Laporan Wartawan Tribungayo.com Bustami | Bener Meriah
TribunGayo.com, REDELONG - Intensitas gempa tektonik berkekuatan kecil hingga sedang tercatat terjadi hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhir di wilayah Kabupaten Bener Meriah.
Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran serius akan stabilitas lereng pegunungan apalagi Gunung berapi Burni Telong masih bertahan distatus Level II (Waspada).
Namun, di tengah guncangan alam yang tak terelakkan ini, aktivitas galian C di bawah kaki gunung masih saja terjadi.
Menanggapi fenomena ini, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Salwani memberikan sorotan tajam, tidak hanya pada aktivitas sesar aktif.
Akan tetapi juga pada dampak lingkungan akibat maraknya aktivitas galian C yang berada tepat di bawah kaki gunung berapi yang saat ini masih berstatus Level II (Waspada).
"Saat ini rakyat di Bener Meriah sedang cemas. Gempa terjadi hampir setiap hari, dan di saat yang sama, alat berat terus mengeruk kaki gunung. Ini kombinasi yang berbahaya," ujar Salwani kepada TribunGayo.com, Jumat (13/2/2026).
Salwani menilai bahwa meskipun gempa bumi adalah fenomena tektonik murni, tapi kerusakan ekosistem akibat penambangan pasir, batu, dan tanah (galian C) dapat memperparah dampak bencana bagi masyarakat.
Izin Galian C tidak boleh hanya mementingkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) atau kebutuhan material proyek fisik semata, tanpa memikirkan mitigasi bencana jangka panjang.
"Jangan sampai kita sibuk membangun gedung dengan material galian C, tapi tanah tempat gedung itu berdiri justru kita hancurkan sendiri. Alam Bener Meriah sudah memberi peringatan melalui getaran harian ini," tegasnya.
Menurut Salwani, ada beberapa poin krusial yang menjadi landasan desakan pemberhentian ataupun penutupan galian C di bawah kaki gunung.
Dimana getaran gempa tektonik yang terus-menerus, jika dibarengi dengan pengerukan tanah secara masif, dikhawatirkan akan memicu tanah longsor skala besar.
"Lalu aktivitas alat berat dan peledakan (jika ada) di area sensitif vulkanik dikhawatirkan dapat mengganggu kestabilan kantong magma atau jalur gas di bawah permukaan," ujarnya.
Selain itu, lokasi galian yang berdekatan dengan pemukiman membuat warga berada dalam ancaman ganda: guncangan gempa dan risiko tertimbun material tambang.
Maka anggota DPR Aceh Dapil Bener Meriah Aceh Tengah ini meminta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta aparat penegak hukum untuk segera turun ke lapangan.
"Kami meminta izin-izin Galian C di zona merah tersebut dievaluasi total. Jika perlu, tutup permanen. Jangan sampai kita menunggu bencana besar terjadi baru sibuk mencari siapa yang salah," terangnya.
Salwani juga berharap para pelaku usaha galian C agar memiliki kesadaran kolektif mencari lokasi galian c lain di luar kawasan kaki Gunung Burni Telong.
"Masyarakat kita disekitar Gunung kini sekarang hidup dalam ketakutan, jadi mari kita jaga bersama keindahan dan keamanan gunung burni telong," harapnya.
Selanjutanya juga warga yang berada di sekitar kaki gunung diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama saat merasakan getaran gempa yang cukup kuat.
"Kita tidak boleh menunggu bencana terjadi. Dengan kondisi Merapi yang masih Level II dan gempa tektonik yang rutin terjadi, menghentikan galian C adalah langkah mitigasi yang paling logis saat ini," pungkasnya.(*)
Baca juga: Aktivitas Vulkanik Gunung Burni Telong Meningkat Pasca Gempa 4,1