TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pohon randu alas setinggi 40 meter yang menjadi ikon Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah akhirnya selesai ditebang pada Jumat (6/2/2026).
Proses penebangan pohon berusia 250 tahun itu membutuhkan waktu selama lima hari terhitung sejak Senin (2/2/2026) lalu.
"Barusan jam 17.00 WIB selesai. Prosesnya agak lama. Orang-orang langsung bersorak. Pada bersyukur lah," kata warga Tuksongo, Atmojo, Jumat (6/2/2026).
Sesuai rencana awal, penebangan dilakukan dengan menyisakan sebagian batang pohon setinggi 8 meter.
Pemerintah desa akan menjadikan bagian pohon itu sebagai monumen untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat.
"Iya sisa 8 meter sekitar itu," jelasnya.
Dari video yang dibagikan Atmojo, terlihat momen terakhir penebangan pohon randu alas. Kala itu penebangan dilakukan secara manual tanpa menggunakan crane.
Batang terakhir randu alas kemudian ditarik hingga posisi miring dan ambruk menuju arah lapangan. Setelah ambruk, spontan warga pun bersorak sorai.
Penebangan pohon randu alas itu dilakukan berdasarkan rekomendasi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang menilai pohon tersebut sudah mati sehingga berisiko tinggi dan berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat sekitar.
Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Kearifan Lokal Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang, Joni Budi Hermanto, mengatakan penebangan akan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari DLH, DPU, relawan, perangkat desa, hingga masyarakat setempat.
“Hari, Senin Insyaallah, kami dari DPU, DLH, dari relawan dan Tim Pak Kades, tentu masyarakat Tuksongo. Rencananya akan memotong pohon itu,” kata Joni, Minggu (31/1/2026).
• Gus Yusuf Ungkap Nasib Guru Madrasah Swasta ke Menag: Gaji Rp400 Ribu, Malamnya Ngojek
Ia menjelaskan, rencana tersebut telah dibahas dalam rapat bersama sejumlah OPD di Balkondes Tuksongo pada Senin (26/1/2026), setelah Pemdes Tuksongo mengirimkan surat kepada Bupati Magelang dan DLH menerima tembusannya.
“Sesuai surat yang dikirimkan Pak Kades kepada Pak Bupati, kami mendapatkan tembusan. Di mana, kami beberapa OPD yang lalu, Senin (26/1/2026) rapat di Balkondes Tuksongo. Kesepakatan, sesuai arahan dari kajian Tim Kajian UGM bahwa itu (randu alas) sudah mati,” sambungnya.
Menurut Joni, Tim Kajian UGM memberikan tiga opsi penanganan randu alas. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Desa Tuksongo memilih opsi ketiga dengan mempertahankan sebagian batang pohon sebagai monumen.
“Pak Kades Tuksongo juga ngeman (menyayangkan) karena gunanya sebagai tetengger juga sebagai tanaman ikonik di wilayah itu. Disisakan (penebangan) kurang lebih sampai batang pertama yang sudah dipotong sesuai arahan UGM. Kira-kira 4 sampai 5 meter,” tambahnya.
Joni menambahkan, DLH Kabupaten Magelang akan mengerahkan 20 tenaga kerja, lima unit gergaji senso, satu dump truk, dan satu unit crane. Selain itu, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga akan menurunkan satu unit crane dan 10 tenaga kerja, sementara BPBD akan mendirikan dapur umum untuk mendukung para relawan.
“Kemudian dari DPU, satu crane, 10 tenaga kerja. BPBD menyampaikan akan membuat dapur umum, untuk membantu relawan yang giat di Tuksongo,” ungkap Joni. (tro)