembali.

Kreasi Cen Craft terus berkembang. Gelang dari kemasan minuman disulap menjadi tempat tisu, rak minuman, vas bunga, hingga tempat permen.

Kantong plastik diubah menjadi bunga meja, kemasan kopi menjadi wadah hias, styrofoam dijadikan pajangan dinding, sementara tutup botol dirangkai menjadi ornamen dekoratif.

Tas belanja dari karung beras dan karung makanan kucing juga menjadi produk favorit. Bagian dalamnya dilapisi kain perca agar lebih kokoh.

Produk-produk tersebut mendapat sambutan positif, dengan pesanan datang dari sekolah, instansi pemerintah, hingga pembeli perorangan dari berbagai daerah seperti Jakarta, Semarang, hingga Bali.

Bagi Silva, kegiatan ini bukan sekadar soal produk dan penjualan. Setiap barang yang dihasilkan berarti mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Dari rumah kecilnya, ia menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bisa berjalan seiring dengan usaha yang memberi nilai tambah bagi keluarga dan lingkungan.

Kerap Diundang Sebagai Pembicara

Di luar aktivitas produksi, Silva Yenni juga aktif berbagi pengetahuan tentang pengelolaan sampah plastik.

Ia kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai kegiatan, mulai dari sekolah hingga forum lingkungan di luar daerah, seperti Lampung dan Tanjung Balai Karimun.

Dalam setiap kesempatan, Silva mengajak masyarakat lebih peka terhadap sampah di sekitar mereka. Menurutnya, tidak semua orang harus langsung membuat produk rumit.

Langkah sederhana seperti memilah sampah atau membuat eco brick dari botol bekas sudah menjadi kontribusi penting bagi lingkungan.

Ke depan, Silva berencana membangun workshop sederhana di belakang rumahnya dengan ukuran sekitar 5 x 7 meter. Ruang tersebut diharapkan menjadi tempat belajar bersama bagi warga sekitar yang ingin mengenal daur ulang dan pengelolaan sampah plastik.

Melalui Cen Craft, Silva ingin membuka ruang pemberdayaan, sekaligus mendorong masyarakat melihat sampah bukan semata sebagai masalah, tetapi sebagai sesuatu yang bisa diolah, dimanfaatkan, dan memberi dampak positif bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

(Tribunpekanbaru.com/Alexander)


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.