TRIBUN-MEDAN.com - Mohamad Sobary alias M Sobari seorang budayaan membantah sebagai loyalis Jokowi.
M Sobari merupakan ahli yang dihadirkan Roy Suryo dalam kasus tudingan ijazah palsu Jokowi, Kamis (12/2/2026).
Adapun dua ahli lain yang didatangkan adalah Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno dan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.
Salah satu hal yang jadi sorotan dari M Sobary adalah perubahan sikapnya, dari yang dulu pernah menjadi pendukung Jokowi kini berbalik mendukung Roy Suryo cs.
Sebelum memberikan keterangan kepada penyidik, M Sobary mewanti-wanti bahwa dirinya tidak mau dipanggil Termul, karena itu sama sekali tidak benar.
"Jangan ada yang menulis kata Termul untuk saya. Itu sangat tidak menggambarkan kebenaran," kata M Sobary kepada wartawan.
Pria berusia 73 tahun yang akrab disapa Kang Sobary itu mengakui, dulu dia memang mendukung Jokowi.
Alasannya adalah semata karena idealismenya sebagai ilmuwan.
"Saya seorang ilmuwan yang mendukung Jokowi, itu karena idealisme. Idealisme saya dan berjuta-juta kaum ilmuwan mendukung," terang M Sobary.
Baca juga: Perkuat Kualitas Reformasi Hukum, Kemenkum Sumut Matangkan Penggunaan Aplikasi IRH Bersama BPHN
Baca juga: SAKSI Sebut Terdakwa Pemerasan Gatot Widiartono Sempat Beri Rp 1 Miliar ke Orang yang Ngaku dari KPK
Namun, M Sobary mengakui, dirinya bersama para ilmuwan yang mendukung Jokowi tertipu.
Menurutnya, idealisme para ilmuwan serta citra Jokowi sebagai orang yang sederhana, bersih, dan tidak korupsi, ternyata tak sesuai kenyataan.
Kini, setelah menyadari dan merasa sudah ditipu, M Sobary mengaku tidak lagi memberi dukungan kepada Mantan Wali Kota Solo yang juga ayah Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka tersebut.
"Tapi berjuta-juta itu kan tertipu ya. Biasa saja kita tertipu itu, enggak apa-apa. Ketika tertipu, kita tidak lagi mendukung," ucap M Sobary.
"Idealisme kita itu tidak bisa dijalankan oleh dia, gagasan-gagasan dari dia. Bahwa dia itu orang kampung, bahwa dia itu orang kelas bawah, bahwa dia itu tidak korup, itu ternyata tidak bisa dipanggul."
M Sobary kembali menegaskan dirinya bukan bagian dari Termul.
Sebab, kata dia, Termul adalah pendukung Jokowi yang dibayar, sedangkan dirinya mendukung Jokowi sama sekali tidak pernah mendapat bayaran.
"Jadi, saya tidak pernah menjadi termul, karena termul itu kan orang bayaran toh," tutur M Sobary.
"Loh masa aku dibayar? Ya edan tho. Nggak, nggak benar dibayar, pelihara. Para ilmuwan itu semuanya tidak ada yang mendapat uang rokok. Rokok saja enggak dapat."
Beri Penjelasan Soal Metodologi Penelitian
"Saya hadir di sini sebagai orang yang akan menjelaskan dunia keilmuan dalam bidang kebudayaan. Nah, yang dijelaskan itu metodologi penelitian," ucap M Sobary.
Ia mengatakan, dirinya akan menjelaskan mengenai proses penelitian, mulai dari datangnya inspirasi meneliti, merumuskan proposal, hingga merumuskan instrumen penelitian.
"Jadi secara keilmuan saya akan pertanggungjawabkan yang dilakukan ini tidak ada sesuatu apa pun, sekecil apa pun yang menyimpang dari kaidah-kaidah keilmuan," tutur M Sobary.
M Sobary mengatakan, dirinya juga akan menjelaskan peran Trio RRT, yakni pakar telematika Roy Suryo, Tifauziah Tyassuma alias Dokter Tifa, dan ahli digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar.
Menurut peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini, Trio RRT adalah tiga sosok yang berani menyatakan kebenaran meski penuh dengan risiko.
"Saya merasa perlu harus menjelaskan peran ketiga orang itu. Ketiga orang ini mewakili komunitas bisu dunia ilmu pengetahuan, komunitas bisu kaum intelektual, komunitas bisu warga masyarakat pada umumnya, dalam urusan menyatakan kebenaran dengan segenap risiko, tidak terlalu banyak orang berani. Tapi, tiga orang ini berani," kata pria kelahiran Bantul, Yogyakarta, 7 Agustus 1952.
Kata M Sobary, Trio RRT sedang menjalankan peran kaum intelektual untuk menyampaikan risalah ilmiah, yang mana menurutnya bisa saja didebat.
"Nah, kalau Anda mau mendebat, debatlah pada wilayah yang namanya dunia ilmu yang tadi saya gambarkan, dari wawancara tingkat pertama sampai akhir, aneka macam instrumen penelitian dipakai, sampai penulisan buku, itu wilayah mereka, itu wilayah bebas perdebatan," pungkasnya.
Pernah Sebut Jokowi Penerus Bung Karno
M Sobary pernah didaulat untuk naik ke panggung di alun Alun Utara Yogyakarta, Selasa (24/6/2014) untuk berorasi dalam acara "Kirab Budaya dan Deklarasi Jogja Istimewa untuk Jokowi-JK”.
Ketika itu, dia mengatakan Jokowi tidak pura-pura menjadi Bung Karno, melainkan menjadi dirinya sendiri.
"Dia tidak meniru orang lain. Dia jadi dirinya sendiri dan tidak pura-pura jadi Bung Karno," kata M Sobary saat berorasi.
Dia mengungkapkan Jokowi adalah pemimpin yang lahir dari rakyat dan tidak pernah berbohong pada rakyat. Menurutnya, hampir 500 tahun sekali ada pemimpin seperti Jokowi.
Di kesempatan itu, sejumlah tokoh seniman seperti Bramantyo Priyo Susilo dan pelukis Djoko Pekik juga berorasi di panggung. Seniman musik seperti Sri Krishna Encik dan Marjuki atau Juki Kill the DJ dari Jogja Hip Hop Foundation turut memeriahkan acara.
Selain itu, M Sobary pernah menyebut Jokowi sebagai penerus Soekarno alias Bung Karno, Presiden Pertama RI.
Berdasarkan cuplikan video di @cokroTv, M Sobary berkata:
“Kami tidak pandai kerja, Bung Karno punya itu keluhan macam itu. Itu dipidatokan namanya Revolusi Mental dibacakan hanya satu kali dan sesudah itu tidak pernah terulang. Karena itu dalam masa pendek sesudah itu tahun 57 beliau ya tidak pendek pokoknya Revolusi Mental dibacakan pertama kali dibacakan. Dibacakan hanya satu kali pada tahun 57 dan sebagai gagasan itu masih merupakan gagasan. Datanglah Presiden Jokowi menemukan pidato itu dan menganggap itu gagasan. Itu kebijakan pemerintah dan kebijakan itu diteruskan oleh Pak Jokowi.”
(*/tribun-medan.com)