TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Kawanan perampok menyatroni rumah warga RT 02 RW 06 Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Senin (9/2/2026) dini hari.
Polisi masih berusaha mengungkap identitas para pelaku lewat rekaman kamera pengawas (CCTV) yang luput dari antisipasi mereka.
Identifikasi para pelaku juga dilakukan berdasarkan keterangan korban.
Kapolsek Sumbang AKP Basuki mengatakan, perampokan itu terjadi sekitar pukul 02.00 WIB.
Perampok yang diduga berjumlah empat orang ini masuk ke dalam rumah korban lewat jendela kamar yang dicongkel.
Rumah tersebut dihuni empat orang, Kodrat (41) dan istrinya, Nurgiyanti, serta kedua anak mereka, Luigi (14) dan Lutfi (8).
"Pelaku masuk lewat jendela sebelah selatan rumah lewat cara didongkel."
"Setelah itu mereka menemui anak korban yang sedang tidur, lalu disekap dan dipaksa menunjukkan barang-barang berharga," kata Basuki kepada Tribunbanyumas.com, Senin.
Pelaku lain juga masuk ke kamar orangtua korban.
Sang ayah, Kodrat, lebih dulu diikat, kemudian disusul istrinya.
Keduanya kemudian diintimidasi dan diminta menunjukkan tempat penyimpanan uang.
"Di dalam tas, ada uang sekitar Rp12.400.000 terdiri dari uang kas warga dan uang dari tempat korban bekerja di koperasi di Purbalingga," ujarnya.
Selain uang tunai, para pelaku juga mengambil tiga unit telepon seluler milik anak dan orangtua.
Basuki mengatakan, kawanan perampok itu juga membawa sebuah set top box (STB) televisi yang diduga turut dibawa karena para pelaku mengira sebagai perangkat decoder CCTV.
Sementara, rekaman dari kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di rumah korban masih utuh.
Rekaman tersebut kini sudah diamankan Tim Inafis untuk dianalisis.
"CCTV-nya masih ada, tadi sudah diambil Tim Inafis untuk dipelajari."
"Dari rekaman itu juga sedang disisir, kemungkinan dari arah mana pelaku datang," jelasnya.
Dari keterangan korban, pelaku yang masuk ke dalam rumah ada empat orang.
Dua orang bertubuh tinggi besar sedangkan dua orang lainnya bertubuh lebih pendek.
Saat beraksi mereka memakai masker.
Namun, satu di antara pelaku tidak memakai masker.
Hanya saja, korban tidak bisa mengenali karena kondisi lampu redup.
Meski begitu, dari percakapan yang terjadi, korban mendeteksi logat para pelaku.
Menurut Basuki, para pelaku menggunakan dua logat berbeda saat berbicara.
Dua orang terdengar memiliki logat Jawa.
Sementara, dua lainnya berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
"Tidak jelas dari daerah mana tapi yang dua orang itu logat Jawa, yang dua lagi pakai bahasa Indonesia," kata Basuki.
Dalam perampokan itu, para pelaku membawa senjata tajam, seperti pisau dan sabit untuk mengancam korban.
Namun, tidak ada senjata api yang terlihat.
"Alhamdulillah tidak ada korban luka. Senjata itu hanya untuk menakut-nakuti saja," katanya. (*)