SRIPOKU.COM, PALI – Gaun pengantin berwarna putih keabuan itu tampak kontras dengan warna cokelat air luapan Sungai Lematang yang menggenangi jalanan Desa Pandan, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan (Sumsel).
Namun, bagi Nanda dan Ani, air setinggi lutut orang dewasa itu bukanlah penghalang, melainkan saksi bisu dimulainya lembaran baru hidup mereka.
Jumat (6/2/2026) menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh warga setempat.
Di saat sebagian orang mengeluhkan banjir, sepasang kekasih ini justru mengukir sejarah dengan cara yang tak biasa, menuju pelaminan menggunakan perahu kecil.
Ani, sang "Ratu Sehari", tampak anggun dengan mahkota yang melingkar di kepalanya. Meski harus berjongkok di bagian depan perahu demi menjaga keseimbangan, wajahnya tetap berseri-seri. Tangannya erat memegang pinggiran perahu, sementara matanya memancarkan kebahagiaan saat menyapa para tamu undangan yang berdiri di tepian jalan setapak yang terendam.
Di sisi lain, Nanda, sang pengantin pria, menunjukkan kegagahannya dengan cara yang berbeda.
Mengenakan tanjak dan busana pengantin lengkap, ia tak segan membantu kerabatnya yang bertindak sebagai nakhoda untuk menguras air yang masuk ke dalam biduk.
Kerja sama kecil di atas perahu itu seolah menjadi simbol kesiapan mereka mengarungi "bahtera" rumah tangga yang sesungguhnya.
Suasana semakin magis dengan kehadiran musik Tanjidor, kesenian tradisional khas Tanah Abang, PALI.
Para pemain musik tetap bersemangat mengarak pengantin meskipun kaki mereka terendam air.
Kades Pandan MG Nisar mengungkapkan, pengantin terpaksa dibawa menggunakan perahu karena lokasi terendam banjir.
Namun meski begitu, tidak mengurangi hikma pernikahan.
Pengantin kata dia tetap diiringi oleh tanjidor.
"Perahu pengantin di depan dan pemain musik tanjidor dan warga yang mengiringi dari belakang berjalan di genangan air," kata dia.
Tentunya keseruan ini membuat momen pernikahan menjadi viral dan berkesan, baik bagi pasangan pengantin maupun para tamu undangan yang menyaksikan.
"Tentunya pernikahan Nanda dan Ani sangat berkesan dan menjadi sejarah hidup diakhir masa lajangnya," tandas MG Nisar.