TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seiring pesatnya pertumbuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Langkah tegas ini diambil untuk memastikan mutu layanan dan standar gizi tetap terjaga, sekaligus memberi peringatan keras kepada mitra yang tidak menjalankan kewajiban sesuai perjanjian kerja sama.
Penegasan tersebut disampaikan Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Letjen TNI (Purn) Dadang Hendra Yudha saat memberikan pengarahan dalam Koordinasi dan Evaluasi Program MBG bersama BGN Pusat, Forkopimda, kepala SPPG, serta mitra MBG se-eks Karesidenan Pekalongan di Ruang Buketan Setda Kota Pekalongan, Rabu (11/2/2026).
Baca juga: Viral Gerakan Stop Bayar Pajak Kendaraan di Jateng, Warga Sebut Opsen PKB Pemicunya
• Bakti Sosial Lintas Agama, Aaf Tegaskan Pekalongan Kota Toleran
Menurut Dadang, evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pasokan bahan baku, proses pengolahan makanan, hingga pemenuhan standar gizi bagi para penerima manfaat.
Dia menekankan, percepatan pelaksanaan program harus diimbangi dengan kedisiplinan dan tanggung jawab mitra di lapangan.
"Sekarang sudah mulai kencang. Ada yayasan mitra yang tidak melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian kerja sama," ujarnya, Kamis (12/2/2026).
BGN, lanjutnya, telah menyiapkan mekanisme sanksi berjenjang bagi mitra yang terbukti melanggar aturan.
Tahapan sanksi dimulai dari teguran, kemudian Surat Peringatan (SP) 1 hingga SP3. Apabila tidak ada perbaikan, kerja sama akan dihentikan.
"Kalau tetap tidak dilaksanakan, diputus," tegas Dadang.
Selain penindakan terhadap pelanggaran, BGN juga memperkuat sistem pengawasan melalui penerapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dengan melibatkan pemerintah daerah.
Kepala Dinkes, satuan tugas MBG, serta pimpinan daerah diminta aktif melakukan pemantauan langsung guna memastikan standar kebersihan dan keamanan pangan dipenuhi.
"Kalau memang tidak bagus, tolong disampaikan teguran. Ini program besar, satu hari bisa mencapai enam juta porsi," katanya.
Dia menjelaskan, dapur MBG kini tidak lagi dipandang sebagai dapur biasa, melainkan sistem produksi makanan skala besar yang harus memenuhi standar layaknya industri pangan.
Penggunaan kompor bertekanan tinggi, instalasi gas khusus, steamer, serta pemisahan gudang basah dan gudang kering menjadi bagian dari standar operasional yang wajib diterapkan.
Secara nasional, BGN menargetkan pembangunan sekira 35.000 dapur MBG yang tersebar hingga ke 8.270 daerah terpencil.
Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja.
Baca juga: Pekalongan Balloon Festival 2026 Siap Digelar Kembali, Tradisi Terjaga dan Penerbangan Lebih Aman
• Hadapi Rob dan Cuaca Ekstrem, Pemkot Pekalongan Restorasi Mangrove Park
"Tahun ini, lebih dari Rp300 triliun dialokasikan untuk BGN dan langsung turun ke dapur-dapur."
"Ini investasi jangka panjang, untuk SDM menuju Indonesia Emas," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab mengapresiasi perhatian dan pendampingan dari BGN Pusat terhadap pelaksanaan MBG di daerahnya.
Dia menilai, arahan dan evaluasi tersebut menjadi dorongan penting bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
"Kami berterima kasih atas motivasi dan arahan yang luar biasa."
"Harapannya, program MBG di Kota Pekalongan bisa berjalan lancar dan dinikmati seluruh masyarakat," katanya.
Balgis menambahkan, pelaksanaan MBG di Kota Pekalongan sejauh ini berjalan baik. Dapur-dapur SPPG dinilai telah memenuhi ketentuan dan belum ditemukan kasus yang berarti.
"Alhamdulillah, tidak ada kasus di Kota Pekalongan. Rata-rata dapur SPPG sudah memenuhi ketentuan dan akan terus kami tingkatkan," ujarnya.
Pihaknya juga rutin turun ke lapangan untuk memantau langsung pelaksanaan program sekaligus melihat dampaknya bagi anak-anak sebagai penerima manfaat utama.
"Kalau MBG datang, belum dimakan saja anak-anak sudah ceria. Bahkan ada yang biasanya malas makan di rumah, jadi lebih semangat," tuturnya. (*)