SURYA.CO.ID, SURABAYA - Praditya Afrilia, seorang perempuan asal Mobagu, Sulawesi Utara, telah resmi menyelesaikan studi kedokterannya di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa). Ia secara resmi dilantik dan mengambil sumpah dokter sebagai bagian dari komitmennya untuk terjun ke dunia kesehatan secara profesional.
Perempuan yang akrab disapa Pia ini, mengukir sejarah baru dalam silsilah keluarganya. Keberhasilannya meraih gelar dokter menjadikannya sebagai dokter pertama di keluarga besarnya.
Pencapaian ini, diakuinya tidak lepas dari dukungan penuh kedua orang tuanya yang memiliki latar belakang sebagai tenaga pendidik atau guru di Mobagu.
Meskipun tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan tradisi pendidikan yang sangat kuat, orang tua Pia memberikan kebebasan penuh bagi anak sulungnya tersebut untuk menentukan jalan kariernya sendiri.
Dukungan moril dan material dari orang tua, menjadi pilar utama keberhasilan Pia menempuh pendidikan di salah satu fakultas kedokteran unggulan di Jawa Timur (Jatim) ini.
“Ini sangat berarti bagi saya, karena saya dokter pertama di keluarga. Orang tua sangat mendukung sejak awal,” ujar Pia.
Tumbuh di lingkungan keluarga guru membuat Pia terbiasa dengan nilai-nilai pengabdian sejak masa kanak-kanak.
Ia sering menyaksikan secara langsung bagaimana dedikasi kedua orang tuanya dalam upaya mencerdaskan masyarakat di daerahnya.
Hal inilah yang kemudian tertanam kuat dalam diri Pia, dan menjadi landasan filosofis saat ia memilih profesi dokter.
Bagi Pia, profesi dokter bukan sekadar mengejar status sosial atau kemapanan ekonomi, melainkan sebuah jalan pengabdian untuk kemanusiaan.
Keputusan Pia ini sejalan dengan misi dalam mengangkat kisah-kisah inspiratif dari dunia pendidikan dan kesehatan di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.
Berbeda dengan tren banyak dokter muda yang lebih memilih untuk meniti karier di kota-kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, Pia justru memantapkan hati untuk kembali ke tanah kelahirannya di Mobagu.
Keputusan strategis ini diambil, setelah ia melihat kenyataan pahit mengenai kondisi layanan kesehatan di daerah asalnya yang masih tertinggal.
Masalah distribusi tenaga medis memang menjadi tantangan besar di Indonesia, di mana rasio dokter dan penduduk di luar Pulau Jawa masih belum ideal. Pia menyadari, bahwa kehadirannya di Mobagu akan memberikan dampak yang lebih signifikan bagi masyarakat yang membutuhkan.
"Sejak menempuh pendidikan kedokteran, kerap teringat kondisi masyarakat di daerah asalnya yang menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan," ujarnya.
Selama ini, Pia sering mendengar keluhan warga yang terpaksa menunda pengobatan karena jarak fasilitas kesehatan yang sangat jauh.
Selain itu, keterbatasan sarana penunjang dan minimnya tenaga medis ahli membuat banyak pasien harus dirujuk ke daerah lain dengan biaya dan risiko perjalanan yang tinggi.
“Sejak awal studi di kedokteran, saya punya keinginan membantu kondisi kesehatan di Mobagu. Tenaga kesehatannya masih kurang. Di wilayah-wilayah pelosok, kebutuhan dokter masih sangat dibutuhkan,” ujar perempuan kelahiran Mobagu, 3 April 2001 tersebut.
Bagi Pia, keberadaan seorang dokter di wilayah seperti Mobagu bukan sekadar tentang memberikan diagnosis dan resep obat. Lebih dari itu, kehadiran tenaga medis di daerah terpencil adalah simbol harapan bagi masyarakat.
Ia bertekad untuk berperan aktif dalam memberikan pertolongan pertama yang cepat, serta meningkatkan literasi dan edukasi kesehatan bagi warga lokal.
Lulusan FK Unusa ini ingin memastikan, bahwa di masa depan, masyarakat di daerahnya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Pengalaman menempuh pendidikan di Surabaya, telah membekalinya dengan kompetensi klinis yang mumpuni untuk diterapkan di lapangan.
Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Pia membawa misi pribadi yang mulia. Tekadnya untuk kembali ke daerah asal menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya menjadi pencapaian individu, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat luas.