Arti Blaming dalam Hubungan Romantis, Bentuk, Contoh, Penyebab, Dampak, Cara Mengatasi
Nolpitos Hendri February 12, 2026 10:29 PM

Baca juga: Arti Kata Blaming, Blaming Artinya, Ciri-ciri, Jenis-jenis, Contoh, Penyebab, Dampak, Cara Mengatasi

Baca juga: Arti Blaming dalam Bahasa Gaul dan Arti Blaming dalam Bahasa Melayu Riau serta Contoh Kalimat

Kata atau istilah blaming ini sudah sering digunakan kaula muda dalam bahasa formal dan bahasa pergaulan di Riau, baik di media sosial maupun di dunia nyata.

Bagi para kaula muda Pekanbaru atau kaula muda Riau umumnya yang ingin menggunakan kata ini sebagai bahasa dalam pergaulan, simak penjelasannya agar paham artinya dan lawan bicara tidak salah paham.

Secara bahasa atau secara harfiah, blaming merupakan kata kerja dalam bahasa Inggris, dan dalam bahasa Indonesia arti kata blaming atau blaming artinya adalah menyalahkan atau menuduh.

Secara istilah, arti kata blaming atau blaming artinya adalah tindakan menyalahkan orang lain atas kesalahan, masalah, atau kejadian buruk, daripada menerima tanggung jawab atas peran sendiri dalam situasi tersebut.

A. Arti Blaming dalam Hubungan Romantis

Secara bahasa, arti blaming dalam hubungan romantis adalah menyalahkan pasangan.

Secara istilah, arti blaming dalam hubungan romantis adalah pola perilaku ketika satu di antara pasangan atau kedua pasangan secara konsisten menyalahkan yang lain atas masalah, kesalahan, atau perasaan negatif yang mereka alami.

Ini merupakan cara yang tidak sehat untuk menghindari tanggung jawab pribadi, mengungkapkan ketidakpuasan, dan mengendalikan pasangan.

B. Bentuk Perilaku Blaming dalam Hubungan Romantis

Berikut bentuk perilaku blaming dalam hubungan romantis dan penjelasannya : 

1. Menyalahkan atas Perasaan Sendiri: Menyalahkan pasangan atas perasaan negatif yang Anda rasakan, seperti Kamu membuatku marah, atau Kamu membuatku merasa tidak aman.

2. Menyalahkan atas Masalah Hubungan: Menyalahkan pasangan atas semua masalah dalam hubungan, tanpa mengakui peran Anda sendiri, seperti Ini semua salahmu karena kamu tidak pernah mendengarkan, atau Hubungan ini hancur karena kamu tidak pernah berusaha.

3. Menyalahkan atas Kesalahan Masa Lalu: Terus-menerus mengungkit kesalahan masa lalu pasangan dan menyalahkannya atas masalah yang terjadi saat ini.

4. Menyalahkan atas Ketidaksempurnaan: Menyalahkan pasangan karena tidak memenuhi harapan atau standar yang tidak realistis.

5. Menyalahkan atas Perilaku Orang Lain: Menyalahkan pasangan atas perilaku orang lain, seperti Kamu membuat ibumu membenciku, atau Teman-temanmu tidak menyukaiku karena kamu.

6. Menyalahkan atas Keadaan: Menyalahkan pasangan atas keadaan eksternal yang di luar kendali mereka, seperti Kita tidak punya uang karena kamu tidak cukup bekerja keras.

7. Menyalahkan dengan Menyindir: Menyalahkan pasangan dengan cara yang halus atau tidak langsung, seperti menggunakan sarkasme atau komentar pasif-agresif.

C. Contoh Perilaku Blaming dalam Hubungan Romantis

Berikut contoh perilaku blaming dalam hubungan romantis dan penjelasannya dikategorikan berdasarkan situasinya :

1. Masalah Keuangan:
Situasi: Pasangan mengalami kesulitan keuangan.
Blaming: Ini semua salahmu karena kamu tidak bisa mengatur uang! Kalau saja kamu lebih hemat, kita tidak akan seperti ini sekarang! (Menyalahkan pasangan atas ketidakmampuan mengatur keuangan)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku merasa khawatir dengan kondisi keuangan kita saat ini. Bisakah kita duduk bersama dan mencari cara untuk mengelola pengeluaran kita dengan lebih baik?

