TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Bagi Sari Ali dan Sutan, momen Ramadan adalah ibadah sekaligus cuan. Menyediakan air bunga rampai dan membersihkan pusara jelang umat muslim melaksanakan puasa, kerap dilakukan setiap tahunya. Pekerjaan halal yang tidak hanya menguntungkan namun juga ada bernilai baik.
Komplek pusara di Jalan Aceh, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru dipastikan ramai setiap tahun jelang umat Islam akan melaksanakan puasa ramadan.
Itu tak terlepas aktifitas ziarah kubur yang telah menjadi bagian dari penyambutan tanda memasuki bulan penuh ampunan.
Ziarah kubur adalah aktivitas mengunjungi makam dalam Islam untuk mendoakan almarhum, mengingat kematian, dan mengambil pelajaran (hikmah) bagi diri sendiri.
Amalan yang dianjurkan (sunnah) ini bertujuan mendoakan agar ahli kubur mendapat tempat terbaik dan mempertebal keimanan peziarah.
Dan setiap tahun pula Sari Ali akan dengan telaten meramu air bunga rampai.
Bunga rampai pusara adalah campuran berbagai jenis bunga wangi (seperti mawar, melati, kenanga) yang diracik dan ditaburkan di atas makam atau nisan.
Tradisi ini melambangkan penghormatan, perpisahan, doa, dan wewangian pengharum untuk mendiang. Sering digunakan dalam ziarah kubur, khususnya dalam budaya Melayu dan Nusantara.
"Ya, hampir setiap tahun. Jika badan ini masih kuat. Insyaallah buat air bunga rampai," ungkap Sari Ali ditemui Tribunpekanbaru.com tak jauh dari lokasi pusara, Rabu (11/2/2026).
Baginya, menyediakan air bunga rampai bukan hanya soal mendapatkan untung saja. Perempuan yang kini telah berusia 77 tahun itu mengaku, ada kebahagian ketiga bisa membantu orang lain.
"Kan tidak semua yang datang berziarah membawa air bunga rampai. Jadi saya sediakan," ujarnya.
Namun, air bunga rampai yang disediakan Sari Ali tidak gratis. Peziarah bisa mendapatnya dengan membayar Rp 5000 per kantong.
Harga itu sepadan dengan sebungkus air bunga rampai dalam plastik bening ukuran satu kilo. Dan didalamnya tentu saja air dengan ramuan berbagai bunga yang memiliki wangi yang tajam.
" Saya dari dulu jualnya harga segitu. Kadang ada yang memberi lebih ganti sedekah," ungkap Sari Ali.
Soal ramuan bunga air rampai, Sari Ali mengaku mendapatkannya di sekitaran rumah dan juga rumah tetangga. Selain itu di komplek pusara juga ada tumbuh bebungaan yang jadi pelengkap air bunga rampai.
Menurutnya didalamnya ada daun pandan, bunga melati, mawar dan tak lupa ia juga beri wewangian khusus yang berbau tajam.
"Ada sejenis parfum cair yang dimasukkan dalam air bunga rampai. Biar wanginya khas dan tahan lama," ungkapnya.
Bagi Sari Ali menjual air bunga rampai memang memberinya sedikit rezeki. Dengan bebungaan yang gratis tumbuh di halaman, dan modal plastik serta karet pembungkus ada untung yang ia peroleh.
Namun, saat ditanya berapa untung yang ia dapatkan, Sari Ali enggan memberkannya. Meski dengan perhitungan tadi ada untung yang ia dapat, Sari Ali tidak menghitungnya secara detil.
" Ya tidak dihitung berapa banyak dapat. Kalau rezeki pastilah . Namun, sara berserah saja. Karena hitung-hitung juga membantu orang,"ungkapnya.
Sudah puluhan tahun sejak ia tinggal dekat dengan komplek pusara, Sari Ali mengaku akan terus menyediakan air bunga rampai.
