TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Eks Ketua GMNI Kendari, Rasmin Jaya, menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada insan pers di seluruh Indonesia dalam momentum Hari Pers Nasional (HPN).
Apresiasi ini diberikan atas sinergitas dan kolaborasi dalam setiap aktivitas dan giat organisasi selama ini.
Pers memiliki peran strategis sebagai pilar demokrasi, penjaga akal sehat publik, sekaligus mitra kritis dalam proses pembangunan nasional dan daerah.
“Pers bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga penjaga nurani publik. Melalui kerja dari produk jurnalistik yang profesional dan beretika, pers membantu masyarakat mendapatkan informasi yang benar, berimbang, tepat, akurat, dan mencerahkan," tegasnya.
Namun di tengah derasnya arus informasi dan tantangan era disrupsi digital, peran pers justru semakin penting.
Baca juga: Kendari Book Party Rayakan Hari Pers Nasional 2025, Dengar Cerita Pekerja Media di Sulawesi Tenggara
Tanpa pers sebagai instrumen untuk penyampaian informasi dan kegiatan kepada publik, maka gagasan yang dikemas dan tema-tema strategis tak mungkin bisa tersampaikan langsung kepada pemerintah ataupun publik.
Selama ini, ia menjadikan media sebagai mitra, untuk membangun sinergitas, baik media massa konvensional maupun media sosial, untuk menyebarkan informasi mengenai kegiatan organisasi, isu strategis yang dikawal, dan pandangan politik mereka kepada masyarakat luas.
Baca juga: Ucapan Pj Gubernur Sulawesi Tenggara Andap di Hari Pers Nasional 2024, Harap Kawal Keutuhan Bangsa
"Melalui pers yang berfungsi sebagai sarana untuk menciptakan opini masyarakat dan mengawal isu-isu sosial di berbagai sektor," ujarnya.
Ia memandang pers sebagai mitra kritis dan strategis bagi berbagai pihak stakeholder serta instansi terkait dan media memainkan peran penting dalam fungsi kontrol sosial ini dengan mempublikasikan kegiatan GMNI yang mengawasi kebijakan publik.
"Sinergi dan kolaborasi ini memungkinkan GMNI untuk memperluas jangkauan gerakan, meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu penting, dan memastikan akuntabilitas pemangku kepentingan," bebernya.
Ia bersyukur dalam proses perjalanannya memimpin GMNI Kendari selama dua tahun, peran media tak bisa dipisahkan dalam setiap aktivitas giat organisasi.
"Dengan menjadi mitra kritis dan strategis saya pikir kita bisa bersama-sama mengawal proses pembangunan dan kebijakan daerah serta penting untuk mendorong gagasan-gagasan dan program yang konstruktif yang berdampak pada pembangunan serta pemberdayaan pemuda," jelasnya.
Baca juga: PWI Awards 2026 untuk Anggota Dewan Pers Dahlan Dahi dari Wakatobi, Rajut Perbedaan Dua Kubu PWI
Selain itu, dalam sektor sosial, ekonomi, politik dan demokrasi GMNI Kendari selalu menjadi pelopor yang menginisiasi wacana yang dirasa penting untuk pengembangan sektor-sektor tersebut.
Sehingga ia optimis, dengan kolaborasi bersama media dan organisasi gerakan yang lain bisa mencapai apa yang menjadi tujuan bersama, dan media juga menjadi posisi yang sangat strategis dalam mengontrol segala kebijakan pemerintah daerah, provinsi dan pusat.
Meski demikian, perkembangan media sosial membawa dampak signifikan terhadap gerakan mahasiswa.
Tak lagi sekadar turun ke jalan, kini suara kritis mahasiswa sering digaungkan melalui media sosial.
Ia menilai, kampanye di medsos telah menjadi tren yang tidak bisa dipandang remeh.
Baca juga: CEO Tribun Network Dahlan Dahi Sebut Jurnalis Dilahirkan Tuhan Untuk Mengabdi Kepada Publik
Tak hanya sebagai sarana kampanye, ruang digital juga dimanfaatkan oleh aktivis GMNI Kendari untuk konsolidasi pergerakan.
Ia menambahkan, ini adalah cara efektif, terutama bagi Gen Z yang memang sangat lekat dengan perangkat digital.
Meskipun media sosial memberi kemudahan, Rasmin Jaya menegaskan bahwa aksi turun ke jalan tetap memiliki daya dobrak yang berbeda.
“Aksi langsung lebih terasa dampaknya, karena ada tatap muka dengan pembuat kebijakan. Tentu juga hal demikian memiliki tantangan tersendiri dengan penuh dinamika dan pergolakan," bebernya.
“Kampanye lewat medsos memang lebih praktis dan mudah dilakukan,” ujarnya.
Baca juga: CEO Tribun Network Dahlan Dahi Sebut Perjuangan Jurnalis Mengabdi kepada Publik, Bukan Kekuasaan
Hanya saja, medium dan gaya mereka dalam menyampaikan kritik mengikuti perkembangan zaman, di mana medsos menjadi pilihan utama.
Ia pikir ini adalah bentuk pengabdian yang paling konkret, dalam memberikan efek perubahan kepada mahasiswa dan masyarakat secara umum.
Pada peringatan Hari Pers Nasional ini, ia berharap insan pers Indonesia terus meningkatkan profesionalisme, memperkuat literasi publik, serta tetap menjaga idealisme di tengah berbagai tantangan industri media.
“Selamat Hari Pers Nasional. Teruslah menjadi suara kebenaran, penyeimbang kekuasaan, dan cahaya bagi demokrasi Indonesia,” ujarnya. (*)
(TribunnewsSultra.com)