2. Masalah Rumah Tangga:
Situasi: Rumah berantakan dan tidak terawat.
Blaming: Kamu tidak pernah membantuku membersihkan rumah! Kamu hanya bisa bermalas-malasan saja! (Menyalahkan pasangan atas kurangnya bantuan dalam pekerjaan rumah tangga)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku merasa kewalahan dengan pekerjaan rumah tangga. Bisakah kita membuat jadwal atau berbagi tugas agar pekerjaan rumah tangga terasa lebih ringan?

3. Masalah dengan Anak (Jika Ada):
Situasi: Anak mendapatkan nilai buruk di sekolah.
Blaming: Ini semua salahmu karena kamu tidak pernah mengawasi anak belajar! Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri! (Menyalahkan pasangan atas kurangnya perhatian terhadap anak)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku khawatir dengan nilai anak kita. Bisakah kita bekerja sama untuk mencari cara agar anak kita bisa belajar lebih efektif?

4. Masalah dengan Keluarga Pasangan:
Situasi: Anda merasa tidak nyaman dengan keluarga pasangan.
Blaming: Ini semua salah ibumu! Dia selalu ikut campur dalam urusan kita! (Menyalahkan keluarga pasangan atas ketidaknyamanan)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku merasa sedikit tidak nyaman dengan beberapa hal yang dilakukan oleh keluargamu. Bisakah kita membicarakannya agar aku bisa lebih memahami mereka dan merasa lebih nyaman?

5. Masalah dalam Komunikasi:
Situasi: Anda merasa pasangan tidak mendengarkan Anda.
Blaming: Kamu tidak pernah mendengarkanku! Kamu hanya peduli pada dirimu sendiri! (Menyalahkan pasangan atas kurangnya perhatian)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku merasa tidak didengarkan ketika aku berbicara denganmu. Bisakah kita mencoba untuk lebih fokus dan saling mendengarkan dengan lebih baik?

6. Masalah dalam Keintiman:
Situasi: Anda merasa kurang intim dengan pasangan.
Blaming: Ini semua salahmu karena kamu tidak pernah berusaha untuk membuatku merasa diinginkan! (Menyalahkan pasangan atas kurangnya keintiman)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku merasa kita kurang intim akhir-akhir ini. Bisakah kita membicarakan apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan keintiman kita?

7. Masalah dengan Waktu:
Situasi: Anda merasa pasangan tidak meluangkan cukup waktu untuk Anda.
Blaming: Kamu tidak pernah punya waktu untukku! Kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu! (Menyalahkan pasangan atas kurangnya waktu bersama)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku merasa kesepian karena kita jarang menghabiskan waktu bersama. Bisakah kita mencoba untuk menjadwalkan waktu khusus untuk kita berdua?

8. Masalah dengan Perbedaan Pendapat:
Situasi: Anda dan pasangan memiliki perbedaan pendapat yang seringkali berujung pada pertengkaran.
Blaming: Kamu selalu keras kepala! Kamu tidak pernah mau mendengarkan pendapatku! (Menyalahkan pasangan atas perbedaan pendapat)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku merasa frustrasi ketika kita tidak bisa menemukan titik temu. Bisakah kita mencoba untuk lebih terbuka terhadap sudut pandang satu sama lain dan mencari solusi yang saling menguntungkan?

9. Masalah dengan Tujuan Hidup:
Situasi: Anda dan pasangan memiliki tujuan hidup yang berbeda.
Blaming: Ini semua salahmu karena kamu tidak pernah mendukung impianku! (Menyalahkan pasangan atas kurangnya dukungan terhadap tujuan hidup)
Alternatif Komunikasi yang Lebih Sehat: Aku merasa khawatir karena kita memiliki tujuan hidup yang berbeda. Bisakah kita membicarakan bagaimana kita bisa saling mendukung meskipun kita memiliki jalan yang berbeda?

Catatan : 

- Fokus pada Perilaku, Bukan Karakter: Hindari menyerang karakter pasangan Anda. Fokuslah pada perilaku spesifik yang membuat Anda tidak nyaman.

- Gunakan Pernyataan Saya: Ekspresikan perasaan dan kebutuhan Anda dengan menggunakan pernyataan saya daripada menuduh pasangan.

- Dengarkan dengan Empati: Cobalah untuk memahami perspektif pasangan Anda.

- Cari Solusi Bersama: Bekerja samalah untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan.

Dengan mengubah cara Anda berkomunikasi dan berinteraksi dengan pasangan, Anda dapat mengurangi perilaku blaming dan membangun hubungan yang lebih sehat dan bahagia.

