Melukis untuk Bicara: Agung Fadilah, Guru Disabilitas Cirebon dan 24 Karya tentang Indonesia
Dwi Yansetyo Nugroho February 09, 2026 09:29 PM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Bagi Agung Fadilah, melukis bukan sekadar aktivitas seni.

Di balik setiap guratan warna di atas kanvas, ada cara lain untuk berbicara, menyampaikan perasaan dan mengekspresikan isi hati yang tak selalu mudah diucapkan dengan kata-kata.

Itulah yang tercermin dalam pameran tunggal lukisan Agung Fadilah, guru disabilitas asal Cirebon, yang menampilkan 24 karya tentang Indonesia dan keberagamannya.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini di Kuningan dan Indramayu Naik Rp 20 Ribu per Gram, Sentuh Rp 2,94 Juta


Pantauan Tribun di Galeri Gramedia Grage Mal Kota Cirebon, Senin (9/2/2026), salah satu karya yang paling menyita perhatian pengunjung berjudul 'Wanita Pesona Nusantara'.

Lukisan yang dibuat pada 2023 itu berukuran 80 x 120 sentimeter, menggunakan media akrilik dan cat minyak di atas kanvas.

Karya tersebut menampilkan lima sosok perempuan dengan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Dari kiri ke kanan, tampak perempuan mengenakan busana adat Dayak lengkap dengan hiasan kepala bulu burung enggang dan tameng tradisional Talawang, kebaya hitam khas Jawa, sosok utama dengan mahkota emas Bali (Payas Agung), perempuan dengan kain tenun khas Nusa Tenggara, hingga sosok perempuan Papua dengan riasan wajah khas.

Baca juga: 3 Atlet Paralympic Kuningan Diajak Apel Bareng ASN Usai Raih Emas di ASEAN Para Games Thailand


Di bagian latar belakang, Agung menghadirkan elemen bendera Merah Putih yang berkibar dinamis, dipadukan dengan ilustrasi tokoh wayang kulit dan penari tradisional yang samar.

Detail riasan wajah, tekstur kain, serta kilau perhiasan emas digarap dengan gaya realis yang halus, memperkuat pesan persatuan dalam keberagaman.

Berdasarkan deskripsi karya yang tertera, lukisan ini menjadi simbol kebanggaan terhadap Bhinneka Tunggal Ika, bahwa perbedaan budaya tetap menyatu dalam satu identitas Indonesia.

Guru Agung sejak kelas 3 SD, Bety Feria mengatakan, melukis menjadi media komunikasi utama bagi Agung dalam menyampaikan apa yang ia rasakan.

Baca juga: Gagal Disehatkan BPR Bank Cirebon Akhirnya Ditutup OJK, Nasabah Diimbau Tenang


“Salah satunya, kan dia itu insan permata (disabilitas) dan memang kesulitan ketika untuk mengungkapkan bahasa. Sehingga dengan melukis, dia bisa mengungkapkan apa yang dirasakan melalui gambar,” ujar Bety usai pembukaan pameran, Senin (9/2/2026).

Menurut Bety, salah satu lukisan yang paling menantang bagi Agung adalah karya bertema perempuan, yang dibuat saat ia masih duduk di bangku SMP.

“Yang ‘Perempuan’ itu karena memang ada bentuk tubuh manusia. Waktu itu dia masih SMP kelas 3, mungkin belum tahu seperti apa perempuan yang sebenarnya. Jadi dia masih meraba-raba, seperti apa sih perempuan itu,” ucapnya.

Dalam pameran ini, total 24 karya Agung dipajang dan terbuka untuk dinikmati masyarakat.

Baca juga: Mobil Putih Terbakar di Tol Purbaleunyi Cimahi, Begini Kondisi 4 Penumpangnya


Setiap lukisan merekam perjalanan panjang Agung, dari seorang siswa SLB hingga kini menjadi guru di sekolah yang sama.

“Sekarang Pak Agung mengajar di SLB dan sudah bisa membawa adik kelasnya juara tingkat nasional. Ada yang juara desain grafis, ada juga yang juara melukis tingkat provinsi. Itu salah satunya berkat bantuan Pak Agung,” jelas dia.

Pameran tunggal tersebut diinisiasi oleh PGRI Kota Cirebon sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan prestasi Agung di dunia pendidikan dan seni.

Ketua PGRI Kota Cirebon, Eka Novianto mengungkapkan, pameran ini merupakan realisasi janji yang pernah ia sampaikan kepada Agung.

Baca juga: Viral Aksi 3 Pelajar Siram Air Keras ke Siswa SMK, Korban Alami Cedera di Bagian Mata


"Saya sudah berjanji ke Pak Agung. Ini bentuk kebanggaan kami, bentuk kekaguman kami terhadap rekan kami, Pak Agung. Beliau adalah guru istimewa yang memiliki talenta luar biasa,” kata Eka.

Menurutnya, kesuksesan Agung bukan hanya milik pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan organisasi.

“Kami merasa punya kewajiban untuk mengangkat potensi yang dimiliki Pak Agung. Karena kesuksesan beliau adalah kebanggaan bagi kami semuanya,” ujarnya.

Eka menyebutkan, sekitar 20 lukisan dipamerkan dalam kegiatan tersebut, meskipun koleksi karya Agung di rumah jumlahnya lebih banyak.

Baca juga: Gagal Disehatkan BPR Bank Cirebon Akhirnya Ditutup OJK, Nasabah Diimbau Tenang


"Sebenarnya di rumah masih banyak lukisan, tapi karena keterbatasan ruang, jadi kami batasi karya yang dipamerkan hari ini,” ucap Eka.

Pameran lukisan Agung Fadilah dijadwalkan berlangsung mulai 9 hingga 28 Februari 2026.

“Dari tanggal 9 sampai 28 Februari, tempat ini dijadikan lokasi pameran karya-karya Pak Agung,” jelas dia.

Pembukaan pameran turut dihadiri pejabat Pemerintah Kota Cirebon, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Hadir pula para guru, mentor, serta perwakilan pelajar dari SMAN 6 Cirebon.

Baca juga: H-2 Persib Bandung Lawan Ratchaburi FC, Pemain Anyar Maung Siap Jalani Debut


Acara pembukaan semakin semarak dengan penampilan dua siswa SLB Negeri Budi Utama, Katon Wiranata dan Adi Haris, yang menyanyikan lagu “Sedia Aku Sebelum Hujan”.

Dalam kesempatan itu, Agung juga melukis secara langsung penari Topeng Kelana khas Cirebon, berlatar ikon wisata dan kuliner daerah seperti Goa Sunyaragi, Keraton Kasepuhan, Masjid Raya At-Taqwa, nasi jamblang, dan empal gentong.

Melalui kanvas dan warna, Agung Fadilah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, mengajar dan berbicara tentang Indonesia.

 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.