TRIBUNWOW.COM - Inilah tata cara dan bacaan niat qadha Puasa Ramadhan tahun lalu, bagi umat Muslim yang masih memiliki utang puasa.
Utang puasa ini wajib dilunasi, sebelum Puasa Ramadhan 2026 tiba, yang diprediksi jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026 mendatang.
Puasa Ramadhan termasuk rukun Islam ketiga, sehingga hukumnya wajib dilaksanakan, apabila ditinggalkan, maka akan berdosa.
Namun, seperti dikutip Tribunwow.com dari rumahzakat.org, tidak semua orang dapat melaksanakan puasa Ramadhan secara langsung karena beberapa alasan yang diakui oleh syariat.
Baca juga: Prediksi Awal Puasa Ramadhan 2026 Versi BRIN, Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah, Berbeda atau Sama?
Seperti sakit yang membahayakan kesehatan, berada dalam perjalanan jauh yang melelahkan, atau kondisi khusus bagi wanita seperti masa haid atau nifas.
Dilansir Badan Amil Zakat Nasional, umat Islam diwajibkan untuk menggantikan (qadha’) puasa Ramadhan pada hari-hari yang lain, seperti yang tercantum pada Surah Al-Baqarah Ayat 184 :
اَيَّامًا مَّعْدُ وْدٰ تٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْ نَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّ هٗ ۗوَ اَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ١٨٤
Ayyāmam ma‘dūdātin. Faman kāna minkum marīḍan aw ‘alā safarin, fa‘iddatun min ayyāmin ukhar. Wa ‘alal-ladhīna yuṭīqūnahu fidyatun ṭa‘ām miskīn. Faman taṭawwa‘a khairan, fa huwa khairun lahu. Wa an taṣūmū khairun lakum, in kuntum ta‘lamūn.
Artinya : "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
Puasa pengganti tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus seperti pada saat bulan Ramadhan, melainkan juga perlu didasari niat yang benar, pelaksanaan pada waktu yang sesuai, serta menjaga adab ibadah dan memperbanyak amalan selama menjalankannya.
Baca juga: Kenali Hal-hal yang Membatalkan Puasa agar Ibadah Berjalan Khusyuk dan Sesuai Syariat
Pada umumnya, tata cara melaksanakan puasa qadha tidak memiliki perbedaan yang jauh dengan puasa wajib yang dilakukan di bulan Ramadhan.
Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Menentukan Hari Pelaksanaan Puasa Qadha Ramadhan
Memilih hari di luar bulan Ramadhan menjalankan puasa qadha yang kondisinya memungkinkan, dan jangan lakukan pada hari-hari yang dilarang untuk berpuasa (seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha).
2. Membaca niat Puasa Qadha Ramadhan
Saat melaksanakan puasa qadha, niat perlu diucapkan dengan jelas baik secara lisan maupun dalam hati.
Sebaiknya niat tersebut dibaca pada malam hari sebelum hari berpuasa, atau saat sahur.
Berikut ini adalah contoh niat puasa qadha yang benar:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha-i fardhi ramadhaana lillaahi ta’aalaa.
Artinya : “Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa wajib Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
3. Makan Sahur
Walaupun sahur bukan kewajiban, namun sangat disunnahkan untuk dilakukan guna memperkuat kondisi fisik serta mengikuti sunnah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
4. Menjaga Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa
Hindari melakukan aktivitas seperti makan, minum, hubungan suami istri, serta tindakan lain yang dapat membatalkan puasa atau mengurangi nilai pahalanya.
6. Berbuka Puasa dengan Diawali Doa
Pada saat berbuka, disarankan untuk membaca doa berikut :
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu
Yang artinya: “Ya Allah, untuk-Mu lah aku berpuasa, dan dengan rezeki yang datang dari-Mu lah aku berbuka.”
Selain itu, juga dapat membaca doa :
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahabadzh dzhama-u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-Allah
Yang artinya: “Telah hilang rasa dahaga, urat-urat tubuh telah terasa segar kembali, dan pahala akan tetap ada, insyaallah.”.
(Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret, Ratna Desti Astuti/TribunWow.com, Lailatun Niqmah)