TRIBUNNEWSSULTRA.COM, BAUBAU - Kondisi sejumlah ruangan tidak layak pakai di SD Negeri 2 Topa, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Saat jurnalis TribunnewsSultra.com berkunjung Sabtu(14/2/2026), empat ruang kelas terlihat rusak.
Dua diantaranya dalam kondisi rusak pada bagian atap.
Sementara dua ruangan lainnya tidak hanya atap alami kerusakan, namun dinding retak.
Jika dilihat dari luar pagar, kondisi plafon ruangan sangat memprihatinkan, pasalnya hampir seluruh bagian plafon dan ventilasi terlihat rusak.
Satu bangunan yang terdiri dari dua kelas tampak retak dengan tulisan di dinding “ruangan ini sudah tidak layak digunakan,”
Plafon tampak bolong-bolong, sayangnya gedung tersebut terpaksa masih digunakan untuk proses belajar mengajar.
Sekolah ini miliki lahan tidak luas. Hanya terdapat 6 ruangan belajar dengan jumlah yang sama dengan rombongan belajar.
Total siswa 45 orang untuk kelas 1 sampai kelas 6.
Baca juga: Tim Labfor Polda Sulsel Olah TKP Kebakaran 13 Bangunan di Jalan Bunggasi Kendari Sulawesi Tenggara
Kepala Sekolah SDN 2 Topa, La Aruwaa mengatakan kerusakan mulai bagian atap yang sudah bocor.
“Mulai dari atap yang sudah bocor, mempengaruhi rusaknya plafon, kemudian dinding sudah banyak yang retak,” ujarnya saat diwawancarai, Sabtu(14/2/2026).
Kata dia, permasalahan tersebut tidak bisa ditangani sendiri oleh pihaknya, pasalnya tidak memiliki dana untuk perbaikan secara keseluruhan.
Ia membeberkan di tahun 2025 pihaknya menerima bantuan perbaikan atap dan pagar.
Namun, dirinya menolak perbaikan atap dengan alasan seharusnya perbaikan total mengingat gedung yang sudah mulai rapuh.
“2025 dapat untuk perbaikan pagar dan atap, tapi perbaikan less plat atap saya tolak untuk tidak di perbaiki, karena tahun berikutnya bangunan itu tidak akan dianggarkan lagi untuk perbaikan, dan itu bukan (atap) yang diperbaiki, yang seharusnya dilakukan rehabilitasi total. Harus dari fondasi, lantai, dinding hingga ke atap,” tegasnya.
Kini tenaga pengajar yang bertugas, tidak hanya melakukan tugas mengajar namun was-was sebab sewaktu-waktu gedung tersebut dapat roboh.
“Saya meminta kepada pemangku kebijakan supaya untuk peningkatan kualitas pendidikan khususnya SDN 2 Topa untuk diperhatikan lebih bagus lagi, penataan fasilitas sarana dan prasarananya,” tutupnya.
Berdasarkan penelusuran, warga sempat melakukan aksi protes dan viral di sosial media.
Hal ini kemudian ramai menjadi perbincangan, pasalnya sekolah SDN 2 Topa terletak tidak jauh dari pusat kota.
Tak hanya itu, fasilitas dan infrastruktur yang juga kurang memadai.
Pada tahun ajaran baru ini, juga jumlah siswa yang mendaftar saat penerimaan siswa baru sedikit. (*)
(TribunnewsSultra.com/Harni Sumatan)