Mantan Gubernur BOJ  Kuroda Haruhiko Peringatkan Kebijakan Ekonomi PM Jepang Takaichi
Eko Sutriyanto February 09, 2026 03:32 PM

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Mantan Gubernur Bank of Japan (BOJ), Haruhiko Kuroda, melontarkan peringatan keras terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dinilainya terlalu menekankan ekspansi fiskal.

Menurut Kuroda, dalam kondisi ekonomi saat ini Jepang justru perlu mengetatkan kebijakan moneter dan fiskal bukan sebaliknya.

Pandangan tersebut disampaikan Kuroda dalam dialog dengan ekonom Yusuke Narita yang dimuat majalah Bungeishunju edisi Maret. 

Kuroda menilai pendekatan yang efektif pada era Abenomics tidak otomatis relevan saat ini.

“Pada masa Abenomics, Jepang menghadapi yen kuat dan deflasi, sehingga pelonggaran moneter dan fiskal bekerja efektif. Namun sekarang kondisinya berbalik—yen melemah dan inflasi meningkat. Secara prinsip, kebijakan moneter dan fiskal seharusnya diperketat,” ujar Kuroda.

Baca juga: Waspadai Lonjakan Inflasi Kuartal I 2026 karena Kenaikan Harga Pangan dan MBG

Risiko Dorong Inflasi

Kuroda menambahkan, dukungan fiskal untuk teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) masih dapat dibenarkan. 

Namun, kebijakan bantuan konsumsi langsung untuk meredam kenaikan harga—misalnya dalam bentuk kupon pangan—berisiko memperparah tekanan inflasi alih-alih menenangkannya.

Menanggapi pertanyaan soal apakah kebijakan pelonggaran ekstrem yang ia pimpin turut memicu pelemahan yen saat ini, Kuroda menepis anggapan tersebut. 

Kuroda  menegaskan pelonggaran ekstrem berakhir pada 2023, dan sejak 2024 BOJ di bawah Gubernur Kazuo Ueda telah memulai normalisasi kebijakan melalui kenaikan suku bunga bertahap.

Menurut Kuroda, pelemahan yen belakangan lebih dipicu kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal di bawah agenda ekspansi besar pemerintahan Takaichi—fenomena yang disebut pelaku pasar sebagai “Takaichi trade”, yakni aksi jual yen karena kekhawatiran defisit dan pembiayaan jangka panjang.

Isu Lanjutan

Dalam wawancara tersebut, Kuroda juga menyinggung potensi risiko neraca BOJ, dinamika pendapatan riil masyarakat, serta pengalaman praktisnya terkait intervensi nilai tukar. 

Pernyataan Kuroda menambah bobot perdebatan publik pascapemilu, saat pemerintah Jepang berupaya menyeimbangkan pertumbuhan, stabilitas harga, dan kredibilitas fiskal di tengah tekanan pasar global.

Diskusi  perekonomian   di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.