TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dinilai sebagai keniscayaan di era digital, termasuk dalam sektor ekonomi kreatif.
Namun, teknologi tersebut tidak seharusnya menggantikan peran manusia sebagai ruh utama dalam karya seni dan kreativitas.
Hal itu disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yopie Widianto, saat berbicara mengenai perkembangan AI dan dampaknya terhadap dunia kreatif.
Yopie menegaskan, AI memang memiliki kemampuan luar biasa dalam meniru, mengolah data, dan menghasilkan karya secara cepat.
Namun, menurutnya, mesin tetap tidak memiliki hati dan pengalaman hidup sebagaimana manusia.
“AI bisa presisi, bahkan bisa membuat sesuatu dengan sangat sempurna. Tapi AI tidak punya hati. Di situlah saya tidak pernah ragu dengan posisi manusia,” ujar Yopie, Selasa (10/2/2026).
Ia mencontohkan pengalamannya ketika sejumlah lagu ciptaannya di-cover menggunakan teknologi AI.
Menurutnya, secara teknis karya tersebut terdengar rapi, namun kehilangan unsur emosional yang menjadi ciri khas karya manusia.
“Ada sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan. Dalam setiap karya manusia ada napas, ada detak jantung, ada rasa hidup. Itu yang membuat karya manusia terasa bernyawa,” katanya.
Menurut Yopie, mesin memang dapat mengatur aspek teknis seperti volume, dinamika suara, hingga ekspresi seolah-olah emosional. Namun semua itu, kata dia, tetap bersifat artifisial.
“Mesin bisa membuat suara seolah-olah menangis, mengatur volume, mengatur dinamika. Tapi tetap saja itu kepura-puraan. Mesin tetaplah mesin,” ujarnya.
Karena itu, Yopie mengingatkan agar perkembangan AI tidak justru menggeser posisi manusia dalam ranah seni dan kebudayaan.
Ia mendorong agar teknologi dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti manusia.
“Gunakan AI sebagai mesin. Gunakan AI sebagai mitra. Kerjakan AI, bukan mengerjakan manusianya. Dan tetaplah menghargai manusia,” tegasnya.
Ia juga menyinggung kebijakan di sejumlah negara maju, seperti Korea Selatan, yang mulai memberi pembeda dalam penilaian karya seni berbasis AI.
“Jika sebuah karya seni terlalu banyak mengandung unsur AI, maka nilainya dikurangi atau bahkan tidak dinilai penuh. Sebaliknya, karya dengan unsur manusia yang kuat justru dihargai lebih tinggi,” jelas Yopie.
Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan pada manusia tanpa menolak kemajuan teknologi sebagai keniscayaan zaman.
Baca juga: Wawali Palangka Raya Achmad Zaini: ASN Harus Adaptif, Era AI Bukan Waktunya Kerja Manual Lagi
Baca juga: Potensi Ekonomi Kreatif Kalteng Dinilai Besar, Stafsus Presiden Yopie Soroti Ketiadaan Creative Help
“Kemajuan teknologi tidak bisa dihindari. Gunakan AI untuk rumah sakit, lalu lintas, dan kehidupan sosial, itu tidak masalah. Tapi ketika berbicara tentang seni dan kebudayaan, kita harus bisa membedakan mana yang memberi kemaslahatan lebih besar bagi manusia,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, secara naluriah keberpihakan manusia seharusnya tetap ditujukan pada karya yang lahir dari pengalaman, rasa, dan kesadaran manusia itu sendiri.
“Keberpihakan kita seharusnya tetap pada manusia sejati. Itu sikap saya,” pungkasnya.