- Iran memperingati 47 tahun Revolusi Islam 1979 di tengah tekanan besar dari dalam dan luar negeri.
Di satu sisi, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal pengiriman tambahan kapal induk ke Timur Tengah.
Di sisi lain, masyarakat Iran masih marah atas tindakan keras pemerintah terhadap gelombang protes nasional.
Televisi pemerintah menayangkan ratusan ribu warga turun ke jalan dalam aksi pro-pemerintah.
Bendera AS dibakar dan teriakan “Matilah Amerika!” menggema.
Namun di malam sebelumnya, dari rumah-rumah di Teheran terdengar teriakan berbeda: “Matilah diktator!”
Presiden Masoud Pezeshkian dalam pidatonya menegaskan, Iran siap bernegosiasi soal program nuklir.
Ia menekankan bahwa Iran tidak mencari senjata nuklir dan siap melakukan operasi.
Namun ia juga menuding AS dan Eropa membangun “tembok ketidakpercayaan” yang menghambat pembicaraan.
Iran, katanya, tidak akan tunduk pada tuntutan yang berlebihan.
Pernyataan ini muncul setelah perundingan AS-Iran di Oman pekan lalu.
Di tengah peringatan revolusi, ketegangan kawasan masih tinggi meskipun Trump disebut mundur dari rencana serangan langsung, meskipun kekuatan militer AS tetap ditingkatkan.
Program: Tribunnews Update
Host: Tri Suhartini
Editor Video: Nathanael Moer Rahardian
Uploader: bagus gema praditiya sukirman