Menurutnya, setiap tahun membuat air bunga rampai, adakalanya ia juga kesulitan mendapatkan beberapa jenis bunga sebagai pelengkap ramuan. Tapi ia akan tetap mengusahakannya.
"Yang penting ada air bunga rampai. Minimal satup hari saya sediakan sekira 10 bungkuslah. Tapi gak habis semuanya. Masih bisa untuk besok" terang Sari Ali.
Ia akan berhenti menyediakan air bunga rampai sehari jelang puasa ramadan. Jadi selama berpuluh tahun saya jual air bunga rampai, tak menghitung untung. Ada rezaki Alhamdulillahm karena saya senang membantu peziarah" ujarnya
Lain pula cerita Sutan yang mengambil bagian di dalam area pusara. Ia sudah jadi orang kepercayaan warga sekitar untuk membersihkan pusara saat ramadan.
Sutan juga orang lama di lokasi pusara . Rumahnya bertetanggaan dengan komplek pusara di Jalan Aceh itu. Dan Sutan tentu sudah kenyang pengalaman.
Jika peziarah yang setiap tahun ke pusara, maka pasti tahu sosok Sutan. Tugasnya memang bersih-bersih pusara yang juga sejalan dengan kebijakan dengan pengurus RW disana.
"Membersihkan pusara dilakukan jauh-jauh hari sebelum masuk pertengahan akan ramadan. Karena mengantisipasi peziarah yang datang," ungkapnya.
Sutan sangat telaten. Area kuburan seluas lebih kurang 30 meter kali 50 meter itu ia bersihkan dengan membuatnya lebih terang. Pohon tinggi ia tebang, rerumputan ilalang ia bersihkan.
Jadi, ketika peziarah datang, sudah tidak sulit lagi mencari lokasi pusara keluarganya. Dan itulah tujuan utama Sutan. Baginya, ketika peziarah datang tak sulit lagi menentukan dimana keluarganya dikebumikan.
"Kalau tak terang, kuburan tak nampak. Jadi ada yang lupa tempatnya, maka makin sulit. Jadi kalau jelas yang dipandang, tentu memudahkan," ujarnya.
Untuk jasanya itu, Sutan mengaku menyerahkan ke peziarah berapa yang diberikan. Uang itu juga ia catat dan masuk dalam sosial kematian.
" Ada juga yang memberi lebih. Kadang dikasih 50 ribu, kadang lebih,"ungkapnya.
Uang itu menurut Sutan bukan untuk dirinya semata. Namun, tugas bersih-bersih itu juga bagian dari kebijakan program sosial kematian di RW setempat.
" Ya penting diberi ikhlas. Berapa pun itu saya terima," ujar Sutan.
Sosok Sutan tak hanya dikenal sebagai pembersih pusara. Namun, ia juga dipercaya mencarikan lahan jika ada warga yang meninggal dan dikuburkan di lokasi tersebut.
Karena tidak semuanya tahu dimana lahan yang masih kosong diantara padatnya pusara di lokasi itu.
Sutan adalah orang yang paham dan tahu, dimana harus menggali. Dimana tidak ada kuburan lain yang bisa saja tanpa sengaja tergali.
"Ya, karena saya sudah biasa dilokasi ini. Jadi setiap jengkalnya saya lihat dan jadi tahu dimana lahan yang masih bisa digali,"ungkap Sutan.
Dan rezeki yang ia dapatkan dari kegiatan sosial itu sedikit banyaknya disyukuri Sutan. Baginya setiap tahun ketika jelang Ramadan, adalah bernilai ibadah ketika ia bersih-bersih kuburan.
Sari Ali dan Sutan merupakan potret dari momen Ramadan. "Mereka" muncul ketika peziarah yang melepaskan kerinduan pada keluarga yang telah mendahului di komplek pusara.
Bukan hanya soal air bunga rampai dan bersih-bersih pusara. Namun, tentu juga soal membuat orang lain dimudahkan untuk menyongsong bulan Ramadan penuh ampunan. (Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat)