Kunci Jawaban PAI Kelas 10 Halaman 206 207 Kurikulum Merdeka, Aktivitas 8.3: Hikmah Kisah Inspiratif
Ngurah Adi Kusuma February 11, 2026 08:19 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Simak nih, inilah kunci jawaban PAI dan Budi Pekerti kelas 10 halaman 206 207 Kurikulum Merdeka, kegiatan siswa Aktivitas 8.3 tentang hikmah kisah inspiratif.

Kali ini kita akan membahas soal pada Bab 8 yang berjudul Menghindari Akhlak Madzmumah dan Membiasakan Akhlak Mahmudah Agar Hidup Nyaman dan Berkah pada kegiatan siswa Aktivitas 8.3 tentang hikmah kisah inspiratif berjudul Kisah Paku dan Sebatang Balok Kayu.

Kunci jawaban di bawah ini diharapkan bisa membantu siswa sebagai alternatif jawaban untuk menyelesaikan soal pada halaman 206 207 di buku siswa PAI dan Budi Pekerti Kelas 10.

Berikut kunci jawaban dan pembahasan soal Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas 10 halaman 206 207 Kurikulum Merdeka sesuai dengan buku siswa Kurikulum Merdeka edisi tahun 2021.

Baca juga: Kunci Jawaban PAI Kelas 10 Halaman 191 Kurikulum Merdeka, Aktivitas 7.5: Menumbuhkan Sifat Cinta

(Update Kunci Jawaban)

Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 10 Kurikulum Merdeka Halaman 206 207

Aktivitas 8.3

Bacalah dengan cermat dan teliti kisah inspiratif berikut ini! Lalu simpulkan dan tuliskan di buku kalian, hikmah apakah yang bisa kita petik dari kisah tersebut!

Kaitkanlah hikmah dari kisah tersebut dengan pengalaman hidup yang kalian alami!

KISAH PAKU DAN SEBATANG BALOK KAYU

Alkisah, tersebutlah seorang murid yang memiliki sifat temperamental, mudah marah dan kesulitan mengendalikan dirinya.

Dia selalu mengalami kesulitan untuk mengontrol emosinya, bahkan selalu mudah marah dan berkata kasar hanya untuk kesalahan-kesalahan kecil orang lain yang membuatnya tersinggung.

Hingga pada suatu hari ia dipanggil oleh gurunya. Sang guru merasa berkewajiban untuk menasehati dan menjadikan murid ini lebih baik akhlaknya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Baca juga: Kunci Jawaban PAI Kelas 10 Halaman 178 179 Kurikulum Merdeka, Aktivitas 7.3: Nilai-nilai Keteladanan

Oleh sang guru, ia diminta untuk menyiapkan sebatang balok kayu, palu dan paku.

Dan dengan pendekatan serta sentuhan hati yang tulus, guru itu pun meminta kepadanya, agar setiap kali ia marah, ia harus menancapkan satu buah paku ke balok kayu dengan menggunakan palu yang sudah disiapkan.

Berapa kali pun marah, ia harus melakukan hal tersebut dengan paku-paku yang baru.

Ia pun menerima nasihat dari gurunya dan bersedia melakukannya. Keesokan harinya, ia kembali dipanggil oleh sang guru di sekolah, dan ditanya,

“dari kemarin sampai pagi ini sudah berapa buah paku yang engkau tancapkan di atas balok kayu itu?”

Ia menjawab, “dua puluh, guru” jawabnya sambil menunduk malu. Dalam hati ia menyadari, ternyata hampir setiap satu jam ia marah kepada orang lain.

Sang guru pun tidak berkomentar apa-apa, dan memintanya untuk kembali lagi minggu depan serta berpesan untuk terus melanjutkan kegiatan itu.

Satu minggu berlalu dan saatnya sang guru memanggilnya kembali. Dengan wajah berseri-seri, ia menghadap kepada gurunya dan berkata

“terima kasih guru, karena nasihat yang guru berikan, yang tadinya satu hari saya menancapkan 20 buah paku, pelan-pelan mulai berkurang, dan dari kemarin hingga pagi ini saya sama sekali tidak menancapkan paku lagi”.

Baca juga: Kunci Jawaban PAI Kelas 10 Halaman 173 174 Kurikulum Merdeka, Penilaian Pengetahuan Bab 6

Dan sang guru pun menjawab “bagus sekali nak. Kalau begitu, tugasmu selanjutnya adalah, setiap kali engkau berhasil menahan amarahmu, maka cabutlah satu paku yang engkau tancapkan sebelumnya.

Setiap hari seperti itu, nanti engkau boleh kembali lagi setelah engkau berhasil mencabut semua paku di balok kayu itu”.

Hari demi hari berlalu, berganti minggu dan beberapa bulan kemudian murid itu pun kembali menghadap gurunya dengan wajah yang berseri-seri tetapi penuh dengan rasa penasaran.

“Guru, saya telah mencabut semua paku seperti yang guru nasihatkan, setiap kali saya bisa mengendalikan amarah saya, dan saat ini semua paku sudah berhasil saya cabut” lapornya.

“Luar biasa sekali anakku. Tentu tidak mudah bagimu untuk melakukan apa yang aku sarankan. Dan sekarang, bolehkan aku bertamu ke rumahmu dan melihat paku-paku dan balok kayu itu?” Ia menjawab dengan cukup penasaran

“baiklah guru, tapi kalau boleh tahu, untuk apa guru melihat paku-paku dan balok kayu itu?”

“Nanti kamu juga akan tahu” jawab sang guru. 

Kemudian guru dan murid itu pun beriringan menuju ke rumah sang murid dan kemudian melihat balok kayu yang sudah bersih dari tancapan paku, tetapi balok kayu itu terlihat buruk karena bekas-bekas lubang paku yang dicabut.

Lalu sang guru berkata “anakku, engkau sudah melakukan hal yang luar biasa dengan menahan amarahmu.

Tapi engkau juga harus tahu, bahwa ada akibat yang engkau timbulkan dari amarahmu selama ini.

Ketika engkau marah dan meluapkan emosimu dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain, maka hal itu seperti kiasan paku yang menancap di balok kayu ini.

Tidak ada bedanya kemarahan yang disengaja, maupun kemarahan yang spontan, semuanya sama-sama berakibat buruk bagi orang lain” kata sang guru dengan penuh bijaksana.

“Anakku, tidak cukup bagimu hanya menyesali, meminta maaf dan memohon ampunan kepada Allah Swt. atas apa yang pernah engkau perbuat.

Permintaan maafmu kepada orang yang pernah engkau sakiti, ibarat engkau mencabut paku-paku itu dari balok kayu.

Pakunya bisa dicabut, tetapi bekas lubang pakunya tidak bisa hilang. Demikian juga dengan sakit hati, barangkali orang lain bisa memaafkan, tetapi belum tentu ia bisa melupakan apa yang pernah kita lakukan kepadanya.

Oleh karena itu, janganlah engkau meremehkan kata-kata buruk, emosi dan kemarahanmu kepada orang lain, karena luka yang disebabkan oleh kata-kata, sama sakitnya dengan luka fisik yang kita alami” pungkas sang guru.

Murid itu pun menunduk dan menyadari sifat temperamental yang ia miliki selama ini, ternyata berdampak buruk bagi orang lain dan merugikan dirinya sendiri, dan ia pun berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik dengan mengendalikan amarah dan emosinya dalam kehidupan berikutnya.

Jawaban:

Kisah "Paku dan Sebatang Balok Kayu" mengandung pesan moral yang sangat mendalam tentang etika berkomunikasi dan pengendalian diri. Berikut adalah ringkasan hikmah yang dapat kita petik:

1. Luka Hati Tidak Mudah Hilang

Hikmah yang paling utama adalah bahwa kata-kata yang menyakitkan meninggalkan bekas yang permanen.

Sama seperti lubang pada balok kayu yang tetap ada meskipun paku sudah dicabut, rasa sakit hati sering kali tetap membekas di ingatan seseorang meskipun mereka sudah memberikan maaf.

2. Meminta Maaf Tidak Menghapus Masa Lalu

Meminta maaf adalah tindakan mulia (ibarat mencabut paku), namun itu bukan "tombol hapus" atas kesalahan yang telah diperbuat.

Kita harus sadar bahwa pemulihan perasaan seseorang membutuhkan waktu yang lama, dan terkadang hubungan tidak bisa kembali mulus 100 persen seperti sedia kala.

3. Pentingnya Pengendalian Diri (Self-Control)

Kisah ini mengajarkan bahwa marah adalah pilihan, namun menahannya adalah sebuah kemenangan.

Sang murid belajar bahwa lebih mudah untuk mencegah paku menancap daripada harus mencabutnya dan melihat lubang yang tersisa.

Mencegah amarah jauh lebih baik daripada harus memperbaiki dampak dari kemarahan tersebut.

4. Luka Lisan Sama Perihnya dengan Luka Fisik

Guru tersebut menekankan bahwa luka karena kata-kata bisa sama sakitnya dengan luka fisik. Kita sering meremehkan ucapan kasar karena dianggap "hanya bicara", padahal dampaknya bisa merusak mental dan hubungan jangka panjang.

5. Kesadaran akan Dampak Sosial

Setiap tindakan kita memiliki konsekuensi terhadap orang lain. Menjadi pribadi yang temperamental bukan hanya merugikan diri sendiri (membuat kita dijauhi), tetapi juga secara aktif merusak kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.

Demikian kunci jawaban PAI kelas 10 Kurikulum Merdeka halaman 206 207, kegiatan siswa Aktivitas 8.3: hikmah kisah inspiratif sesuai dengan Kurikulum Merdeka edisi tahun 2021.

Disclaimer

Kunci jawaban diatas bersifat alternatif jawaban sehingga para siswa bisa memberikan eksplorasi jawaban lain.

Kunci jawaban soal diatas bisa saja berbeda sesuai dengan pemahaman tenaga pengajar atau murid. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.