Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Kisah Damar bersama tujuh pelajar lain menyeberangi Sungai Way Bungur menuju Desa Tanjung Tirto demi sekolah pada Jumat (6/2/2026) menjadi gambaran nyata perjuangan siswa di Lampung Timur.
Damar, pelajar kelas 3 SMK asal Kampung Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, mengaku sering terlambat masuk sekolah karena harus mengantre perahu penyeberangan, yang biasa disebut perahu tambang.
Setiap hari, Damar dan tujuh rekannya harus menempuh jalur ini karena pembangunan jembatan penghubung antara Desa Tanjung Tirto dan Kali Pasir hingga kini mangkrak, memaksa mereka bergantung pada penyeberangan sungai sebagai akses tercepat menuju sekolah.
Mereka harus menunggu antrean hingga sekitar satu jam karena padatnya penumpang yang didominasi pelajar pada pagi hari. Damar bersekolah di SMKN 1 Way Bungur yang berada di Desa Tambah Subur, Kecamatan Way Bungur.
Meski masih dalam satu kecamatan, pelajar asal Desa Kali Pasir harus menyeberangi sungai sebagai akses tercepat menuju sekolah.
“Saya dan teman-teman terlambat bukan karena kesiangan, tapi karena menunggu antrean perahu, lumayan lama, sekitar satu jam,” kata Damar kepada Tribunlampung.co.id.
Ia mengungkapkan, keterlambatan akibat antrean perahu merupakan hal yang kerap ia alami.
Meski penyeberangan tergolong singkat dan telah disediakan satu perahu gratis khusus pelajar, jumlah penumpang yang banyak membuat para siswa harus saling berebut agar bisa berangkat di awal.
“Kalau pagi penumpangnya penuh anak sekolah. Sekali pagi bisa sampai lima kali keberangkatan perahu, dan kebetulan kami ini yang terakhir,” ujarnya. Setelah menyeberang sungai, Damar masih harus menempuh perjalanan darat sekitar 10 menit menuju sekolah. Kondisi ini, menurutnya, sudah berlangsung sejak lama.
“Kalau jalan lain sebenarnya ada, tapi mutar dan jauh. Selain itu, jalan desanya juga rusak, banyak lubang dan bergelombang,” kata dia. Kendala serupa dialami siswa dari wilayah lain yang bersekolah di Way Bungur.
Bertambahnya jumlah murid setiap tahun turut berdampak pada semakin panjangnya antrean penyeberangan. Damar pun berharap, jembatan penghubung Way Bungur yang selama ini diidam-idamkan masyarakat dapat segera diperbaiki.
“Kalau jembatannya sudah bagus, pelajar nggak sering terlambat berangkat sekolah dan nggak dapat hukuman,” harapnya. Harapan tersebut kian menguat setelah Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau langsung kondisi Jembatan Way Bungur di Desa Kali Pasir, Kabupaten Lampung Timur, Kamis (5/2/2026).
Kunjungan tersebut menjadi angin segar bagi warga setelah penantian panjang terhadap pembangunan jembatan vital penghubung antarwilayah. Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas perhatian serius terhadap pembangunan Jembatan Way Bungur yang kini masuk dalam prioritas nasional.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dan seluruh masyarakat, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden Republik Indonesia dan jajaran pemerintah pusat,” ujar Ela.
Menurutnya, keberadaan Jembatan Way Bungur memiliki peran strategis dalam meningkatkan konektivitas, memperlancar mobilitas warga, serta mendorong aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan.
Ela menegaskan, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur berkomitmen mengawal program strategis tersebut dan optimistis pembangunan jembatan akan membawa dampak positif signifikan bagi kemajuan daerah.
“Ini menjadi bukti bahwa pembangunan akan lebih kuat jika didukung bersama oleh pemerintah dan masyarakat,” tutupnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)