Jika pendidikannya bermutu dan gurunya hebat, insyaallah murid-muridnya juga akan hebat
Surabaya (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menekankan bahwa pendidikan harus menumbuhkan kecerdasan dan nilai hati agar ilmu melekat serta membentuk karakter kuat siswa Amanatul Ummah Surabaya dalam pembinaan generasi muda berdaya saing nasional.
“Ilmu itu ada di dalam hati, bukan hanya di dalam tulisan. Ketika ilmu sudah masuk ke hati, maka ilmu itu tidak ke mana-mana,” kata Abdul Mu’ti saat memberikan pengantar pengajian di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya, Sabtu.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), penting untuk dikuasai, namun tidak boleh menjadikan manusia bergantung sepenuhnya pada teknologi.
Menurutnya, teknologi hanya bekerja selama ada listrik dan jaringan pendukung.
“Teknologi harus kita kuasai, tetapi teknologi tidak boleh menjadi juragan kita. Kita harus berada di atas teknologi, bukan diperbudak olehnya,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia harus diarahkan pada pembentukan generasi dengan tiga karakter utama, yakni knowledgeable, capable, dan humble.
Generasi knowledgeable dipahami sebagai generasi berilmu luas dan mendalam, yang dalam istilah Al Quran disebut ulul ilmi dan rasikhuna fil ilmi, melalui kebiasaan membaca, bertanya, dan belajar sepanjang hayat.
Sementara itu, generasi capable merupakan generasi yang memiliki kecakapan hidup dan keterampilan, termasuk penguasaan teknologi dan kemampuan adaptasi.
Ia mencontohkan pesan Ali bin Abi Thalib tentang pentingnya membekali anak dengan keterampilan hidup.
Adapun generasi humble adalah generasi yang ber-akhlakul karimah, berintegritas, mampu bekerja sama, dan memiliki empati sosial.
Menurutnya, nilai moral menjadi syarat penting dalam dunia kerja global.
“Ilmu tinggi dan keterampilan hebat harus dibarengi akhlak mulia. Tanpa integritas, orang akan sulit diterima di mana pun,” katanya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menegaskan komitmen Kemendikdasmen untuk mewujudkan kebijakan pendidikan bermutu untuk semua, dengan penguatan peran guru sebagai kunci utama.
“Jika pendidikannya bermutu dan gurunya hebat, insyaallah murid-muridnya juga akan hebat. Dari sanalah Indonesia yang maju dan bermartabat dapat terwujud,” tuturnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Prof KH Asep Saifuddin Chalim, mengaku bersyukur atas kehadiran Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam kegiatan tersebut.
“Saya sangat berbahagia karena beliau bisa hadir. Sejak lama beliau menyampaikan keinginan untuk datang ke sini,” kata Asep.
Ia mengenang bahwa Amanatul Ummah mulai dirintis pada 2006 di Pacet, Mojokerto dengan lokasi yang sulit dijangkau dan nyaris tidak pernah didatangi orang.
Saat itu, jumlah santri masih terbatas, yakni 48 orang, terdiri atas 23 santri putri dan 25 santri putra yang tinggal di asrama.
“Asrama putri waktu itu berasal dari bangunan bekas, bahkan ada yang sebelumnya kandang ayam. Saya bersihkan, gentengnya diperbaiki, dipanjangkan, dan digunakan bersama selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Menurut KH Asep, seluruh proses pembangunan dilakukan secara bertahap dengan penuh kesederhanaan, namun berlandaskan niat kuat untuk membangun rumah pendidikan yang bertanggung jawab dan berorientasi pada pembentukan karakter santri.
“Sistem pendidikan yang tepat dan bertanggung jawab itu yang kami jaga. Dari kondisi serba terbatas, kami ingin melahirkan lembaga pendidikan yang benar-benar memberi manfaat,” katanya.







