Pesta Retail SRC 2026, Sri Sultan HB X: Transformasi Total Syarat Mutlak untuk Bersaing
Yoseph Hary W February 12, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya toko kelontong, untuk tidak sekadar bertahan, melainkan bertransformasi total. 

Di hadapan ribuan anggota Sampoerna Retail Community (SRC) di Candi Prambanan, Rabu (12/2/2026) malam, Sultan menegaskan bahwa modernisasi manajemen stok dan digitalisasi keuangan merupakan prasyarat mutlak agar ekonomi kerakyatan mampu bersaing setara dengan jejaring ritel modern.

UMKM nadi kehidupan masyarakat Jogja

Sultan menyampaikan bahwa bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, UMKM bukan sekadar sektor pendukung, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat. Toko kelontong dan warung tradisional adalah simpul distribusi yang menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga hingga ke tingkat kampung. Namun, di tengah dinamisnya perilaku konsumen dan pesatnya teknologi, cara-cara lama tidak lagi mencukupi.

"Namun, kita juga menyadari lanskap usaha telah berubah. Persaingan semakin ketat, perilaku konsumen semakin dinamis, dan teknologi berkembang sangat cepat. Dalam situasi seperti ini, usaha tradisional tidak cukup hanya bertahan, ia harus bertransformasi. Digitalisasi proses bisnis, pencatatan keuangan yang tertib, pengelolaan stok berbasis data, sistem pembayaran nontunai, hingga integrasi dengan rantai pasok modern, merupakan prasyarat agar peritel kecil mampu bersaing setara. Inilah langkah konkret agar UMKM naik kelas, lebih efisien, dan berkelanjutan," tegas Sultan.

Sultan juga menyoroti pentingnya nilai-nilai lokal sebagai jati diri dalam bekerja. Ia melihat semangat para pedagang kelontong selaras dengan falsafah Jawa “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”.

"Kita tidak boleh melupakan nilai yang menjadi jati diri kita. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan: 'Sepi ing pamrih, rame ing gawe', bekerja sungguh-sungguh untuk kemaslahatan bersama. Semangat itulah yang saya lihat pada para pelaku UMKM: bekerja tekun, dekat dengan masyarakat, dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya. Momentum 18 tahun SRC hendaknya menjadi titik akselerasi. Bukan sekadar perayaan, tetapi langkah maju. Mari kita dorong semakin banyak peritel tradisional naik kelas," tambahnya.

Geliat warung kelontong

Senada dengan Sultan, Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan, Septo Soepriyatno, mengungkapkan fakta menarik di lapangan. Berdasarkan pengamatan kementerian dalam tiga tahun terakhir, geliat warung tradisional yang telah tersentuh pendampingan justru mulai mengungguli peritel modern.

"Terkait dengan aspek pertumbuhan ritel, warung atau toko kelontong merupakan bagian yang sangat besar, jumlahnya mencapai 98 persen lebih dari ekosistem ritel yang ada di Indonesia. Namun sayangnya, terkesan pertumbuhan ritel-ritel modern mematikan usaha Bapak Ibu. Kenyataannya, saya melihat sendiri, dua sampai tiga tahun terakhir ini pelaku usaha-pelaku usaha ritel modern sangat tergerus sekali oleh aktivitas yang luar biasa dari toko-toko kelontong. Dan kami yakin salah satu bentuk dari pengembangan warung tradisional dilakukan oleh SRC Indonesia," ujar Septo.

Septo juga menekankan program "GASPOL" (Gerakan Ayo Semangat Pakai Lokal) untuk memastikan produk UMKM menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ia menyebut bahwa pemerintah terus mengupayakan perluasan pasar ekspor dan pendampingan business matching bagi UMKM agar bisa merambah pasar global secara digital tanpa harus bepergian ke luar negeri.

Dampak Ekonomi Masif

Transformasi yang dilakukan SRC selama 18 tahun terakhir telah menunjukkan hasil nyata dalam angka. Direktur PT HM Sampoerna Tbk., Elvira Lianita, memaparkan bahwa pendampingan yang konsisten melalui ekosistem digital "AYO by SRC" telah meningkatkan omzet rata-rata toko sebesar 42 persen.

Dampak ini tidak hanya bersifat individual, tetapi juga nasional. Elvira menyebutkan bahwa ekosistem ini telah menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan bagi PDB Indonesia.

"Peningkatan kapasitas UMKM toko kelontong melalui SRC terbukti memberikan dampak yang sangat positif. Setelah bergabung dengan SRC, rata-rata omzet toko meningkat 42 persen, dengan hampir 90 persen di antaranya telah terdigitalisasi. Secara nasional, keseluruhan ekosistem SRC menghasilkan omzet sebesar 236 triliun rupiah per tahun, atau setara 11,36 persen PDB Ritel Nasional pada tahun 2022. Capaian ini semakin menegaskan bahwa pemberdayaan toko kelontong bukan sekadar pendampingan usaha, melainkan strategi nyata untuk menjaga keberlangsungan perdagangan rakyat," papar Elvira.

Lebih lanjut, Elvira menekankan peran penting perempuan dalam ekosistem ini. Dari riset yang ada, lebih dari 54 persen pemilik toko SRC perempuan merupakan tulang punggung utama keluarga. Selain itu, kehadiran toko SRC juga memberikan dampak sosial dengan menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar mereka (51 persen toko) dan menjadi saluran bagi produk lokal melalui rak "Pojok Lokal" yang mencatatkan nilai transaksi hingga Rp 5,6 triliun per tahun.

Perayaan 18 tahun SRC di pelataran Candi Prambanan ini menjadi simbol bahwa ekonomi kerakyatan, jika dikelola dengan manajemen modern dan kolaborasi lintas sektor—antara swasta, BUMN, dan pemerintah—mampu tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045. (HAN)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.