D. Penyebab Blaming dalam Hubungan Romantis

Berikut penyebab blaming dalam hubungan romantis : 

1. Menghindari Tanggung Jawab: Menyalahkan adalah cara untuk menghindari mengakui kesalahan atau kekurangan sendiri.

2. Melindungi Harga Diri: Menyalahkan dapat membantu melindungi harga diri dan citra diri seseorang.

3. Mengendalikan Pasangan: Menyalahkan dapat digunakan sebagai cara untuk mengendalikan pasangan dan membuat mereka merasa bersalah atau tidak berdaya.

4. Mengungkapkan Ketidakpuasan: Menyalahkan dapat menjadi cara untuk mengungkapkan ketidakpuasan dan frustrasi dalam hubungan, meskipun dengan cara yang tidak sehat.

5. Pola Perilaku yang Dipelajari: Blaming dapat menjadi pola perilaku yang dipelajari dari orang tua atau hubungan sebelumnya.

6. Kurangnya Keterampilan Komunikasi: Kurangnya keterampilan komunikasi yang efektif dapat membuat seseorang kesulitan untuk mengekspresikan perasaan mereka secara jujur dan terbuka, sehingga mereka beralih ke menyalahkan.

7. Rasa Tidak Aman (Insecurity): Perasaan tidak aman dan takut kehilangan pasangan dapat memicu perilaku blaming.

E. Dampak Negatif Blaming dalam Hubungan Romantis

Berikut dampak negatif blaming dalam hubungan romantis dan penjelasannya : 

1. Merusak Komunikasi: Blaming menghambat komunikasi yang jujur dan terbuka, menciptakan kesalahpahaman dan jarak emosional.

2. Meningkatkan Konflik: Blaming memicu pertengkaran dan konflik yang lebih sering dan intens.

3. Merusak Kepercayaan: Blaming merusak kepercayaan dan membuat pasangan merasa tidak aman dan tidak dihargai.

4. Menurunkan Harga Diri: Blaming dapat menurunkan harga diri pasangan yang terus-menerus disalahkan.

5. Menciptakan Lingkungan yang Negatif: Blaming menciptakan lingkungan yang negatif dan tidak sehat dalam hubungan.

6. Memicu Perilaku Defensif: Blaming memicu perilaku defensif pada pasangan yang disalahkan, yang semakin memperburuk masalah.

7. Menjauhkan Pasangan: Blaming dapat membuat pasangan merasa tidak dicintai, tidak dihargai, dan ingin menjauh dari hubungan.

8. Menyebabkan Berakhirnya Hubungan: Jika blaming tidak diatasi, hal itu dapat menyebabkan berakhirnya hubungan.

F. Cara Mengatasi Perilaku Blaming dalam Hubungan Romantis

Mengatasi perilaku blaming atau menyalahkan dalam hubungan romantis membutuhkan kesadaran diri, komitmen untuk berubah, dan kerjasama dari kedua belah pihak.

Berikut cara mengatasi perilaku blaming dalam hubungan romantis dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah perilaku blaming :

1. Kesadaran Diri dan Pengakuan Masalah:

- Identifikasi Perilaku Blaming: Sadari kapan Anda atau pasangan Anda bersikap menyalahkan. Perhatikan pola-pola tertentu, seperti situasi atau topik apa yang sering memicu perilaku tersebut.

- Akui Adanya Masalah: Jujur pada diri sendiri dan pasangan bahwa blaming adalah masalah yang merusak hubungan. Tanpa pengakuan ini, sulit untuk memulai perubahan.

- Introspeksi Diri: Cobalah untuk memahami mengapa Anda atau pasangan Anda bersikap menyalahkan. Apakah ada rasa tidak aman, trauma masa lalu, atau ketidakmampuan untuk mengelola emosi?

2. Komunikasi yang Efektif:

- Bicarakan dengan Jujur dan Terbuka: Bicarakan tentang perasaan Anda dan dampak blaming terhadap hubungan. Gunakan bahasa yang lembut dan hindari menyalahkan balik.

- Gunakan Pernyataan Saya (I-Statements): Fokus pada perasaan dan pengalaman Anda sendiri daripada menuduh pasangan.

Contoh: Saya merasa sedih dan tidak dihargai ketika kamu mengatakan... alih-alih Kamu selalu membuatku merasa tidak dihargai!

- Dengarkan dengan Empati: Dengarkan perspektif pasangan Anda tanpa menghakimi atau menyela. Cobalah untuk memahami apa yang mereka rasakan dan mengapa mereka bertindak seperti itu.

