Alasan Masjid Jogokariyan Pertahankan Piring dalam Penyajian 3.800 Takjil
Yoseph Hary W February 12, 2026 12:14 AM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penggunaan piring dalam penyajian takjil memang menjadi ciri khas Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Pada Ramadan tahun ini, Masjid Jogokariyan bakal menyiapkan 3.800 porsi takjil.

Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan Ramadan sebelumnya yaitu 3.500 porsi. 

Pertahankan penggunaan piring

Meski sekitar 1.000 hingga 1.500 alat makan hilang per tahun, namun penyajian takjil menggunakan piring tetap akan dijaga. 

Humas Panitia Kampung Ramadan Jogokariyan Yogyakarta, Ahmeda Edo mengatakan penyajian menggunakan piring akan melibatkan banyak orang. Semakin banyak yang terlibat, maka semakin banyak pula yang mendapat keberkahan selama Ramadan. 

"Kalau pakai piring kan yang ngangkut dapat (berkah), yang asah-asah (cuci piring), yang ngelapi piring. Jadi kami mencoba memperbanyak orang yang mendapatkan keberkahan," katanya saat ditemui, Rabu (11/2/2026). 

Alasan lainnya ada untuk mengurangi sampah. Jika menggunakan boks, maka sampah yang dihasilkan akan sangat banyak. Apalagi Kota Yogyakarta masih mengalami darurat sampah. 

"Bayangkan kalau sehari hampir 4.000 boks, maka dalam satu bulan akan sangat banyak. Apalagi Yogyakarta kan darurat sampah. Sampah sisa makanan untuk pakan ternak, jadi tidak ada sampah," sambungnya. 

Penyajian menggunakan piring juga bertujuan agar para jemaah bisa bercengkrama satu sama lain, sambil menunggu waktu salat berjamaah. 

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Masjid Jogokariyan akan terus mempertahankan ciri khas tersebut. 

Masyarakat boleh ambil takjil

Dalam distribusi takjil, pihaknya tidak menggunakan kupon atau yang lainnya. Masyarakat boleh mengambil takjil secara bebas di beberapa titik yang sudah disiapkan. 

Untuk persiapannya, Masjid Jogokariyan Yogyakarta berkolaborasi dengan ibu-ibu Dasawisma. Ada 28 kelompok Dasawisma yang dilibatkan. Masing-masing mendapat jatah memasak satu kali. 

"Ibu-ibu itu biasanya terdiri dari 15-20 orang, diberi amanah untuk memasak lauk sebanyak 2.000 porsi, yang 1.800 dimasak oleh takmir. Ini juga menjadi cara agar ada bonding antara Masjid Jogokariyan dengan masyarakat," terangnya. 

Sementara untuk menanak nasi akan dilakukan di masjid. Masjid Jogokariyan telah melakukan pengadaan alat cuci beras otomatis. Dalam sekali proses, alat tersebut mencuci beras 50 kilogram. 

Pengadaan ini bertujuan untuk efisiensi waktu. Sebab dalam sehari diperlukan beras sekitar 200 kilogram. Sedangkan untuk memasak nasi, Masjid Jogokariyan memiliki tiga steamer nasi dengan kapasitas 40 hingga 50 kilogram. 

"Kalau mencuci berasnya manual kan memakan waktu ya, harus berkali-kali karena dari sedikit-sedikit. Dengan alat ini kan bisa langsung 50 kilogram. Dalam waktu sekitar 15 menit bisa mencuci beras 50 kilogram. Jadi lebih efisien, apalagi memasak besar seperti ini kan tidak cuma pas Ramadan saja," imbuhnya. (maw) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.