Ibu Pendeta J Tehuayo Minta Anak-anak di Ambon Jaga Circle Pertemanan
Fandi Wattimena February 07, 2026 04:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Ibu Pendeta Pdt. J. Tehuayo menyampaikan pesan penting kepada anak-anak di Kota Ambon.

Pesan ini juga dikhususkan untuk para siswa yang akan menghadapi ujian akhir, agar menjaga kesehatan, kekuatan mental, serta lingkungan pergaulan atau circle pertemanan.

Pesan tersebut disampaikannya saat diwawancarai TribunAmbon.com usai memimpin ibadah doa bersama di Gereja Joseph Kam, kawasan Belakang Soya, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Jumat (6/2/2026).

Ibadah doa bersama itu diikuti ratusan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Ambon sebagai bentuk persiapan mental, spiritual, dan moral menjelang ujian yang akan mereka hadapi.

Pdt. J. Tehuayo menegaskan pentingnya cara pandang siswa dalam menghadapi ujian. 

Ia mengajak para pelajar untuk tidak melihat ujian sebagai beban, melainkan sebagai proses kehidupan yang harus dilalui demi masa depan.

Baca juga: DLHP Bersihkan Setengah Ton Sampah dan Lumpur Selokan Gedung Pasar Mardika

Baca juga: Siap-siap Diciduk! Polisi Kantongi Daftar Nama Penyebar Video Asusila GEGP

“Kepada adik-adik siswa kelas XII, khususnya SMA Negeri 1 Ambon, mari melihat ujian ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai proses dan langkah untuk maju ke masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, jika ujian dipandang sebagai beban, maka yang muncul adalah rasa takut, gelisah, ragu, bahkan hilangnya kepercayaan diri. 

Sebaliknya, jika ujian dimaknai sebagai fase lanjutan kehidupan, siswa akan memiliki pengharapan, semangat, dan daya juang.

“Itu yang saya sampaikan dalam khotbah tadi, supaya anak-anak punya kekuatan untuk menembus fase ini. Jangan sampai kekhawatiran justru mematikan semangat berjuang mereka,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, terutama di usia muda yang rentan terpengaruh pergaulan.

Menurutnya, salah pergaulan dapat berdampak langsung pada kesehatan fisik maupun mental siswa, terutama di masa persiapan ujian.

“Dalam masa persiapan ujian, anak-anak harus menjaga lingkungan dan juga menjaga diri. Kalau bahasa anak-anak sekarang, menjaga circle. Kalau circle tidak betul, maka lingkungan yang dijalani juga tidak betul, dan itu bisa berdampak pada kesehatan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kesehatan dan lingkungan pergaulan yang baik merupakan bagian dari support system utama agar anak-anak tetap mampu melangkah dan berjuang mencapai cita-cita mereka.

Tak hanya siswa, Pdt. J. Tehuayo juga menyoroti peran orang tua yang dinilainya sangat penting, bukan hanya dalam dukungan finansial, tetapi juga pendampingan moral dan emosional. 

Orang tua harus menjadi tempat anak berbagi cerita dan keluh kesah.

Ia mengingatkan agar orang tua tidak menekan anak dengan standar atau nilai yang justru menjadi beban psikologis. 

Kalimat-kalimat yang bernuansa intimidatif, menurutnya, bisa berdampak buruk bagi mental anak.

“Jangan sampai orang tua menjadi pola intimidasi, misalnya mengatakan kalau tidak lulus itu mempermalukan keluarga atau merusak harkat dan martabat. Itu bisa menjadi beban berat bagi anak-anak,” ujarnya.

Sebaliknya, ia menganjurkan agar orang tua menyampaikan kepada anak bahwa apa pun hasil ujian nanti, mereka telah berusaha melakukan yang terbaik. 

Orang tua diharapkan tetap menjadi pendamping, penopang, dan berjalan bersama anak dalam setiap proses kehidupan.

“Orang tua harus hadir di setiap sisi hidup anak, termasuk dalam proses menghadapi ujian ini. Jangan semua tanggung jawab dilemparkan ke pihak sekolah. Ini tanggung jawab bersama,” katanya.

Menurut Pdt. J. Tehuayo, keterlibatan orang tua juga mencakup pengaturan waktu belajar di rumah serta membangun kekuatan spiritual anak, misalnya dengan mendoakan mereka secara rutin dalam keseharian.

“Dengan dukungan keluarga, lingkungan yang sehat, dan kekuatan iman, anak-anak akan lebih siap menghadapi ujian dan melangkah ke masa depan dengan percaya diri,” tutupnya. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.