- Validasi Perasaan: Akui dan validasi perasaan pasangan Anda, bahkan jika Anda tidak setuju dengan mereka.

Contoh: Aku mengerti mengapa kamu merasa marah.

- Hindari Menyalahkan Balik: Ketika pasangan Anda mengungkapkan perasaannya, hindari untuk bersikap defensif atau menyalahkan balik. Fokuslah untuk mendengarkan dan memahami.

- Tetapkan Batasan: Tetapkan batasan yang jelas mengenai perilaku yang tidak dapat diterima.

Contoh: Kita tidak akan saling berteriak atau menggunakan kata-kata kasar.

3. Mengelola Emosi:

- Identifikasi Pemicu Emosi: Perhatikan situasi atau topik apa yang cenderung memicu emosi negatif Anda.

- Kembangkan Strategi Koping yang Sehat: Temukan cara-cara yang sehat untuk mengelola emosi negatif, seperti berolahraga, bermeditasi, menulis jurnal, atau berbicara dengan teman.

- Berikan Diri Anda Waktu: Jika Anda merasa marah atau frustrasi, berikan diri Anda waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan percakapan.

- Hindari Reaksi Impulsif: Sebelum merespons, tarik napas dalam-dalam dan pikirkan baik-baik apa yang ingin Anda katakan.

4. Mengambil Tanggung Jawab:

- Akui Kesalahan: Bersedia untuk mengakui kesalahan Anda dan meminta maaf dengan tulus.

- Bertanggung Jawab atas Tindakan: Bertanggung jawab atas dampak tindakan Anda terhadap pasangan Anda.

- Hindari Mencari Alasan: Jangan mencari alasan atau pembenaran untuk perilaku blaming Anda.

- Fokus pada Perbaikan: Fokus pada apa yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki situasi dan mencegah perilaku blaming di masa depan.

5. Membangun Kepercayaan:

- Konsisten: Tunjukkan konsistensi dalam tindakan dan perkataan Anda.

- Jujur: Bersikap jujur dan terbuka dengan pasangan Anda.

- Dapat Diandalkan: Penuhi janji Anda dan tunjukkan bahwa Anda dapat diandalkan.

- Dukung: Dukung pasangan Anda dalam mencapai tujuan mereka.

- Hargai: Tunjukkan penghargaan dan rasa terima kasih atas apa yang dilakukan pasangan Anda.

6. Fokus pada Solusi:

- Identifikasi Masalah Utama: Fokus pada masalah mendasar yang memicu perilaku blaming.

- Cari Solusi Bersama: Bekerja sama untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan.

- Kompromi: Bersedia untuk berkompromi dan membuat konsesi.

- Fokus pada Masa Depan: Alihkan fokus dari masa lalu ke masa depan dan bagaimana Anda dapat membangun hubungan yang lebih baik.

7. Mencari Bantuan Profesional:

- Terapi Pasangan: Jika Anda kesulitan mengatasi perilaku blaming sendiri, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari terapis pasangan. Terapis dapat membantu Anda dan pasangan Anda untuk meningkatkan komunikasi, membangun kepercayaan, dan mengembangkan strategi koping yang lebih sehat.

- Terapi Individu: Jika perilaku blaming disebabkan oleh masalah pribadi, seperti trauma masa lalu atau harga diri rendah, terapi individu dapat membantu Anda untuk mengatasi masalah tersebut.

Tips Tambahan:

- Bersabar: Mengatasi perilaku blaming membutuhkan waktu dan usaha. Jangan berkecil hati jika Anda mengalami kemunduran.

- Berikan Dukungan: Saling memberikan dukungan dan dorongan selama proses perubahan.

- Rayakan Keberhasilan: Rayakan keberhasilan kecil yang Anda capai di sepanjang jalan.

- Fokus pada Cinta dan Kasih Sayang: Ingatlah mengapa Anda saling mencintai dan fokus pada membangun hubungan yang penuh kasih sayang.

Sumber: tribunpekabaru.com, kbbi.web.id, kbbi.co.id, yourdictionary.com, Kamus Bahasa Indonesia - Bahasa Melayu Riau

Demikian penjelasan tentang arti blaming dalam hubungan romantis dan bentuk perilaku blaming dalam hubungan romantis serta contoh perilaku blaming dalam hubungan romantis hingga penyebab blaming dalam hubungan romantis dan dampak negatif blaming dalam hubungan romantis termasuk cara mengatasi perilaku blaming dalam hubungan romantis .

( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.