TRIBUNJATIM.COM - Permintaan telur di sejumlah wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai meningkat menjelang bulan Ramadan.
Di tengah tren kenaikan kebutuhan bahan pokok, telur hasil program gerakan beternak ayam petelur mandiri (GAYATRI) menjadi alternatif warga.
Pasalnya kebutuhan dapur dapat terpenuhi dengan harga yang lebih terjangkau.
Baca juga: Sulap Persebaya Jadi Tim Superior, Bernardo Tavares Akui Semua Berkat Kerja Keras Pemain
Di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, misalnya, aktivitas di kandang ayam milik Unun Choirul Amin (44) tampak lebih sibuk dibanding hari biasa.
Setiap pagi, ibu empat anak ini mengumpulkan 40 hingga 50 butir telur dari kandangnya.
Namun memasuki pekan-pekan menjelang Ramadan, telur-telur tersebut lebih cepat terjual.
"Kalau mendekati Ramadan, biasanya banyak yang pesan. Untuk kebutuhan rumah tangga atau hajatan orang sini biasanya menyebutnya megengan," kata Unun pada kamis (12/2/2026).
Unun merupakan salah satu keluarga penerima manfaat (KPM) Program GAYATRI yang digagas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Melalui program ini, keluarga rentan mendapatkan bantuan ternak ayam petelur sekaligus pendampingan usaha agar mampu mandiri secara ekonomi.
Dari hasil penjualan telur, Unun rata-rata memperoleh pendapatan sekitar Rp50.000 per hari.
Telur dijual kepada warga sekitar dengan harga Rp26.000 per kilogram.
Lantaran dibeli langsung dari peternak, harga tersebut relatif lebih murah dibandingkan di toko atau pasar.
"Hasilnya biasanya kami tabung, sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk bayar listrik," ujarnya.
Meningkatnya permintaan menjelang Ramadan menjadi berkah tersendiri.
Telur, sebagai salah satu komoditas, banyak dibutuhkan untuk berbagai olahan makanan, baik untuk sahur, berbuka, maupun persiapan usaha kecil-kecilan warga.
Tak hanya Unun, berkah serupa juga dirasakan oleh Sri Ambarwati (37), penerima program GAYATRI.
Ia mengaku, penjualan telur belakangan lebih lancar menjelang Ramadan.
Hal ini tentu berimplikasi pada pendapatannya makin stabil.
Baginya, tambahan penghasilan dari beternak ayam petelur cukup membantu menopang ekonomi keluarga.
"Alhamdulillah tiap pagi sudah ada yang ngambil, dan tiap hari sudah ada saja yang pesan, karena kalau beli langsung lebih murah dari beli di toko kelontong atau pasar," ujarnya.
Program GAYATRI sendiri tak hanya memberikan bantuan awal, tetapi juga pendampingan rutin.
Pendamping KPM GAYATRI Desa Mori, Mohamad Aris (40) mengatakan, tim secara berkala melakukan pengecekan kondisi ternak dan memantau produksi telur.
"Setiap minggu kami lakukan pengecekan. Pakan masih tersuplai dengan baik. Kami juga punya grup WhatsApp untuk koordinasi, jadi setiap hari ada diskusi tentang perawatan ayam," kata Aris.
Baca juga: Pemkab Jombang Siapkan Rp1,1 M untuk Program Permakanan 2026, Uang Ditransfer Langsung ke Penerima
Di Desa Mori terdapat 16 keluarga penerima manfaat yang saat ini menjalankan usaha ternak ayam petelur melalui program GAYATRI.
"Ada sebanyak enam keluarga mendapat dukungan dari anggaran desa, sementara 10 lainnya berasal dari program Pemerintah Kabupaten Bojonegoro," jelasnya.
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan menjelang Ramadan, keberadaan peternak lokal binaan GAYATRI turut membantu menjaga ketersediaan pasokan di tingkat desa.
Warga memiliki alternatif sumber telur dengan harga lebih terjangkau.
Sementara keluarga penerima manfaat memperoleh tambahan pendapatan yang berkelanjutan.